Terorisme

Sekolah Kharisma Bangsa Minta Ortu Siswa Tidak Termakan Isu Tak Benar

Kepala SMP-SMA Kharisma Bangsa, Sutirto meminta orangtua siswa tidak termakan isu yang tidak benar mengenai tudingan terkait dengan teroris Turki.

Warta Kota/Budi Sam Law Malau
Sutirto, Kepsek SMP SMA Kharisma Bangsa. 

WARTA KOTA, TANGERANG SELATAN - Kepala SMP-SMA Kharisma Bangsa, Sutirto meminta semua orangtua siswa untuk tidak percaya dan termakan isu yang tidak benar mengenai tudingan bahwa Sekolah Kharisma Bangsa terkait dengan teroris Turki sehingga akan ditutup.

Menurut Sutirto, tudingan pemerintah Turki melalui siaran pers yang dikeluarkan Kedubes Turki tidak berarti dan tak berdampak apa-apa dengan operasional sekolah.

"Sebab saya pastikan kita sudah tidak kerjasama dengan Pasiad, LSM asal Turki yang belakangan diketahui terafiliasi dengan Feto. Kerjasama sudah selesai sejak 2014," kata Sutirto, saat ditemui Warta Kota, di Sekolah Kharisma Bangsa, di Jalan Pondokcabe, Tangsel, Jumat (29/7/2016).

Namun Sutirto mengakui kerjasama dengan Pasiad sempat terjalin sejak Sekolah Kharisma Bangsa berdiri 2006 lalu.

"Kami meminta orangtua siswa tidak terhasut atau termakan isu yang tidak benar. Sebab bisa saja karena pernyataan orang lain di luaran yang tidak tepat, membuat kita panik," katanya.

Sutirto menyebutkan tudingan yang disiarkan Pemerintah Turki, melalui siaran pers yang dikeluarkan Kedubes Turki, sangat berlebihan.

"Terlalu berlebihan tudingan itu. Apalagi meminta supaya sekolah kami ditutup. Saya tegaskan, kami sudah tak lagi bekerjasama dengan LSM dari Turki PASIAD dan mendapat dana dari mereka sejak 2014 lalu," kata Sutirto.

Menurut Sutirto, sejak adanya aturan baru tahun 2014 lalu, pihaknya tak lagi bekerja sama dengan PASIAD yang terafiliasi dengan kelompok Fethullah Gulen.

Aturan itu mesti membuat pihak sekolah harus memilih apakah sekolah mereka menjadi sekolah nasional dengan kurikulum nasional 100 persen, atau sekolah dengan Satuan Pendidikan Kerjasama (SPK) yang kurikulumnya adalah kurikulum nasional ditambah kurikulum lain.

"Jadi sejak 2014 kita tidak bisa lagi kerjasama dengan PASIAD, karena PASIAD bukan lembaga pendidikan resmi pemerintah Turki dan masa kerjasam PASIA dengan Kemendikbud saat itu juga selesai," kata Sutirto.

Ia mengakui sejak 2006 atau saat sekolah Kharisma Bangsa yang terdiri dari SD, SMP dan SMA ini berdiri, mereka bekerjasama dengan PASIAD.

"Dan berakhir tahun 2014, karena aturan yang ada," katanya.

Sehingga untuk menjaga kualitas pendidikan mereka, maka Sekolah Kharisma Bangsa memutuskan menjadi sekolah SPK sejak 2014, dengan bekerjasama denga lembaga pendidikan dari Australia, AMITY College.

"Pihak AMITY College hanya berperan dalam bentuk satuan pendidikannya saja di Kharisma Bangsa," kata Sutirto.

Penulis: Budi Sam Law Malau
Editor: Hertanto Soebijoto
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2020 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved