Pengusaha Permen Mencret-Mencret Habis Minum Suplemen

Korban kesal karena ternyata obat itu tak mencantumkan aturan pakai.

KOMPAS.com/AFP PHOTO/MARTIN BUREAU
Ilustrasi obat-obatan 

WARTA KOTA, SEMANGGI -- BS (55), seorang pengusaha permen, mencret-mencret usai meminum produk suplemen yang diproduksi PT RGZ pada Sabtu (7/5/2016).

Sepanjang Sabtu itu, BS keluar masuk kamar mandi karena terus mencret.

Minggu (8/5/2016) malam, dia tidak tahan, lalu memilih pergi ke RS Atmajaya.

Dokter memintanya berhenti meminum suplemen itu.

Lalu, ia dirawat selama dua hari, baru keluar Selasa (10/5/2016).

Dia kemudian melaporkan peristiwa yang dialaminya itu ke Polda Metro pada 12 Mei 2016.

Korban kesal karena ternyata obat itu tak mencantumkan aturan pakai.

"Obat itu tak ada aturan pemakaiannya," kata BS kepada wartawan usai menjalani pemeriksaan perdana di Polda Metro Jaya, Selasa (31/5/2016).

Dia mengaku meminum suplemen bubuk itu sebanyak 3 kali pada hari Sabtu itu. Sebab memang tidak ada ketentuannya. Sehingga ia pikir diminum setiap habis makan.

"Ini untuk kekuatan tulang saya. Soalnya saya kan sudah tua," kata BS kepada Wartakotalive.com usai menjalani pemeriksaan pertamanya di Polda Metro Jaya.

Namun, BS lewat tim pengacaranya melaporkan PT RGZ terkait ijin edar suplemen tersebut. Bukan terkait mencret-mencret yang dialaminya usai meminum suplemen tersebut.

Pengacara BS, Rizky, mengatakan, ijin edar suplemen tersebut diduga menyalahi ketentuan
Ijin edar yang digunakan oleh PT RGZ untuk suplemen itu adalah PIRT. Ijin edar khusus untuk obat yang ketahanannya tak sampai 7 hari.

Padahal suplemen yang diminum BS memiliki ketahanan lebih dari 7 hari.Aturan itu ada di Pasal 92 jo Pasal 142 UU Pangan dan PP 28 Tahun 2004 tentang Keamanan Mutu dan Gizi Pangan.

Menurut Rizky, saat pemeriksaan pertama oleh polisi pihaknya sudah menyerahkan bukti kemasan produk tersebut.

"Kami juga sedang minta keterangan ke pihak BPOM," kata Rizky.

Sebelumnya, seorang konsumen melaporkan PT RGS dugaan penjualan tanpa mencantumkan aturan pakai ke Polda Metro Jaya dan Polres Metro Jakarta Barat.

Sesuai Laporan Polisi Nomor : TBL/2294/V/2016/PMJ/Dit.Reskrimsus tertanggal 12 Mei 2016, seorang konsumen BS melaporkan perusahaan itu terkait dugaan tindak pidana pada bidang pangan.

Seorang konsumen lainnya, SN mengadukan perusahaan MLM itu berdasarkan Laporan Polisi Nomor : 518/ V/ 2016/ PMJ/ Restro Jak Bar‎ tertanggal 19 Mei 2016 dengan sangkaan Pasal 62 ayat (1) juncto Pasal 8 ayat (1) huruf I tentang perlindungan konsumen‎.

Selain itu, Ageng menyatakan pihaknya mengadukan indikasi peredaran produk tanpa izin tersebut ke Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM).

Bahkan penyidik Direktorat Reserse Narkoba Polda Metro Jaya menggeledah perusahaan multi level marketing (MLM) PT RGS LWG di kawasan Kemayoran Jakarta Pusat, Rabu (25/5) terkait dugaan peredaran obat ilegal.

"Iya benar (penggeledahan) tapi bukan penggerebekan," kata Kepala Subdirektorat III Ditresnarkoba Polda Metro Jaya Ajun Komisaris Besar Polisi Arsal Sahban.‎

Sumber: Warta Kota
  • Ikuti kami di
    KOMENTAR

    BERITA TERKINI

    © 2022 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved