Breaking News:

Gerhana Matahari

Warga Antusias Sambut Gerhana Matahari

Antusiasme warga yang sudah terlihat sejak tengah malam hingga menjelang pagi.

Penulis: | Editor: Gede Moenanto
WARTA KOTA/Angga Bhagya Nugraha
Warga menyemut saksikan fenomena bersejarah, gerhana matahari secara langsung di DKI Jakarta. 

WARTA KOTA, MENTENG -- 'Sayang untuk dilewatkan', 'kapan lagi' ataupun 'langka', sebagian ungkapan tersebut disampaikan ribuan warga Ibu Kota DKI Jakarta yang berkumpul dan menantikan detik-detik terjadinya gerhana matahari di pelataran Taman Ismail Marzuki (TIM), Menteng, Jakarta Pusat pada Rabu (9/3) pagi.

Antusiasme warga yang sudah terlihat sejak tengah malam hingga menjelang pagi memang beralasan. Karena bukan hanya terjadi dalam kurun waktu tertentu, gerhana matahari total ke empat dalam tiga dekade terakhir kali ini memang sangat spesial karena hanya terjadi di wilayah Indonesia dan sebagian kawasan Pasifik.

Beragam cara pun dilakukan oleh para pengunjung TIM dalam menyambut datangnya gerhana matahari.

Beberapa pengunjung terlihat berdoa, mempersiapkan kamera ataupun saling berbincang mengenang gerhana matahari sakral yang terjadi pada Sabtu, 11 Juni 1983 silam.

Seperti halnya Euis Lidya Kinanti (55) warga Menteng, Jakarta Pusat. Dirinya yang terlihat datang bersama sejumlah teman semasa SMA-nya dulu itu mengaku antusias menunggu datangnya gerhana matahari. Kehadiran alumni SMA Santa Ursula itu memang telah direncanakan lama, karena janji berkumpul dirinya bersama beberapa sahabatnya itu dikatakannya, sekaligus untuk mengenang masa lalu.

"Kita ini dulu di SMA anak-anak fotografi, jadi setiap kali gerhana pasti lihat langsung. Waktu gerhana dulu-tahun 83, kita sampai ngumpet-ngumpet motretnya, karena kan waktu itu memang dilarang. Kita sampai naik ke loteng sekolah, supaya bisa dapet gambar bagus," ceritanya disambut gelak tawa beberapa orang sahabatnya.

Namun, lanjutnya, seiring dengan pengetahuan dan informasi, gerhana matahari yang sebelumnya dinilai tabu serta banyak mitos yang menyertainya kini berubah menjadi hal yang dinantikan. Justru, Presiden Joko Widodo pun diungkapkannya, turut menantikan dan melihat secara langsung gerhana di Istana Bogor, Jawa Barat.

"Kalau sekarang kan enak, udah modern, jadi kalau ada apa-apa semuanya terbuka. Beda waktu zaman Presiden Soeharto, nggak tahu ada apa, tapi bener semuanya percaya, apalagi dulu dijaga ketat sama polisi," ungkapnya.

Keterangan Lydya memang terbukti benar, keramaian pengunjung TIM terlihat tidak hanya diwarnai oleh kalangan dewasa semata, ratusan anak-anak pun terlihat ikut dalam antrean pembagian kacamata gratis oleh pihak Planetarium dan Observatorium Jakarta TIM.

Antusiasme mereka pun tidak kalah dengan orang dewasa, anak-anak terlihat bermain satu dengan lainnya, tidak terlihat rasa kantuk dari mereka hingga detik-detik pergantian gerhana yang terjadi pada pukul 07.20 WIB. Mereka pun terlihat lebih bersiaga mengenakan kacamata hitam yang dibagikan ataupun ikut mengantri bergantian untuk melihat gerhana dari balik teleskop yang disiapkan.

"Oh gerhana itu kayak gitu ya, tapi nanti balik lagi nggak om mataharinya? Kok bisa gitu sih? Besok ada lagi nggak?," celoteh Ami (7) berbalik bertanya kepada Warta usai melihat puncak gerhana matahari yang terjadi tepat pukul 07.20 WIB.

Mendengar pertanyaan anak perempuan itu, kedua orangtuanya, Ismana (38) dan Maria (35) warga asal Menteng, Jakarta Pusat itu pun spontan tertawa. Sang ayah, Ismana hanya menjelaskan singkat bila gerhana matahari terjadi karena matahari dan bulan dalam posisi sejajar.

"Kalau orangtua dulu, termasuk orangtua saya bilang jangan sampai lihat gerhana matahari, apalagi kalo lagi hamil, karena nanti anaknya bisa tompelan. Itu nggak bener, makanya saya bawa anak saya ke sini (TIM-red), saya jelasin ke anak saya hal yang bener, bukan mitos," ungkapnya sembari mengelus kepala anaknya yang terkagum melihat gerhana.

Salat Gerhana

Berbagai cara dilakukan dalam menyambut gerhana, tidak terkecuali bagi umat muslim, yakni lewat shalat gerhana. Hal tersebut seperti yang dilakukan oleh Nday, staf Kantor Wali Kota Jakarta Pusat. Dirinya yang memang kebetulan libur, mengaku lebih memilih menunaikan shalat gerhana di Masjid Al Anwar di Jalan Berdikari, Kemandoran, Jakarta Barat.

Hal tersebut disampaikannya, lantaran gerhana matahari adalah fenomena langka dan banyak pahala yang dapat didapat apabila melaksanakan shalat gerhana. "Kalau saya ya mendingan shalat gerhana, karena kapan lagi bisa ngerasain. Kan jarang-jarang kejadian kayak gini, umur kita siapa yang tau,"  ungkapnya enteng.

Keterangan Nday memang beralasan, sebab berdasarkan data terkait fenomena gerhana matahari dunia, termasuk Indonesia yang terangkum dalam buku NASA Reference Publication 1178 Revised berjudul Fifty Year Canon of Solar Eclipses 1986-2035 yang ditulis oleh Fred Espenak, Goddard Space Flight Center Greenbelt, Maryland pada tahun 1987, gerhana matahari total di Indonesia akan terjadi pada Kamis, 20 April 2023 mendatang.

Gerhana yang diprediksi akan terjadi di wilayah Timur Indonesia, seperti Nusa Tenggara Timur, Papua Barat Daya dan Papua Timur Laut serta pulau Biak itu diperkirakan hanya terjadi dalam waktu 1 menit 16 detik itu terjadi di penghujung Bulan Ramadhan atau 29 Ramadhan 1444 Hijriah.

Sumber: Warta Kota
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved