Musim Hujan, Warga Baru Kampung Apung Berbenah
Mereka meninggikan rumahnya dan membuat bangunan loteng, agar bisa menyelamatkan barang-barangnya saat banjir datang.
WARTA KOTA, KALIDERES - Warga baru Kampung Apung, Kelurahan Kapuk, Kecamatan Cengkareng, Jakarta Barat, mulai berbenah memasuki musim hujan ini.
Mereka meninggikan rumahnya dan membuat bangunan loteng, agar bisa menyelamatkan barang-barangnya saat banjir datang.
Oki Kartikawati (21), salah satu warga setempat yang baru memilki rumah di Kampung Apung, kini tengah meninggikan rumahnya.
Tadinya Oki tinggal bersama orangtuanya di rumah yang sudah anti banjir. Tapi setelah menikah dan memiliki anak, dia dan suaminya pindah ke sebuah lahan bekas rumah di sebelahnya.
Semenjak mulai sering hujan, dia dan suaminya menguras tabungan. Membuat tiang pancang tinggi sampai 1 meter dari batas air.
Lalu Oki membeli triplek dan kayu-kayu penyangga untuk membuat lantai 2 di rumahnya.
Dalam 1 bulan ini rumah itu selesai dibangun. Dindingnya berupa triplek tipis dan dibiarkan tak dicat. Biaya makin tipis. Tapi sore tadi Oki sudab tidur-tiduran di rumahnya dengan.
Sementara itu, warga pendatang lainnya, Agus (50), memilih meninggikan rumahnya dan membangunnya dengan beton. Dia meninggikan rumahnya sampai sekitar 1,5 meter di atas permukaan air.
Rumah itu dibangun dengan dinding beton dan tulang-tulang bangunan yang tebal. Catnya dibuat apik dengan campuran warna coklat dan putih.
Sementara itu, warga lainnya seperti Susnadi (52) yang sudah lama tinggal disana, mengaku sudah hafal dengan banjir di kampungnya.
Makanya dia hanya menaruh sebuah kulkas dan rak dagangannya di bagian bawah rumahnya.
Bahkan rak dagangannya pun ia letakkan 1 meter di atas tanah. Sehingga ketika banjir datang, dia tak perlu repot-repot mengangkat rak itu.
"Barang penting saya taruh di lantai atas semua," ucap Susnadi yang sudah tinggal disana sejak lahir tahun 1969.
Sementara itu, Kasudin Tata Air Jakarta Barat, Imron, mengatakan, pihaknya belum ada rencana lagi terkait menyelesaikan banjir di Kampung Apung.
"Terakhir kami mau masuk untuk benahi. Tetapi warga menuntut sesuatu yang membuat kami menunda dulu," kata Imron ketika dihubungi Wartakotalive.com, petang ini.
Makanya, ucap Imron, pihaknya belum punya langkah khusus untuk menyelesaikan banjir disana.
Sementara itu, dari cerita warga sesepuh di Kampung Apung, diketahui sebelumnya kampung itu bernama Kapuk Teko.
Di tahun 1970an, kampung Kapuk Teko dikelilingi pesawahan dan pepohonan. Airnya bersih dan jernih.
Semuanya berubah kacau setelah pergudangan pertama dibangun pada tahun 1986. Banjir mulai muncul disana.
Di tahun 1990an semuanya bertambah kacau dengan dibangunnya berbagai pabrik dan perumahan elit.
Seluruh pabrik dan perumahan elit mengurug lahan dan menjadikannya lebih tinggi dari Kampung Kapuk Teko.
Wilayah itupun kemudian jadi tempat buangan air karena jadi lokasi terendah disana. Lambat laun tempat itu terendam dan rumah mulai tenggelam.
Ada warga yang memilih bertahan, tetapi banyak pula yang menjualnya. Kini, menurut warga setempat, untuk membangun rumah disana perlu tiang pancang sedalam 2 meter untuk mencapai tanah kampung itu di dasar rawa.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/wartakota/foto/bank/originals/20160919-kampung-apung-banjir_20160919_225040.jpg)