Minggu, 19 April 2026

Kerap Banjir, Warga Pertanyakan Adipura Perolehan Jakarta Pusat

Pasar Baru juga sama penyakitnya, karena sampah juga pas hari yang sama di sana kebanjiran,

Warta Kota/Adhy Kelana
ILUSTRASI - Abang-none tengah membawa piala Adipura untuk Jakarta Selatan di halaman kantor Kecamatan Jagakarsa, Jakarta Selatan, Selasa (11/6/2015). Jakarta Selatan mendapat penghargaan Adipura untuk ke delapan kalinya dalam keindahan, kebersihan dan ketertiban. 

WARTA KOTA, GAMBIR - Kerap tergenang banjir hingga banyaknya ceceran sampah imbas dari menjamurnya Pedagang Kaki Lima (PKL) di sejumlah wilayah, perolehan penghargaan Adipura yang diperoleh Jakarta Pusat dipertanyakan warga. Pasalnya, penataan masih diperlukan menyusul beragam permasalahan lainnya, seperti kemacetan hingga pengelola sampah terpadu yang belum dilakukan secara maksimal.

Kurang pantasnya pemberian penghargaan bergengsi terkait pengelolaan lingkungan bersih tingkat nasional itu disampaikan oleh sejumlah warga yang tinggal di Kelurahan Kartini, Sawah Besar, Jakarta Pusat. Andi (46) warga Jalan Kartini V misalnya, dirinya mengaku tidak percaya ketika mengetahui bila Jakarta Pusat terpilih menjadi mendapatkan Adipura.

Sebab, menurutnya penghargaan tersebut belum pantas diberikan mengingat kawasan Sawah Besar, khususnya Kartini masih terpapar banjir hingga kini. Apalagi, banjir yang terjadi bukan hanya dipicu topografi wilayah Sawah Besar yang rendah, tetapi dikarenakan banyaknya sumbatan sampah di sejumlah titik saluran air.

"Kalau saya bilang sih belum pantes, soalnya banyak wilayah yang belum beres, misalnya kayak Kartini ini, belum lama kebanjiran lagi pas hujan kemarin (Sabtu, 16/7), itu karena banyak sampah nyangkut di saluran. Pasar Baru juga sama penyakitnya, karena sampah juga pas hari yang sama di sana kebanjiran," ungkapnya.

Selain Andi, Aris (40) warga Kebon Melati, Tanah Abang, Jakarta Pusat menyampaikan hal serupa. Dirinya menilai jika kawasan Pasar Tanah Abang masih jauh dari sebutan bersih dari sampah. Apalagi, seluruh gang hingga saluran air di sekitar kawasan pasar, imbas dari menjamurnya PKL.

"Nilainya mungkin nggak serius, masa sih Tanah Abang dibilang bersih. Mungkin juga mereka nggak masuk ke dalam gang-gang rumah, belakang pasar sama got. Banyak sampah sampe kali jadi cetek (dangkal-red), itu yang bikin Kebon Melati kebanjiran setiap ujan gede," ungkapnya.

Sementara itu, Wali Kota Jakarta Pusat, Mangara Pardede mengaku penghargaan yang didapatkan merupakan hasil kerja keras jajarannya bersama warga yang tetap bersemangat menjaga kebersihan lingkungan. Terlebih, dukungan Pemerintah Provinsi (Pemprov) DKI Jakarta untuk menciptakan Jakarta Baru.

"Kita mendapatkan dua penghargaan bergengsi ini tidak mempersiapkan secara khusus. Kita sudah rutin bekerja keras yang selalu dimotivasi oleh Pak Gubernur (Basuki Tjahaja Purnama-red) menciptakan Jakarta Baru,” ungkapnya kepada Warta Kota di Kantor Wali Kota Jakarta Pusat, Gambir, Jakarta Pusat pada Selasa (19/7).

"Berhasilnya meraih penghargaan bukan tujuan utama. Tetapi, penggalangan kebersamaan dan memberikan pengabdian kepada masyarakat adalah yang terbaik," tutupnya menambahkan.

Seperti diketahui, Jakarta Pusat merupakan satu dari tujuh kota besar di nusantara yang mendapatkan Piala Adipura, antara lain Surabaya, Tanggerang, Semarang, Palembang, Bandung dan Makasar. Penghargaan tersebut akan diberikan oleh Pemerintah Pusat melalui Kementerian Lingkungan Hidup (KLH) di lapangan Istana Raja Siak, Riau pada Jumat (22/7) mendatang.

Sumber: WartaKota
Ikuti kami di

Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved