Sabtu, 2 Mei 2026

Unggah Video Perlawanan, Romo Sandyawan Diserang Lewat Medsos

Rupanya, video yang diunggah di YouTube menjadi pemicu untuk menyerang Romo Sandyawan secara massif.

Tayang:

WARTA KOTA, PALMERAH -- Kebijakan yang dinilai membabi buta, maka rakyat akan membuat perhitungan.

Kata-kata itu disampaikan secara lugas oleh Romo Sandyawan, yang melakukan advokasi terhadap warga Bukit Duri, yang digusur oleh Gubernur DKI Jakarta, Basuki Tjahaja Purnama (Ahok).

Rupanya, video yang diunggah di YouTube menjadi pemicu untuk menyerang Romo Sandyawan secara massif oleh sejumlah netizen lewat media sosial (medsos) karena kritik pedas yang disampaikan tokoh, yang sangat dikenal ketika awal reformasi untuk melawan kekuasaan Orde Baru, Romo Sandyawan.

Video yang diunggah sudah mendapatkan perhatian publik dan secara tegas, dengan artikulasi yang jelas, Romo Sandyawan menyampaikan perlawanan terhadap penggusuran yang dilakukan oleh Basuki Tjahaja Purnama di Bukit Duri.

Sebagian orang yang menyerang Romo Sandyawan adalah mereka yang tidak mengenal Romo Sandyawan, tapi berupaya meneror dia di media sosial dengan kata-kata yang penuh kebencian, meski teror itu tidak akan mempan untuk menghentikan perlawanan Romo Sandyawan.

"Saya merasakan sekali kehancuran kehidupan masyarakat, bagaimana mungkin rumah-rumah di pulau reklamasi, yang sama-sama rumah-rumah tidak punya IMB, tapi pulau reklamasi itu raperdanya belum selesai, tidak digusur," katanya.



Reklamasi sendiri sudah dipastikan menjadi skandal korupsi terbesar karena Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) menangkap sejumlah orang dalam Operasi Tangkap Tangan (OTT).

Kasus korupsi reklamasi juga masih dalam proses penyidikan oleh KPK.

Romo Sandyawan memang selalu membela kaum tertindas.

"Kalau kebiasaan berbohong dan mengubah kebijakan sesuai selera dengan keyakinan sendiri, tanpa pernah mendengarkan aspirasi rakyat dan berjalan membabi buta di dalam kekuasaan ini, rakyat akan membuat perhitungan," kata dia.

Di bagian lainnya, Romo Sandyawan menyampaikan pendapat terkait dengan Pemilukada DKI Jakarta.

"Buat saya, pertanyaan siapa alternatif gubernur, tidak relevan, coba berpolitik itu adalah tentang kemanusiaan yang mengurus rakyat sederhana bukan sekadar politik artifisial, politik pilkada, politik tawar menawar, dagang sapi, berebutan uang dan kekuasaan," katanya.

Sumber: WartaKota
Ikuti kami di

Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved