Olimpiade Rio 2016

Pria di Balik Bus Bandros

Walau perayaan olahraga Olimpiade Rio 2016 telah ditutup pada Senin (22/8/2016) lalu, semarak kemeriahan pesta rupanya juga berlangsung di Indonesia.

Pria di Balik Bus Bandros
Simon Jonatan 

WARTA KOTA, SENEN - Walau perayaan olahraga Olimpiade Rio de Jenairo 2016 telah ditutup pada Senin (22/8/2016) lalu, semarak kemeriahan pesta rupanya juga berlangsung di Indonesia.

Suka cita pun ditebarkan di seluruh penjuru nusantara, terlebih DKI Jakarta yang menjadi Ibukota negara.

Menyambut kedatangan para atlet, sebuah bus Bandros dipilih untuk mengarak pahlawan olahraga melintasi jalan protokol dari kantor Kementerian Pemuda dan Olahraga (Kemenpora) menuju Istana Negara pada Rabu (24/8/2016).

Sambutan hangat pun terlihat diberikan masyarakat, seluruh pengendara menghentikan laju kendaraannya, anak-anak sekolah juga berbaris di sisi jalan hanya untuk melihat dan melambaikan tangan kepada peraih medali emas cabang bulu tangkis, Tontowi Ahmad dan Liliyana Natsir serta dua orang atlet angkat beban peraih medali perak, Sri Wahyuni dan Eko Yuli Irawan yang melintas.

Namun, di tengah meriahnya pawai, tersembunyi seorang penggagas ide pemakaian bus Bandung Tour on The Bus atau dikenal bus Bandros, bus yang pernah dipakai arak-arakan Tim Persib ketika menjuarai ISL tahun 2014 silam.

Sosok konseptor bus kebanggaan warga Bandung itu adalah Simon Jonatan. Layaknya mimpi di siang bolong, pria yang menjabat Presiden Direktur Bintang Toedjoe itu mengaku tidak percaya jika ide yang datang spontan akhirnya dapat terlaksana dengan baik. Sebab hanya dalam waktu kurang dari 12 jam, bus yang tidak terpakai di Bandung itu harus dilarikan ke Jakarta untuk diperbaiki sekaligus dihias.

"Saya sodorkan kepada menteri, agar dilakukan arak-arakan dan konvoi. Menteri pun setuju dan meminta bus terbuka dan kita pilih bus Bandros. Tapi yang buat tegang, persiapan itu kurang dari 12 jam. Karena bus harus diperbaiki dan dihias, posisinya juga ada di Bandung," ceritanya usai penyerahan sapi Qurban di kantor Pengurus Besar Nahdatul Ulama (PBNU), Kenari, Senen, Jakarta Pusat pada Rabu (24/8/2016).

Alhasil, lewat dukungan Kemenpora, Kepolisian serta Pemerintah Kota Bandung, bus yang semula berwarna biru muda itu pun sukses terparkir di halaman Kantor Kemenpora dan disulap dengan kombinasi warna merah putih. Selain itu, semua simbol negara juga disematkan dalam setiap sisi bus.

"Kemenpora minta bus itu dirubah, didandanin nuansa 17-an, kombinasi merah putih dan harus bisa dipakai dalam 12 jam ke depan. Jadi mirip cerita Roro Jonggrang dan Bandung Banduwoso, waktunya sedikit dan tidak ada kata tidak bisa buat para atlet kita," ungkapnya bangga.

Walau ide berhasil dituangkan, pria keturunan Tiongkok itu mengaku tidak lantas jumawa, dirinya justru berharap dapat terus membantu para atlet Indonesia untuk menorehkan prestasi, baik ditingkat nasional dan internasional.

"Kita hanya ingin agar semua atlet di semua cabang olahraga bisa berprestasi. Seperti bus ini, kami jelas bangga, walaupun kami tidak ikut di atas ataupun jadi supirnya," tutupnya tersenyum.

Penulis: Dwi Rizki
Editor: Hertanto Soebijoto
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved