Breaking News:

Kasus Suap

Sanusi Mengaku Uang Ribuan Dolar Miliknya, KPK Telusuri Keterlibatan Kasus Lain

Saat dilakukan Operasi Tangkap Tangan Ketua Komisi D DPRD DKI, Mohamad Sanusi, KPK mengamankan uang 8.000 dolar AS dan Rp 1,14 miliar.

Kompas.com/Kurnia Sari Aziza
Anggota fraksi Gerindra yang juga Ketua Komisi D DPRD DKI Jakarta Mohamad Sanusi, saat ditemui wartawan di Lapangan Banteng, Jakarta, Minggu (14/6/2015). 

WARTA KOTA, JAKARTA - Saat dilakukan Operasi Tangkap Tangan (OTT) Ketua Komisi D DPRD DKI Jakarta, Mohamad Sanusi, Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK), mengamankan uang 8.000 dolar AS dan Rp 1,14 miliar.

Namun, dalam temuan uang tersebut, Sanusi mengakui, uang ribuan dolar merupakan miliknya

Meski demikian, menurut Wakil Ketua KPK, Saut Situmorang, bahwa KPK tidak bisa begitu saja mempercayai dan mengembalikan uang tersebut.

Bahkan, pihaknya akan menelusuri apakah uang itu justru berkaitan dengan kasus lainnya.

"Kami harus hat-hati, apa (uang) itu milik dia pribadi atau masuk di dalam kaitan lain. Tidak boleh sembarangan, nanti diklarifikasi dulu," ujar Saut dalam pesan singkatnya, Sabtu (2/4/2016).

Menurut Saut, untuk menelusurinya, penyidik membutukan waktu. Agar pihaknya bisa mengetahui sumber uang tersebut, serta melanjutkan pendalaman kasus yang dijalani Sanusi saat ini.

"Untuk mendalami kasus memerlukan waktu dan kesabaran. Jadi saya tidak memaksa-maksa anak buah saya (mendalami) yang terkait, dengan cepat," katanya.

Seperti diketahui, KPK telah menetapkan Sanusi dan Presiden Direktur PT Agung Podomoro Land (PT APL) Ariesman Widjaja, dan Karyawan PT APL, Trinanda Prihantoro, sebagai tersangka.

Sanusi yang merupakan politisi Partai Gerindra itu, diduga sebagai penerima suap dan dijerat Pasal 12 huruf a atau Pasal 12 huruf b atau Pasal 11 Undang-Undang Nomor 31 Tahun 1999 tentang pemberantasan Tipikor sebagaimana diubah dengan Undang-Undang (UU) Nomor 20 Tahun 2001 tentang perubahan atas UU Nomor 31 Tahun 1999 tentang pemberantasan Tipikor juncto Pasal 64 Ayat (1) KUHP.

Sedangkan, Ariesman dan Trinanda ditetapkan sebagai tersangka pemberi suap. Mereka dijerat Pasal 5 Ayat (1) huruf a atau Pasal 5 Ayat (1) huruf b atau Pasal 13 UU Nomor 31 Tahun 1999 tentang pemberantasan Tipikor sebagaimana diubah dengan UU Nomor 20 Tahun 2001 tentang perubahan atas UU Nomor 31 Tahun 1999 tentang pemberantasan Tipikor juncto Pasal 55 Ayat (1) ke-1 juncto Pasal 64 Ayat (1) KUHP.

Untuk kedua tersangka itu, Ariesman dititipkan oleh KPK di Rutan Mapolres Metro Jakarta Pusat. Sedangkan Trinanda ditahan di Rutan Mapolres Metro Jakarta Timur‎.

Penulis: Mohamad Yusuf
Editor: Hertanto Soebijoto
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved