Vaksin Palsu

Korban Vaksi Palsu di Bekasi Lakukan Vaksin Ulang di RS Rawalumbu

Vaksinasi ulang ini merupakan rangkaian upaya tanggung jawab pemerintah menyikapi peredaran vaksin palsu

Korban Vaksi Palsu di Bekasi Lakukan Vaksin Ulang di RS Rawalumbu
Warta Kota
Walikota Bekasi Rahmat Effendi 

WARTA KOTA, JAKARTA - Wali Kota Bekasi Rahmat Effendi melakukan inspeksi ke Rumah Sakit Rawalumbu, Selasa, dalam rangka memantau pelaksanaan vaksinasi ulang puluhan pasien anak yang diduga terkontaminasi vaksin palsu.

"Vaksinasi ulang ini merupakan rangkaian upaya tanggung jawab pemerintah menyikapi peredaran vaksin palsu," katanya di Bekasi.

Rahmat didampingi jajaran Dinas Kesehatan Kota Bekasi bersama dengan sejumlah direktur rumah sakit swasta di wilayah setempat menyambangi lokasi vaksinasi ulang di lantai dua RS Rawalumbu.

Dari 20 pasien peserta vaksinasi ulang, hany 11 di antaranya yang memenuhi undangan Dinas Kesehatan Kota Bekasi untuk menjalani vaksinasi ulang di rumah sakit tersebut.

Rahmat mendatangi satu persatu keluarga pasien dan menanyakan perihal pelayanan kegiatan tersebut.

"Apakah ada yang dimintai uang selama vaksin ulang ini. Kalau ada, segera lapor Dinkes Kota Bekasi, karena kegiatan ini gratis," katanya.

Vaksinasi ulang itu menggunakan produk PT Bio Farma berupa Pentabio yang disuntikan secara gratis kepada pasien balita dan bayi.

Dalam kesempatan itu, Rahmat juga menyampaikan kepada seluruh orang tua pasien agar tidak resah dengan peredaran vaksin palsu sebab Pemkot Bekasi telah merevisi sejumlah standar prosedur distribusi obat dan alat kesehatan di wilayah setempat.

"Ke depan tidak ada lagi peredaran obat yang tidak didaftarkan kepada Dinas Perindustrian dan Perdagangan. Saya sudah perketat pengawasannya agar peristiwa ini tidak lagi terulang," katanya.

Salah satu orang tua pasien, Sheryl (35) mengaku memilih memvaksin ulang putranya karena merasa yakin anaknya terkontaminasi vaksin palsu.

"Sebelumnya anak saya ini divaksin di RS St Elisabeth Kota Bekasi dan itu salah satu rumah sakit yang terindikasi sebagai pengguna vaksin palsu," katanya.

Dia mengaku belum melakukan upaya ceck up, namun meyakini kalau putranya terkontaminasi vaksin palsu produksi CV Azka.

"Sebab anak saya mengalami iritasi di kulitnya sejak disuntikan vaksin DPT. Saya pilih divaksin ulang supaya ke depan tidak terjadi hal yang tidak dinginkan," katanya. (Antara)

Editor: Adi Kurniawan
Sumber:
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved