Pemilukada DKI Jakarta
Tamu Tak Diundang, Mega Nilai Kehadiran Basuki Hanya Buat Cari Popularitas
Megawati memang politisi yang tidak pernah takut dengan siapa saja apalagi hanya seorang Basuki, yang mencari popularitas.
WARTA KOTA, PALMERAH -- Ketua Umum PDIP, Megawati Soekarnoputri paham betul tindak tanduk sejumlah pihak termasuk kalangan haters alias pembenci dirinya.
Mega mengerti, dirinya sering dijadikan sebagai sasaran bullying, khususnya para pendukung Basuki Tjahaja Purnama alias Ahok itu, tapi Mega menanggapi aksi itu secara dingin.
Ketegangan di antara PDIP dan kubu Basuki di antaranya terjadi karena Basuki menyerang PDIP dengan menyebut salah satu hal yang membuat dia tidak mau diusung parpol adalah terkait mahar.
Tuduhan itu dianggap tidak benar karena diketahui kemudian, Basuki maju secara independen dengan menggandeng Heru Budi Hartono, tapi ternyata mencari dukungan parpol di antaranya dengan klaim diusung empat parpol.
Reaksi di antaranya diberikan oleh Wali Kota Surabaya, Tri Rismaharini alias Risma yang menyebut, dia sama sekali tidak diminta mahar dengan maju lewat parpol yaitu PDIP, sehingga dia balik menuding justru yang maju lewat jalur independen benar-benar orang yang haus kekuasaan.
Ketegangan bertambah karena Wakil Gubernur DKI Jakarta, Djarot Saiful Hidayat membongkar posko Teman Ahok, yang menggunakan aset Pemprov DKI Jakarta.
Basuki balas menuding PDIP menggunakan aset Pemprov DKI Jakarta sebagai kantor.
Sedangkan Yusril Ihza Mahendra membongkar Basuki yang menerima gratifikasi Rp 4,5 miliar sebagai bakal calon Gubernur DKI Jakarta tanpa diproses hukum secara tegas oleh Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK).
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/wartakota/foto/bank/originals/20151203-joko-widodo-dan-megawati-soekarnoputri_20151203_103343.jpg)