Koran Warta Kota
Reni Sang Pembantu Pahlawan bagi Keluarga Asep
Selama berjam-jam pembantu rumah tangga (PRT) di rumah Asep Sulaiman itu terus didera ketakutan
WARTA KOTA, KEBAYORAN LAMA - Kejadian yang dialami Reni, Sabtu (3/9), mungkin tidak akan terlupa selama hidupnya.
Selama berjam-jam pembantu rumah tangga (PRT) di rumah Asep Sulaiman (62) itu terus didera ketakutan.
Tangisan Reni tak kunjung reda karena dua perampok yang menyatroni rumah majikannya di Jalan Bukit Hijau IX Nomor 17, Pondok Indah, Kebayoran Lama, Jakarta Selatan, terus menodongkan senjata api kepadanya.
Bukan hanya dia yang menangis dan didera ketakutan berkepanjangan. Keluarga majikannya juga mengalami hal yang sama.
Kemarin, Asep dan istrinya Euis, dan anak mereka Safira (20), beserta Reni, mengalami 'penyanderaan' selama lebih dari 8 jam.
Mereka dikurung oleh dua perampok di lantai 3 rumah milik Asep. Semua itu diceritakan Reni kepada polisi kemarin.
Kejadian bermula ketika pada Sabtu pagi sekitar 05.30, Reni bersih-bersih di bagian depan pagar rumah majikannya.
Awalnya tidak ada yang mencurigakan. Tetapi, saat ia menyelesaikan pekerjaannya dan hendak masuk ke dalam pagar rumah, dua orang bertopeng menodong senjata ke arah kepalanya.
Dua orang itu meminta Reni membimbing mereka masuk ke dalam rumah dan menunjukkan kamar sang majikan.
Reni dan salah seorang pelaku bertopeng kemudian menggedor-gedor pintu kamar.
Asep yang curiga lantaran mendengar tangisan Reni, tidak langsung membukakan pintu.
Ia sempat mengintip lewat jendela samping.
Pelaku kemudian menjebol jendela sampai akhirnya Asep membuka pintu kamarnya. Moncong pistol pelaku langsung mengarah ke wajahnya.
Sejak itu, proses penyanderaan dimulai. Di bawah ancaman pelaku, para sandera terus menangis ketakutan.
"Pelaku meminta harta seperti uang, perhiasan. Korban bernama Asep bilang, 'silakan ambil yang Anda mau, tapi jangan sakiti keluarga saya," tutur Kapolrestro Jakarta Selatan Kombes Polisi Tubagus Hidayat, ketika ditemui di lokasi usai pembebasan sandera, Sabtu petang.
Pelaku butuh beberapa jam mengumpulkan harta-harta itu.
Menjelang pukul 09.00, pemilik rumah meminta izin kepada pelaku agar Reni membuatkannya mi instan sebagai sarapan. Pelaku mengizinkan.
Di bawah pengawasan yang tak terlalu ketat dari perampok, Reni mencari cara untuk kabur.
Saat perampok lengah, ia segera berlari ke lantai bawah dan menuju gerbang.
Panik, ia tak sempat membuka pintu pagar. Ia memanjat pagar setinggi 3 meter itu sambil berteriak minta tolong.
Beberapa warga mulai berdatangan mendengar teriakan itu. Hal itu juga disadari para perampok.
Perampok akhirnya membuat skenario. Ia meminta kepada Asep keluar menemui warga dan menjelaskan bahwa tidak terjadi apa-apa.
Takut anak-istrinya disakiti, Asep menuruti permintaan perampok.
"Tidak ada apa-apa. Hanya masalah keluarga," kata Asep yang membuat warga bingung. Sesaat kemudian, Asep kembali masuk ke dalam rumah.
Menurut tetangga Asep, Reni boleh disebut pahlawan untuk keluarga majikannya.
"Pembantunya itu pahlawan. Karena kalau nggak ada dia, nggak tahu nasib majikannya seperti apa," ujar seorang warga, kemarin.
Menegangkan
Reni menceritakan detail kejadian di rumah itu kepada security komplek dan warga. Tak lama kemudian, polisi lalu mengepung rumah itu.
Menurut Hidayat, perlu waktu beberapa jam untuk melakukan observasi. Dengan pengeras suara, polisi meminta perampok menyerahkan diri.
"Situasi benar-benar menegangkan. Saat kami meminta perampok itu menyerah, justru terdengar suara tangisan dari dalam rumah," kata Hidayat.
Sadar upaya peringatan tak diindahkan, sekitar pukul 14.00 gabungan polisi khusus dengan senjata lengkap mendobrak masuk.
"Tak ada respon apapun dari dalam rumah. Tapi kami membaca bahwa kondisi psikologis perampok juga turun melihat ratusan polisi mengepung rumah, sehingga kamu memutuskan masuk menyerbu rumah," ujarnya.
Polisi menyisir ke lantai dua rumah. Di sebuah ruang utama, polisi menemukan sandera dan perampok yang sama-sama tampak ketakutan.
"Tidak ada perlawanan dari perampok. Dua perampok berisial AJ dan S dengan mudah dibekuk pukul 14.15," kata Hidayat.
Kasubag Humas Polrestro Jakarta Selatan Komisaris Polisi Purwanta mengatakan, seluruh korban shock atas peristiwa itu.
"Meskipun tidak ada kekerasan fisik, namun bentuk intimidasi yang dilakukan begitu menakutkan. Mereka sering diancam dibunuh dengan ditodong senjata api," katanya.
Dua pelaku yang mengaku berasal dari Solo, Jawa Tengah, itu selanjutnya dibawa ke Mapolda Metro Jaya untuk diperiksa lebih lanjut.
"Jenis senjata api yang mereka gunakan adalah Walther. Kami juga masih lidik darimana asal senjata api itu," kata Purwanta.
Pelaku panik
Kapolda Metro Jaya Inspektur Jenderal Moechgiyarto juga menyatakan hal senada di lokasi kemarin. Menurut Kapolda, dua pelaku yakni AJ dan S membututi PRT di rumah Asep. "Saat PRT itu di pelataran rumah korban, pelaku langsung menodongkan senjata api berkaliber 32," katanya.
"Pelaku meminta PRT mengantarkan mereka ke depan kamar majikannya dan meminta majikan keluar. Pelaku juga menggedor pintu," kata Moechgiyarto.
Namun, lantaran melihat senjata api di tangan para pelaku, Reni justru menangis histeris.
"Tangisan histeris itu membuat Asep dan istrinya, Euis, melongok dari jendela kamar. Melihat hal tersebut, para pelaku lalu memecahkan kaca jendela. Asep dan istrinya pun disandera. Anak Asep, Safira (20) dan seorang pembantu lain ikut dibuat tak berdaya, " kata Moechgiyarto.
Di dalam rumah, AJ dan S sempat meminta Asep dan keluarga menyerahkan semua barang berharga.
"Mulai dari ponsel sampai dompet, sempat diminta oleh pelaku," ujar Moechgiyarto.
Polisi sendiri, kata Moechgiyarto, baru mendapat informasi sekitar pukul 08.00.
"Kami langsung lakukan pengepungan dan memberikan peringatan kepada para penyandera. Mereka akhirnya menyerahkan diri," kata Moechgiyarto.
Kapolda menjelaskan, pelaku langsung down begitu mengetahui bahwa mereka telah dikepung oleh polisi.
"Tersangka sempat menangis di hadapan pemilik rumah. Mereka lalu buat skenario (seolah) mereka berkeluarga, hubungan persaudaraan. Ada pernyataan ditandatangani. Mereka berbuat kesepakatan agar seolah-olah tidak terjadi apa-apa," lanjutnya. (fha/bin/kar/gps)
Baca selengkapnya di Harian Warta Kota edisi, Minggu 4 September 2016
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/wartakota/foto/bank/originals/20160904-perampokan-pondok-indah_20160904_083222.jpg)