Obat Bius Itu Dijual Rp 35.000, Harus Pakai Resep Dokter

Obat bius yang digunakan untuk membius bayi yang diperalat buat mengemis itu tidak dijual bebas.

Ixdaily
Kaum pengemis tega peralat bayi tak berdosa, yang dicekoki obat tidur atau obat penenang. 

WARTA KOTA, KEBAYORAN BARU -- Obat penenang yang digunakan untuk bayi itu harus dibeli dengan resep dokter.

Obat penenang yang diberikan kepada anak-anak yang dieksploitasi oleh oknum yang mengemis di jalan raya adalah jenis Riklona Clonazepam.
Obat itu diberikan kepada para bayi untuk tertidur saat digendong untuk meminta ‎dan mengambil pundi-pundi uang dari masyarakat yang melintas di jalanan Ibukota Jakarta.
Kapolres Metro Jakarta Selatan mengatakan saat ini polisi saat ini tengah menyelidiki lebih dalam kasus eksploitasi anak dan bayi di kawasan Blok M, Jakarta Selatan. 
Pasalnya, polisi telah mengetahui asal obat penenang yang dipakai 4 tersangka pengeksploitasi anak itu, yakni pasangan suami istri brrinisial ER dan SM, serta dua perempuan IR dan NH.
"Obat penenangnya kami sudah tahu asalnya. Tersangka membelinya dari Blok M. Dia beli begitu saja, padahal harusnya ada resep dokter, obat itu pun tak di jual bebas harusnya," kata Wahyu di Mapolres Metro Jakarta Selatan, Kebayoran Baru, Jakarta Selatan, Minggu (23/3/2016).
Dia menambahkan polisi akan memeriksa tempat penjualan obat penenang tersebut, termasuk perizinannya juga. Lebih jauh, polisi tengah melakukan tes DNA terhadap 17 anak yang dieksploitasi tersangka.

Begitu juga dengan 4 orang dewasa lainnya dan 4 tersangka untuk mengetahui mana saja yang merupakan anak mereka.
"Kami terus menangani kasus ini, Senin (28/3/2016) besok, kami lakukan tes DNA untuk mengetahui mana orangtua kandung, mana yang bukan. Nanti dari situ kami bisa petakan tindak pidana apa saja yang mereka lakukan itu," katanya.
Dia menambahkan bahwa hasil DNA akan keluar dalam satu minggu.‎
Dalam pengungkapan kasus tersebut, kata dia, polisi memerlukan waktu dua bulan untuk mengungkap kasus eksploitasi anak itu lantaran polisi ingin mengungkap modusnya terlebih dahulu dan juga peran para pelaku itu sebab ada dua pasal yang akan dikenakan polisi terhadap para pelaku itu.
"Jika ini dilakukan orangtua, maka akan dikenakan pasal tentang perlindungan anak. Jika bukan orangtua, kami kenakan juga pasal tentang perdagangan anak atau human trafficking," terangnya.
Wahyu pun mengklaim, kalau tingkat kejahatan terhadap perempuan dan anak di Jakarta Selatan ini berkurang.
Apalagi, polisi menggalakan program unggulan untuk mengantisipasi tindak kekerasan terhadap anak dan perempuan itu, salah satunya mensosialisasikan dan mengadakan rumah aman anak di tiap kecamatan Jakarta Selatan.
"Soal statistik kejahatan anak itu sudah menurun, tahun 2014 ke 2015 itu turun 50 persen turun kejahatan anak. Kami akan terus menjaga statistik itu, termasuk dengan mengadakan Unit PPA di tiap Polsek," katanya.
Harga Rp 35.000
Sementara itu, Kanit Krimum Satreskrim Polres Metro Jakarta Selatan, AKP Joynaldo mengatakan untuk satu obat ‎Riklona Clonazepam dijual di kawasan Blok M dengan harga Rp 35.000.
Dia menjelaskan, seharusnya obat yang dicekoki oleh oknum harus menggunakan resep dokter.
Namun, berdasarkan pengakuan tersangka, obat itu dibeli di salah satu apotek di kawasan Blok M.
Pihaknya akan mendalami dan mengembangkan kasus tersebut.
"Satu obat dijual seharga Rp 35.000. Efeknya bisa ditanyakan kepada dokter," kata pria yang akrab disapa Aldo itu.
‎Saat ini, pihak kepolisian akan mengembangkan terkait obat-obatan tersebut. Karena memang diketahui obat itu sangat berbahaya. "Masih dikembangkan dapetnya darimana dan dari siapa?" ucapnya.
Harus Diuji Obatnya
Dihubungi secara terpisah, Psikolog Forensik, Kasandra Putranto menuturkan dalam praktek PMKS, oknum yang membawa bayi selalu memberikan obat penenang yang tidak sesuai. 
Di mana, anak menjadi tidak sadarkan diri dan bisa diajak untuk mengemis.

"Obat semacam untuk serangan cemas atau epilepsi. Karena memang indikasi akan terjadi gangguan pemikiran dan menurunkan kinerja syaraf dan otot," katanya.

Obat itu, seharusnya tidak dijual bebas dan harus mendapatkan resep dokter.

Ketika ditanya harga obat Clonazetpam, Kasandra, tidak bisa menyebutkannya.

"Jadi obat-obat itu harus diuji kebenarannya oleh pihak kepolisian. Setahu saya, sangat sulit mendapatkan obat-obat itu," katanya.‎

Penulis:
Editor: Gede Moenanto
Sumber: Warta Kota
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2020 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved