Kampung Apung
Cerita Asal Usul Kampung Apung Kapuk
Kampung Kapuk Teko alias Kampung Apung memang indah di tahun 1970an. Tapi segalanya berubah dan kacau di era 1980an.
WARTA KOTA, KAPUK— Dahulu ada sebuah pohon nangka besar di Kampung Apung. Di bawah pohon diletakkan sebuah bale bambu.
Tiap sore orang dewasa duduk dan mengobrol di sana.
Sementara anak-anak kecil bermain di jalan lebar berpasir dengan pohon-pohon besar di kiri kanannya. Teduh dan sejuk
Susnadi alias Bang Ji'i (52), salah satu penghuni lama Kampung Apung, Kelurahan Kapuk, Kecamatan Cengkareng, Jakarta Barat, mengingat masa-masa indah di kampungnya di tahun 1970an, Senin (19/9/2016).

"Waktu itu namanya belum Kampung Apung. Tapi Kampung Kapuk Teko," ujar Susnadi kepada Wartakotalive.com, kemarin siang.
Dia ingat betul di tahun 1970an kampungnya itu dikelilingi pesawahan. Banyak pohon buah dimana-mana dan tak ada banjir. Air melimpah dan jernih.
Dia ingat betul warga kampung pernah menggali sumur di tahun 1979 akibat kekeringan.
Penggalian berhasil dan ditemukan air di kedalaman. Airnya jernih.
"Kita lihat dari atas ke air itu, dasar sumurnya kelihatan. Bersih sekali airnya berarti," kata Susnadi.
Saat berusia 10 tahun, Susnadi ingat dia selalu main ke sawah setiap sore hari. Mencari buah tike, belut, dan daun genjer.
Hasilnya ia bawa ke rumah dan diberikan ke ibunya.
"Genjernya nanti dibuat tumis sayur oleh ibu saya. Wah enak sekali rasanya. Biasanya dicampur udang yang dipotong kecil atau daging belut yang disuwir," kata Susnadi.
Kampung Kapuk Teko alias Kampung Apung memang indah di tahun 1970an. Tapi segalanya berubah dan kacau di era 1980an.
Ketika industri masuk kesana dan menghilangkan area pesawahan.
Pergudangan pertama dibangun di belakang Kampung Apung pada tahun 1986.
Susnadi ingat betul itu. Sebab sejak pergudangan dibangun, kampungnya mulai sering tergenang air walau belum tinggi.
Di tahun 1990an area pesawahan terus terpangkas. Berganti jadi jejeran perumahan dan pabrik. Kacau.
Semuanya mengurug tanah dan menjadi lebih tinggi dari Kampung Apung.
Bahkan di tahun 1993, jalan di depan Kampung Apung ditinggikan oleh Pemprov DKI.
Disamakan dengan tinggi pabrik dan jalan masuk ke perumahan.
Kampung Apung kemudian jadi paling rendah disana dan berbentuk seperti mangkuk.
Banjir pertama pun terjadi tahun 1996 dan kampung apung tak pernah mengering sejak itu.
Perlahan wilayahnya berubah jadi rawa. Pohon-pohon buah hilang. Jalan berpasir tipis hilang. Rumah-rumah warga pun tenggelam. Warga tak lagi berpijak ke tanah.
Di tahun 2003 Pemprov DKI kembali meninggikan jalan. Kampung Apung makin tenggelam. Banjir besar kembali terjadi tahun 2007.
Dan kini tiap tahun banjir rutin terjadi. Warga sudah beradaptasi dengan tak menempatkan apapun di lantai dasar rumah.
Barang-barang penting diletakkan di lantai atas rumah atau loteng.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/wartakota/foto/bank/originals/20160920-kampung-apung-kapuk1_20160920_095834.jpg)