Sopir Mikrolet: Kami seperti Dibunuh Pelan-pelan
Wajar kami melakukan aksi mogok sebagai bentuk protes ke pemerintah. Kalau ojek online terus dibiarkan, itu namanya membunuh kami pelan-pelan, katanya
Penulis: Feryanto Hadi |
WARTAKOTA, SENEN - Pria beruban itu sedang duduk lesu di sudut Terminal Senen, Jakarta Pusat ketika Warta Kota menghampirinya, Senin (22/3).
Tetapi, sangat tampak kekesalan di raut mukanya. Ia mengaku sedang kehabisan akal untuk mencukupi kebutuhan hidup keluarganya.
Usaha keras yang ia lakukan pagi hingga malam menjadi sopir mikrolet, hanya menghasilkan lelah. Semua itu terjadi, kata Warno, semenjak kemunculan ojek berbasis aplikasi.
"Sudah hampir setahun ini kami seperti dijajah oleh angkutan yang sebenarnya menyalahi undang-undang. Di mana keberadaan pemerintah sampai melindungi sesuatu yang salah, yang melanggar seperti itu?" ketus Warno.
Hari ini untuk kedua kalinya ribuan angkutan umum di Jakarta melakukan aksi mogok dan demonstrasi ke beberapa titik. Begitu juga Warno dan ratusan pengemudi mikrolet di Terminal Senen yang memilih memarkir kendaraan sebagai rasa solidaritas.
"Wajar kami melakukan aksi mogok sebagai bentuk protes ke pemerintah. Kalau ojek online terus dibiarkan, itu namanya membunuh kami pelan-pelan," katanya.
Semenjak ojek berbasis online marak di jalanan Jakarta, praktis penghasilan pengemudi angkutan umum plat kuning anjlok.
Kata Warno, dari sebelumnya mengantongi Rp500 ribu per hari, kini pendapatan maksimal hanya Rp300 ribu. Itu terjadi lantaran pelanggan setia mikrolet yakni pekerja dan mahasiswa sebagian besar beralih menggunakan jasa ojek online.
"Dari pendapatan Rp300 ribu, untuk setoran Rp140 ribu. Sisanya buat BBM. Saya hanya bawa pulang Rp20 ribu per hari."
Warno mengaku akhir-akhir ini pikirannya stres lantaran penghasilannya itu tidak sebanding dengan kebutuhan hidup ia dan keluarganya.
"Anak saya ada lima, baru satu yang sudah pisah. Tiap bulan saya juga harus bayar kontrakan Rp500 ribu. Bayangkan, penghasilan sehari Rp20-30 ribu apa ya cukup buat semua itu? Ini saja sudah dua bulan saya nunggak bayar kontrakan, sudah dikejar-kejar pemilik kontrakan."
Keluhan sama dikemukakan pengemudi mikrolet lain bernama Udin (26). Penghasilannya turun drastis sejak ojek online menjadi booming.
"Narik tiap hari cuma wira-wiri saja nggak ada penumpangnya. Kerja banting tulang tapi hasilnya kecil," kata supir Mikrolet 01 jurusan Kampung Melayu-Senen ini.
"Saya bingung sekarang harus bagaimana. Kebutuhan hidup terus meningkat tapi penghasilan menurun drastis. Buat makan saja kami kewalahan, apalagi bayar uang kontrakan.
Tidak banyak yang dituntut oleh para pengemudi angkutan umum plat kuning, kata Udin.
"Dari bajaj, mikrolet, kopaja, taksi, semuanya mengeluh sama. Permintaan kami cuma satu. Larang angkutan berbasis online itu beroperasi. Pemerintah harus tegas dan jangan bangga membiarkan pihak-pihak tertentu menyalahi undang-undang. Kami memang orang goblok, orang kecil, tapi tolong dengar permintaan kami ini," kata Udin mengakhiri pembicaraan. (fha)
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/wartakota/foto/bank/originals/20160322sopir-mikrolet-kami-seperti-dibunuh-pelan-pelan_20160322_143606.jpg)