Jumat, 1 Mei 2026

Ayah dan Ibu Bernyanyi, Anak pun Bahagia

Ayah dan ibu yang menyanyikan lagu untuk anaknya membuat mereka bahagia.

Tayang:
Penulis: |
Daily Mail
Ilustrasi, kasih sayang ibu dan ayah kepada anak mereka. 

WARTA KOTA, PALMERAH -- Seorang ibu muda bercerita, ketika masih lajang, momen paling bahagia ketika gajian dan bisa membeli barang yang diinginkan.

Entah sepatu, tas, atau pakaian. Kini setelah punya bayi, bahagia bisa tak kenal waktu.

Saat bayinya pertama kali bisa tersenyum saja, hatinya ‘berbunga-bunga’ bahagia.

Pertama kali berkata ‘mama’, menghabiskan seporsi nasi tim, atau mulai berjalan dan banyak momen yang membuat ibu ini bahagia.

Brand Manager Lactogrow, Gusti Kattani Maulani mengatakan, dari survei yang dilakukan, rata-rata para ibu mengatakan, sudah cukup bahagia.

Seperti juga Kinanti, mereka menganggap bahagia itu sederhana. Bisa pergi bersama keluarga saat weekend saja sudah bahagia, dan juga melihat suami mereka terlibat dalam pengasuhan si kecil juga jadi jawaban para ibu tentang makna kebahagiaan.

“Mereka justru takut anak-anaknya yang kurang bahagia karena hanya punya waktu sedikit dengan keluarga (orangtua, Red). Apalagi ibu yang juga bekerja, ditambah kondisi macet yang membuat pulang malam, dan anak-anak sudah tidur ketika sampai di rumah,” kata Gusti di acara Nestle Lactogrow  dengan tema Happy Date With Legendaddy at Winter Land di Kota Kasablanka, Sabtu (27/2/2016).

“Jika ada yang bilang, bahagia itu sederhana, memang betul. Sumber kebahagiaan itu ada di rumah,” kata Kinati (25).

Bagaimana dengan Anda?

Para ibu juga menyatakan pola asuh anak berperan penting dalam menentukan kebahagiaan keluarga. Misalnya pola makan yang teratur karena hal itu menyangkut kesehatan anak yang berujung pada kebahagiaan keluarga.

Selain itu,  mereka juga menyatakan keharmonisan dan kerjasama yang baik antara ibu dan ayah dalam pengasuhan anak sebagai faktor penting dalam menyempurnakan  kebahagiaan keluarga.

Meluangkan waktu untuk bermain bersama anak dan beraktivitas akhir pekan dengan keluarga juga merupakan hal sederhana yang dapat dilakukan untuk meningkatkan keharmonisan hubungan keluarga.

Psikolog, Rini Hildayani mengatakan, kebahagiaan keluarga bisa dlihat dari bagaimana hubungan orangtua dan anak yang terjalin harmonis.

Baik secara emosional atau dekat secara fisik. Semakin bertambah usia anak, bisa lebih dijalin hubungan dengan saling berdiskusi.

Bila sudah terjadi hal ini, orangtua bahagia melihat anak, anak juga bahagia melihat hubungannya dengan orangtua.

Sesempit waktu yang dimiliki orangtua, harus bisa bermain dengan anak. Terutama anak yang masih balita.

“Hubungan orangtua dan anak harus diperkuat terus. Saat balita, bermain jadi pekerjaan mereka. Orangtua harus mau memberikan hak bermain bersama mereka. Bikin kegiatan bermain yang berkualitas,” tegas Rini.

Soal tidak ada waktu yang menjadi alasan orangtua menurut Rini hanya soal pilihan.

Antara mau atau tidak meluangkan waktu.

Sesempit apapun sebenarnya harus bisa dan mau. Agar kebahagiaan orangtua dan anak terwujud.

Bermain bersama anak bisa dilakukan orangtua sesempit waktu yang ada. Jangan pula berpikir ‘mati gaya’  bila tidak ada mainan.

Orangtua bisa menjadi obyek bermain.

Misalnya, mengenal pipi, hidung, sambil dibunyikan ketika dipegang bagian wajah itu. Anak-anak biasanya akan tertawa ketika memegang pipi atau hidung lalu berbunyi…tet tot misalnya.

Menyanyi tidak perlu MP3.

Sesumbang suara ayah atau ibunya, anak-anak lebih suka bernyanyi bersama orangtuanya.

“Anak-anak mudah dibuat bahagia. Kalau orangtua bilang nggak ada waktu, sebenarnya mau atau tidak. Itu yang susah,” tegas dosen psikologi di Universitas Indonesia ini.  

Rini juga mengingatkan pentingnya keterlibatan kedua orangtua, baik ayah dan ibunya.

Sejumlah penelitian menyebutkan keterlibatan maksimal orangtua, khususnya ayah dalam pengasuhan terbukti dapat membantu anak tumbuh dan berkembang dengan lebih baik.

“Interaksi dan pengalaman yang dialami anak ketika bersama dengan ayah dapat mempengaruhinya hingga dewasa.

Perkembangan kognitif dan sosial emosi anak juga dipengaruhi oleh kedekatan dan hubungan emosional yang dibangunnya  bersama ayah.

Dalam pengasuhan, orangtua termasuk ayah juga harus peka terhadap kebutuhan anak. Termasuk kebutuhan mereka untuk merasa bahagia,” kata Rini.

Orangtua yang mengasuh anak-anaknya dengan bahagia juga akan membangun karakter positif bagi anak-anaknya.

Karakter positif diantaranya suka menolong, pantang menyerah, setia, disiplin, dan lainnya.

Tidak hanya lingkungan yang bahagia, tumbuh kembang anak juga dipengaruhi oleh kesehatannya. Kesehatan bisa didapat dari nutrisi yang masuk ke tubuh anak.

“Orangtua pasti paham, nutrisi penting untuk tumbuh kembang anak. Orangtua akan menyiapkan selengkap mungkin nutrisi yang masuk ke anak-anaknya agar bisa tumbuh kembang optimal,” kata pakar gizi medik Dr dr Saptawati Bardosono M.Sc dari Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia di kesempatan yang sama.

Pemberian makan ke anak bisa jadi salah satu kebahagiaan bagi anak juga. Tapi sebaliknya kalau saat pemberian makan anak merasa takut dan trauma, akan membuat anak  tidak bahagia.

Diperlukan sensitivitas orangtua untuk melihat apakah anak sudah kenyang, porsi anak, makanan yang bernutrisi dan disukai anaknya, waktu pemberian makan, cara memberikan makan yang sesuai agar proses pemberian makan menjadikan momen  bahagia anak.

Pada kesempatan itu, dokter Saptawati juga mengingatkan pentingnya kesehatan sistem pencernaan yang merupakan salah satu faktor penting bagi anak-anak untuk tumbuh dan berkembang menjadi anak yang bahagia dan aktif.

“Organ imunitas terbesar ada di dalam saluran cerna. Oleh karena itu, penting untuk memastikan saluran cerna dalam keadaan sehat agar dapat menjalankan berbagai fungsinya, termasuk di antaranya untuk menyerap zat gizi dari makanan,” katanya.

Saluran cerna yang sehat akan menunjang tumbuh kembang anak, baik secara fisik maupun  secara mental dan sosial.

Saluran cerna yang tidak sehat akan menyebabkan terjadinya gangguan pencernaan yang tidak hanya mempengaruhi fungsi saluran cerna dan perkembangan otak anak tetapi juga kondisi psikologis anak dan orangtua.

Tanda saluran cerna sehat, adanya keseimbangan atau lebih banyak bakteri sehat (probiotik). Bakteri sehat akan banyak bila ada makananya (prebiotik).

Salah satu sumber prebiotik terdapat di susu.

Secara khusus, dokter Saptawati menjelaskan, ada hubungan timbal balik antara sistem saluran cerna dan sistem saraf. Ketika sistem pencernaan sehat akan memberikan sinyal positif ke sistem saraf juga dan sebaliknya.

“Orangtua akan bahagia kalau tumbuh kembang anak optimal dan anak tidak gampang sakit. Anak juga bahagia karena tidak ada keluhan sakit perut, tidak nangis karena sakit perut, diare dan lainnya,” tegas staf pengajar di Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia.

Sementara itu, untuk membantu ayah dan ibu menikmati waktu berkualitas dengan buah hati, Lactogrow mempersembahkan lagi arena permainan.

Setelah tahun lalu sukses menghadirkan pasir bak pantai, kali ini tema yang diambil  taman ‘bersalju’ di pusat perbelanjaan Kota Kasablanka. Berlangsung mulai 26 Februari hingga 6 Maret 2016.

Sumber: WartaKota
Ikuti kami di

Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved