Kamis, 9 April 2026

Sastra Sejarah

Peringati 156 Tahun Max Havelaar Karya Multatuli, Akan Digelar Diksusi Publik

Acara tersebut akan berangsung di Museum Bank Mandiri, Jalan Lapangan Stasiun No. 1, Jakarta Kota, pada Sabtu, 4 Juni 2016 mulai pukul 14.00.

google.com
Buku-buku Max Havelaar karya Multatuli dengan beragam cover dan judul. 

WARTA KOTA, PALMERAH - Local Working Group (LWG) Destination Management Organization (DMO) Kota Tua bersama Penerbit Padasan akan menggelar Diksusi Publik "Sastra Sejarah ~ Sastra Bersejarah: Max Havelaar, Novel Indisch Terbesar".

Acara tersebut akan berangsung di Museum Bank Mandiri, Jalan Lapangan Stasiun No. 1, Jakarta Kota, pada Sabtu, 4 Juni 2016 mulai pukul 14.00.

Kepada Warta Kota di Jakarta, Senin (16/5) pendiri sekaligus CEO Penerbit Padasan Chairil Gibran Ramadhan menjelaskan, acara diskusi publik ini digelar dalam rangka memperingati 156 tahun Max Havelaar karya Multatuli. Max Havelaar merupakan karya yang diakui sebagai karya klasik yang terbit pada tahun 1860.

"Max Havelaar diterbitkan pertama kali pada tahun 1860 dalam bahasa Belanda dengan judul Max Havelaar, of de koffij-veilingen der Nederlandsche Handel-Maatschappij. Bahasa Indonesianya kurang lebih berbunyi Max Havelaar, atau Lelang Kopi Perusahaan Dagang Belanda. Karya ini sudah dianggap sebagai karya klasik dunia," kata Chairil.

Didukung oleh Museum Bank Mandiri, Sahabat Budaya Indonesia, dan Forum Betawi Membaca, diksusi publik ini menurut rencana akan menghadirkan dua pembicara. Keduanya ialah Kepala Museum Bank Mandiri, Budi Trinovari dan Chairil Gibran Ramadhan yang juga dikenal sebagai sastrawan Betawi dan pemerhati sastra Indisch.

Pada acara yang akan dipandu oleh Muhammad Sartono dari Sahabat Budaya Indonesia ini, sejumlah tokoh akan menyampaikan pengantar. Mereka ialah Ahmad Iskandar Bait (Praktisi Media dan Dosen Univ. Ibnu Chaldun, Jakarta); Firman Haris (Ketua LWG DMO Kota Tua); Laora Arkeman (Penerbit Padasan); dan Michael Rauner (Direktur Erasmus Huis/Kepala Atase Kebudayaan Kedubes Belanda)

Max Havelaar adalah sebuah novel bergenre roman sejarah karya Multatuli.

Nama Multatuli yang dalam bahasa Latin berarti aku yang menderita adalah nama pena Eduard Douwes Dekker, penulis yang pernah menjadi pegawai pemerintah kolonial Belanda dengan jabatan asisten Residen Lebak.

Novel ini disebut-sebut mewakili rasa amarah, kecewa dan keprihatinan Multatuli atas penderitaan rakyat daerah jajahan, khususnya di Lebak.

Max Havelaar berkisah tentang perlawanan tokoh bernama Max Havelaar terhadap sistem kolonial Belanda yang sangat jahat dengan dukungan para penguasa lokal.

Ia diakui sebagai karya klasik Belanda yang sangat penting sekaligus memelopori gaya tulisan baru saat itu.

Terbit dalam bahasa Belanda dengan judul Max Havelaar, of de koffij-veilingen der Nederlandsche Handel-Maatschappij -- Max Havelaar, atau Lelang Kopi Perusahaan Dagang Belanda, karya ini ditulis dalam tempo sebulan pada tahun 1859 di sebuah losmen di Belgia. Setahun kemudian atau tahun 1860 karya ini terbit untuk kali pertama.

Penerjemahan roman ini ke dalam bahasa Indonesia dilakukan kali pertama pada tahun 1972 oleh kritikus sastra Indonesia HB Jassin.

Pada 1973 buku tersebut dicetak ulang dan membawa Jassin meraih penghargaan dari Yayasan Prins Bernhard sehinga dia diundang untuk tinggal di Belanda selama setahun.

Pada tahun 2013 Max Havelaar kembali diterbitkan oleh Penerbiuta Padasan. Padasan tetap menggunakan hasil terjemahan HB Jassin sekaligus mempertahankan ejaaan Bahasa Indonesia versi Soewandi. (wip)

Sumber: WartaKota
Ikuti kami di

Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved