Penggusuran Bukit Duri Sempat Jadi Trending Topic

Bukit Duri masih untung tidak ribut, lagian tak ada gunanya juga melawan, sekarang itu, yang paling penting doa.

Penggusuran Bukit Duri Sempat Jadi Trending Topic
Warta Kota
Bukit Duri 

WARTA KOTA, TEBET -- Penggusuran permukiman warga Bukit Duri, Tebet, Jakarta Selatan yang dilakukan oleh Pemerintah Kotamadya Jakarta Selatan sejak Rabu (28/9/2016) pagi terbukti menyita perhatian netizen.

Terpantau sejak Selasa (27/9/2016) kemarin malam, hastag #SaveBukitDuri menjadi trending topic di Twitter hingga Rabu (28/9/2016) sore.

Tercatat lebih dari 5.000 kicauan netizen menanggapi proses penggusuran yang dilakukan dengan penjagaan penuh oleh aparat Kepolisian, bahkan Kapolda Metro Jaya, Irjen M Iriawan turut hadir memantau perkembangan. Kicauannya pun beragam, ada yang menentang keras keputusan penggusuran atau sebaliknya, memberikan dukungan.

Tanggapan kontra seperti yang disampaikan oleh @MbahUyok yang menuliskan 'Selamat pagi pak @Jokowi sembari menikmati kopi pg & lht berita penggusuran Bukit Duri... Ingat Ini? #SaveBukitDuri' yang ditautkan video rekaman kampanye Joko Widodo, kala menjadi Calon Gubernur DKI Jakarta pada tahun 2012 silam.

Dalam video berdurasi 02.05 menit itu, terekam Jokowi - sapaan Joko Widodo menyampaikan pengalamannya yang pernah menjadi korban penggusuran pada tahun 70an. Kala itu, Jokowi yang masih anak-anak beserta keluarga diusir paksa dari rumahnya yang berada di bantaran kali di kampung halamannya Solo, Jawa Tengah.

Dalam menit awal video tersebut, Jokowi yang terlihat mengenakan baju kotak-kotak khas PDI Perjuangan itu bercerita jika peristiwa tersebut sangat memukul dirinya dan masih membekas diingatannya hingga kini. Karena usai diusir dari rumah, keluarganya harus kembali tinggal di bantaran kali kembali.

'Saya masih ingat betul, saya masih SD waktu itu, jadi kami punya tempat tinggal, kemudian digusur, tahun 70-an itu. Tidak mendapatkan ganti rugi, hanya mendapatkan tanah yang juga dibantaran lagi, tetapi di tempat yang lain. Dan itu membekas di ingatan saya, bahwa yang namanya tergusur itu sangat sakit sekali' ucap Jokowi dalam video tersebut.

Dalam video tersebut juga terekam seorang ibu korban penggusuran Rawajati, Pancoran, Jakarta Selatan pada Kamis (1/9). Sang ibu yang diwawancarai di tengah reruntuhan bangunan itu mengeluh tentang janji Jokowi untuk membangun Kampung Deret, bukan penggusuran seperti yang terjadi.

Selain tanggapan kontra, dukungan penggusuran pun disampaikan oleh sejumlah netizen diantaranya @wrahardian yang menyampaikan 'warga seputaran Bukit Duri amat mendukung pembongkaran rumah warga agar tertib nyaman, warga juga dpt hidup lbh baik'.

Tidak hanya di dunia maya, antusiasme masyarakat terkait penggusuran permukiman warga Bukit Duri pun terlihat selama proses penggusuran. Ratusan orang silih berganti menyaksikan proses pembongkaran rumah-rumah warga, termasuk warga Kampung Pulo yang menonton dari seberang Kali Ciliwung.

Seperti Dian (42) misalnya. Warga Kampung Pulo, Jatinegara, Jakarta Timur itu mengaku mengingat kembali pengalaman pahit saat kediamannya dibongkar dulu.

Walau begitu, dirinya mengaku kini memiliki hidup yang lebih baik saat dirinya tinggal di Rusun Jatinegara, tidak jauh dari rumahnya dulu.

"Memang sedih, saya juga begitu. Malahan bukan sekarang aja, setiap saya baca berita gusuran, saya jadi ingat gimana dulu, ribut sama Satpol PP dan polisi, banyak anak-anak yang jadi korban juga. Bukit Duri masih untung nggak ribut, lagian nggak ada gunanya juga ngelawan, sekarang itu yang paling penting doa," ungkapnya.

Ucapan Dian rupanya dibenarkan oleh Tuti (42) warga Bukit Duri. Dirinya mengaku pasrah dan ikhlas atas peristiwa yang menimpa dirinya sekeluarga. Bersama beberapa kaum ibu, dirinya maupun warga hanya dapat berdoa agar Basuki Tjahaja Purnama alias Ahok tidak kembali menjadi Gubernur DKI Jakarta pada periode mendatang.

"Doa orang yang terzolimi adalah doa yang paling ampuh. Perlawanan sudah, sekarang doa. Kita semua minta supaya Ahok nggak lagi jadi Gubernur tahun depan, kita mau pemimpin yang adil, bukan zhalim, pemimpin yang bisa bikin warganya tenang, bukan malah diusir," tutupnya singkat.

Penertiban yang berjalan lebih dari delapan jam, terhitung sejak pukul 08.00 WIB hingga pukul 16.00 WIB terlihat rampung. Puluhan rumah permanen milik warga yang semula kokoh berdiri di sepanjang bantaran Kali Ciliwung kini rata dengan tanah, warga Bukit Duri yang semula melawan satu per satu meninggalkan lokasi diikuti ratusan aparat yang mengamankan jalannya penggusuran.

Penulis: Dwi Rizki
Editor: Gede Moenanto
Sumber: Warta Kota
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved