Tak Ada Uang Pengganti, Besi Bekas pun Jadi

Pasca pembongkaran bangunan, Senin (11/4), puluhan warga Kampung Aqurium sibuk mengepul besi material bangunannya sendiri, Selasa

Tak Ada Uang Pengganti, Besi Bekas pun Jadi
Warta Kota/Panji Baskhara Ramadhan
Warga Kampung Aqurium sibuk mengepul besi material bangunannya sendiri, Selasa (12/4). 

WARTA KOTA, PENJARINGAN - Pasca pembongkaran bangunan, Senin (11/4), puluhan warga Kampung Aqurium RT 12/04 Kawasan Wisata Bahari Sunda Kelapa, Kelurahan Penjaringan, Penjaringan, Jakarta Utara, sibuk mengepul besi material bangunannya sendiri yang sudah diratakan dengan tanah oleh Pemerintah Provinsi DK Jakarta, Selasa (12/4).

Di lahan hunian yang sudah rata dengan tanah itu, Warta Kota memantau banyak warga menggunakan alat tang besar untuk memotong besi material bangunan. Di tengah teriknya panas matahari, mereka semangat mereka tak patah sedikitpun untuk menunda mencari bahan material bangunan yang bisa untuk dijual.

Di lokasi pembongkaran, warga juga tengah menimbang besi-besi bekas material bangunan mereka sendiri maupun warga lainnya. Usai ditimbang besi-besi yang sudah bernilai rongsokan itu, oleh warga bergotong royong mengangkat dan menampungnya di bak mobil selaku pembeli besi bekas itu.

Tak dipungkiri, besi-besi material bangunan yang dikumpulkan oleh warga RT 12 merupakan bentuk kerjasama warga. Besi-besi yang dijual itu, hasilnya akan digunakan untuk membeli makanan yang diperuntukkan bagi warga yang masih bertahan tinggal di Kawasan Wisata Bahari Sunda Kelapa.

Terhitung perkilonya dapat dijual senilai Rp 2000-3000, tak membuat warga RT 12 berhenti mencari besi bekas. Mereka nampak rela mencari dan memotong besi-besi tersebut untuk dijual ke pengepul.

"Baru hari ini saja warga bekerjasama cari makan, cari dana sendiri dengan cara mengumpulkan barang bekas maupun besi-besi material bangunannya sendiri. Enggak hanya RT 12 saja kok. RT 01, 02 bahkan RT 11 juga masing-masing melakukan hal yang sama," jelas Junaedi (38) warga sekaligus Bendahara di RT 12 tersebut.

Dikatakan Junaedi, pasca pembongkaran banyak warga yang mengeluhkan lapar. Mulai dari anak kecil, hingga kalangan orangtua mengeluhkan hal yang sama.

"Kita kekurangan beras buat warga yang masih mau bertahan dan mencari nafkah di Kawasan Wisata Bahari Sunda Kelapa. Ya memang mereka bisa cari uangnya ya di sini kok. Gubernur DKI Jakarta kita (Basuki Tjahaja Purnama kan buta matanya. Gak mau lihat warga yang rata-rata bekerja sebagai nelayan ini kelaparan sekarang," ungkap Junaedi yang rumahnya juga rata dengan tanah akibat adanya program dari pemerintah yakni merevitalisasi Kawasan Wisata Bahari Sunda Kelapa.

Junaedi menambahkan, hasil penjualan besi bekas hingga barang-barang bekas lainnya akan dikumpulkan menjadi satu, untuk membeli makanan matang bagi warga yang masih bertahan tinggal di Kawasan Wisata Bahari Sunda Kelapa.

"Rencananya pemuda-pemuda ini yang bertugas mencari besi, kalangan orangtua tinggal duduk diem saja. Biar pemuda RT 12 yang akan membagikan makanan. Paling beli nasi bungkus nasi padang lah," ujar pria yang berprofesi sebagai sopir angkot ini.

Sementara warga lainnya, Anshori (33) mengaku kelelahan mencari digunungan material bangunan yang sudah rata dengan tanah itu. Namun, berhubung kedua orangtuanya yang tengah lapar di kapal yang kini dijadikan tempat tinggal, dirinya terus berupaya bersama temannya mencari besi - besi tua.

"Enggak ada uang pengganti, besi material kita sendiri kita jual buat makan bareng-bareng warga. Saya sudah bilang ke warga yang lain kalau bantu orangtua saya karena lagi lapar banget. Karena semalaman suntuk kemarin kita sibuk mengangkut barang ke kapal yang biasa saya gunakan sama ayah saya nyari ikan untuk mencari nafkah. Cuman warga lain juga kondisinya juga sama, enggak ada uang dan lapar juga," ungkapnya sembari memotong besi.

Menurut dia, sudah 10 kilo lebih besi terjual untuk para warga RT 12 yang sekiranya berjumlah puluhan orang masih bertahan tinggal di Kawasan Wisata Bahari Sunda Kelapa.

"Cukup enggak cukup, ya bareng-bareng makannya. Baru dapat 10 kilo. Kalau masak enggak bisa karena mau masak di mana coba. Jangan berharap ke pemimpin kita lah (Ahok). Dia kejam. Jujur pemimpin sinting enggak tahu diri. Saya enggak mau tinggal di Rumah Susun (rusun) karena jauh dapatnya di Cakung. Unit rusunnya juga enggak bagus," katanya. (BAS)

Penulis:
Editor: Andy Pribadi
Sumber: Warta Kota
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved