Sabtu, 11 April 2026

Krisis Ekonomi Memaksa Midin Jadi Pengusaha UMKM di Tangsel

Pembelinya datang dari Depok dan Serpong. Sebagian besar warga Desa Sengkol, Kecamatan Setu, Kota Tangerang Selatan membuka usaha sama.

christina iddha maydita
Sartiah atau akrab disapa Midin merupakan salah seorang pengusaha UMKM di Kecamatan Setu, Kota Tangerag Selatan. Midin memproduksi keripik singkong dan keripik pisang. 

Laporan Wartawan Wartakotalive.com, Christina Iddha Maydita

TANGERANG, WARTA KOTA- Krisis ekonomi yang melanda Indonesia pada tahun 1998 membuat Sartiah atau biasa disapa Midin (67) harus memutar otak agar keluarganya bisa bertahan hidup.

Dengan modal seadanya, Midin pun mengolah bahan singkong menjadi keripik. Perlahan dia juga menambah usahanya dengan membuat peyek kacang tanah.

Sambil dibantu sang istri, Midin mendistribusikan hasil olahannya ke warung-warung kecil di sekitar rumahnya di Desa sengkol, Kecamatan Setu, Kota Tangerang Selatan.

"Melihat harga pokok yang semakin tinggi, khususnya kacang tanah untuk bahan baku pembuatan peyek, saya memutuskan berhenti untuk memproduksi peyek dan memilih melanjutkan produksi keripik singkong hingga sekarang," ujar Midin ditemui di rumahnya pekan lalu.

Dengan keuletan Midin, usahanya berkembang. Bahkan, dia sampai mengajari warga sekitar untuk memproduksi keripik singkong, ditambah dengan keripik pisang.

Midin mengungkapkan, bahan baku keripik singkong dan keripik pisang tak hanya dibeli dari pasar, tetapi juga dari hasil kebun warga sekitar.

Pisang yang digunakan untuk pembuatan keripik diantaranya, pisang tanduk, dan pisang nangka, sedangkan untuk keripik singkong menggunakan singkong yang ukurannya agak kecil.

Setiap hari, Midin mulai menggoreng lembaran-lembaran pisang dan singkong yang sudah dipotong-potong selepas salat Ashar dan baru selesai pukul 17.30.

Usai digoreng, seluruh keripik dikemas dalam plastik. Dalam tiga jam sebanyak 120 bungkus keripik singkong dan keripik pisang diproduksi.

Pembeli datang ke rumah Midin berasal dari Depok dan Serpong. Tak sedikit pula dari lingkungan sekitar yang sebagian besar untuk dijual kembali.

Harga untuk keripik singkong dan pisang bervariasi mulai dari Rp 2.000-Rp 5.000 per bungkus. Sedangkan untuk keripik pisang dijual mulai Rp 30.000 per kilogram dan keripik singkong Rp 20.000 per kilogram.

Tradisional
Midin masih menggunakan alat-alat produksi secara tradisional, di antaranya tungku dan kayu bakar.

Modal awal yang ia keluarkan diawal usahanya Rp 500.000.

"Keripik buatan saya berbeda dengan keripik lainnya, karena keripik-keripik saya hanya menggunakan garam sebagai perasa untuk keripiknya. Jadi tidak menggunakan bahan apa-apa lagi, kecuali untuk rasa pedas menggunakan bumbu balado" ungkapnya.

Sebelum ia menjual keripiknya di rumah, dia pernah mendistribusikan keripik produksinya ke 40 warung di sekitar rumahnya.

Midin tidak takut jika harus bersaing dengan warga sekitar yang sama-sama berjualan keripik singkong dan pisang. "Jenis makanan apapun kalo rasanya sudah enak, walaupun banyak saingan tetap aja larinya ke kita," ujarnya. (PKL1/ito) 

Ikuti kami di

Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved