Citizen Journalism

Ketimpangan Ramadan Effect

Bulan ramadan juga akan mendatangkan efek yang pasti akan dirasakan oleh semua lapisan masyarakat Indonesia, yang kemudian kita sebut sebagai ramadan

Rangga Baskoro
Operasi Pasar daging sapi yang dilakukan Bulog melalui kendaraan truk kecil, Selasa (7/6). 

WARTA KOTA, PALMERAH -- Ramadan yang ditunggu-tunggu oleh umat muslim di seluruh dunia sudah tiba.

Bulan ramadan juga akan mendatangkan efek yang pasti akan dirasakan oleh semua lapisan masyarakat Indonesia, yang kemudian kita sebut sebagai ramadan effect.

Seperti sudah menjadi rutinitas, ramadan effect yang dapat kita rasakan pertama kali menjelang bulan ramadan ini adalah harga-harga kebutuhan pokok yang mulai merangkak naik.

Hal ini terjadi lantaran melambungnya tingkat permintaan konsumsi masyarakat terhadap barang kebutuhan pokok yang berakibat pada melonjaknya harga barang kebutuhan pokok.

Fenomena ini sejalan dengan teori hukum permintaan yang menyatakan bahwa harga barang akan naik ketika permintaan terhadap barang tersebut naik juga.

Memaknai ramadan effect secara hakiki sebagai bulan berkah seyogyanya digunakan untuk membawa perubahan dan perbaikan seluruh aspek kehidupan masyarakat.

Namun, persoalannya adalah Ramadan effect justru mengalami ketimpangan.

Dalam sisi keagamaan, masyarakat sudah mengalami ramadan effect ditandai dengan meningkatnya kadar keimanan melalui kewajiban untuk berpuasa.

Namun, sudut pandang ekonomi menilai bahwa masyarakat kita mengalami ketimpangan dalam memaknai ramadan effect.

Hal ini dapat dilihat dari tingginya tingkat konsumsi masyarakat yang justru semakin bertambah memasuki bulan ramadan yang menyebabkan naiknya harga-harga komoditas kebutuhan pokok dan berujung pada naiknya inflasi pangan di Indonesia.

Dalam hal ini inflasi disebabkan oleh sisi permintaan atau demand pull inflation yang naik.

Melihat data inflasi pada tahun-tahun sebelumnya berdasarkan data Bank Indonesia, di tahun 2011 komoditas beras, cabe merah, daging sapi, kacang panjang dan udang basah memberikan sumbangan inflasi sebesar 0.36%.

Di tahun 2012 komoditi yang sama menyumbang 0,33% dan di tahun 2013 menyumbang 1% dari total inflasi secara agregat.

Sebagian besar masyarakat menganggap bahwa inflasi merupakan hal yang lumrah terjadi.

Inflasi dapat diartikan kenaikan harga barang-barang yang bersifat umum dan terus menerus.

Setidaknya beberapa indikator yang harus dipenuhi untuk mengatakan terjadinya inflasi. Paradigma Keynes memandang inflasi dapat terjadi ketika masyarakat ingin hidup di luar batas kemampuannya.

Peningkatan permintaan akan ekuivalen dengan kenaikan harga-harga.

Hal inilah yang saat ini terjadi di masyarakat kita. Masyarakat seperti membabi buta dalam memenuhi dan membelanjakan kebutuhan mereka selama ramadan dan menjelang lebaran nanti.

Di samping persoalan tingginya permintaan masyarakat, inflasi juga disebabkan karena adanya kelangkaan barang kebutuhan pokok di pasaran akibat adanya penimbunan barang oleh oknum pedagang curang.

Dalam kondisi seperti ini peran pemerintah menjadi sangat dibutuhkan agar masyarakat dengan tingkat ekonomi menengah ke bawah tidak semakin tercekik oleh situasi ekonomi yang tidak berpihak kepada mereka.

Untuk menyikapi persoalan inflasi kita selaku pelaku ekonomi dan pemerintah sebagai pemangku kebijakan haruslah bersinergi guna meluruskan ketimpangan pemaknaan ramadan effect.

Pada dasarnya kenaikan harga seperti ini sudah dapat diantisipasi oleh pemerintah karena keadaan ini selalu terjadi setiap tahun.

Pemerintah dapat mengambil langkah-langkah taktis dalam kondisi demikian dengan cara melakukan pemantauan harga di pasar-pasar induk untuk mencegah adanya ketidaksesuaian harga.

Pemerintah juga harus dapat menyediakan stok kebutuhan pokok yang memadai untuk menghindari terjadinya kelangkaan bahan kebutuhan pokok.

Penetapan Harga Eceran Tertinggi (HET) juga menjadi sentimen tersendiri untuk menghindari kesewenang-wenangan pedagang dalam menetapkan harga yang tidak masuk akal dan merusak keseimbangan pasar.

Pemerintah harus mampu menjaga kestabilan harga bahan bakar minyak untuk mencegah terjadinya lonjakan harga—harga kebutuhan pokok.

Masyarakat juga harus lebih pintar-pintar dalam menghadapi fenomena seperti ini.

Masyarakat harus mengurangi jumlah konsumsinya dengan cara membeli bahan makanan yang sesuai dengan kebutuhan dan kemampuan ekonomi sehingga jumlah pengeluaran selama bulan ramadan juga tidak membengkak.

Masyarakat jelas harus menahan hawa nafsunya dari sikap konsumtif dan dapat mengalihkannya kepada sektor yang lebih bermanfaat.

Seperti esensi dari bulan puasa, bulan penuh kebaikan, sudah semestinya masyarakat harus mampu menebar kebaikan contohnya dengan cara mengalokasikan dana yang berlebih untuk kegiatan-kegiatan amal dan sosial dibandingkan menyalurkan sikap konsumtifnya yang malah membawa efek buruk kepada masyarakat lain.

Jelas keduanya harus bahu-membahu untuk menjaga kestabilan perekonomian negara selama bulan puasa hingga menjelang lebaran nanti.

Tujuannya satu, untuk memaknai ramadan effect sebagai bulan penuh berkah kepada seluruh umat manusia bukannya justru dengan ketimpangan ramadan effect ini menambah beban masyarakat dengan kenaikan harga-harga di pasar.

Pada akhirnya ramadan effect dapat mengilhami setiap umat manusia khususnya masyarakat Indonesia untuk melahirkan kehidupan yang harmonis dalam berbangsa, bernegara serta beragama guna menyongsong kehidupan yang lebih baik usai ramadan nanti.

M. Rifki Fadilah,
Kasubdept Litbang LPM Econochannel FE UNJ

Sumber: WartaKota
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved