Obat Kadaluarsa Dijual di Pasar Pramuka
Begini Cara Pelaku Ganti Tanggal Kadaluarsa
Sejak menjual obat kadaluarsa, omzetnya meningkat jadi sepuluh juta per bulan
WARTA KOTA, SEMANGGI - Polda Metro Jaya mengungkap peredaran obat kadaluarsa di Pasar Pramuka, Jakarta Timur. Pelakunya ada pemilik Apotek Rahmat berinisial N (40).
Lelaki berinisial N ini diketahui tinggal di kota Bogor, tetapi memiliki kontrakan yang ia jadikan gudang obat kadaluarsa di kawasan Kayu Manis, Jakarta Timur.
Dia pria berperawakan gemuk. Istri dann anaknya tinggal di Bogor. Sehari-hari ia pulang-pergi Jakarta-Bogor sendirian. Di apoteknya, ia dibantu 3 karyawannya.
Direktur Reserse Kriminal Khusus Polda Metro Jaya, Komisaris Besar Fadil Imran, mengatakan, N sudah setahun belakangan berbisnis obat kadaluarsa.
"Sejak menjual obat kadaluarsa, omzetnya meningkat jadi sepuluh juta per bulan," kata Fadil kepada wartawan saat jumpa pers di Polda Metro Jaya, Senin (6/9/2016).
Sementara itu, Kanit 2 Subdit Indag Ditreskrimsus Polda Metro Jaya, Komisaris Wahyu Nugroho, mengatakan, pelaku mengaku berbisnis apotek sudah sejak tahun 2006 di Pasar Pramuka.
Sampai tahun 2014, kata Wahyu, N masih jujur dan tak pernah menjual obat-obatan kadaluarsa. Tapi dia menyimpan obat-obatan kadaluarsa yangtak bisa dijual lagi itu di kontrakannya di kawasan Kayumanis.
Sampai tahun 2009, dia menyimpan dan membuangnya secara rutin. Tapi sejak tahun 2010, N mulai merasa rugi apabila obat-obatan kadaluarsa itu ia buang begitu saja dan tak dijual.
Makanya sejak tahun 2010, N mulai menyetok obat kadaluarsa di kontrakannya. Obat itu dia simpan tanpa tahu harus diapakan.
Jawabannya baru muncul awal tahun 2015. Ketika itu N menemukan cara memanipulasi tanggal kadaluarsa di obat-obatan kadaluarsa yang ia setok.
Dia menemukan cara bahwa tiner bisa menghapus tanggal kadaluarsa yang ada di kemasan obat tersebut.
Dia pun sedikit demi sedikit belajar menghapusnya, lalu menggantikannya dengan tulisan tangan yang mirip dengan tulisan di kemasan obat.
"Dia hanya mengganti satu angka saja. Yakni angka paling belakang di tahun kadaluarsa obat," ucap Wahyu ketika dihubungi Wartakotalive.com, sore ini.
Angka itu ada yang ia ganti dengan tulisan tangan memakai spidol. Ada pula yang ia ganti dengan cara mencucukkan benda tajam tipis ke kemasan obat.
"Kami menemukan fakta bahwa obat yang paling lama ia jual sudah kadaluarsa sejak tahun 2010. Tapi diubah jadi 2017 bahkan 2018," kata Wahyu.
Menurut Wahyu, praktek mengganti tanggal kadaluarsa itu dilakukan oleh N sendiri. Para karyawannya tak pernah ia minta melakukan itu.
"Tapi karyawannya tahu kok praktik itu. Hanya mereka takut saja melawan, sebab bosnya yang melakukan itu," kata Wahyu.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/wartakota/foto/bank/originals/20160905-obat_20160905_195133.jpg)