Dini Handayani Nikmati Manisnya Usaha Kuliner Dari Olahan Jambu Biji Merah

Dengan bendera usaha Rumah Jambu, telah berhasil meracik jambu biji merah menjadi 12 varian produk kuliner.

Dini Handayani Nikmati Manisnya Usaha Kuliner Dari Olahan Jambu Biji Merah
Warta Kota/ign agung nugroho
Dini Handayani 

WARTA KOTA, PALMERAH -- Bermula dari banyaknya pohon jambu biji merah yang tumbuh subur, berbuah banyak, dan terbuang di lingkungan sekitar rumahnya, menginspirasi Dini Handayani (45) untuk  mengolahnya menjadi sesuatu yang bermanfaat.

Berkat kreatifitasnya, ibu dua anak tersebut  terbilang sukses mengolah jambu biji merah menjadi aneka kue, dan produk kuliner lainnya berbahan dasar buah yang sarat kandungan vitamin itu.

Dengan bendera usaha Rumah Jambu, Dini Handayani saat ini telah berhasil meracik jambu biji merah menjadi 12 varian produk kuliner.

Di antaranya, bonies (bolu manis) jambu merah, bolung (bolu gulung) jambu merah, puding jambu merah, cream jambu merah, selai jambu merah, juice jambu merah, dll.

Harga produk kreasi Rumah Jambu itu dibanderol di kisaran Rp 25.000 sampai dengan Rp 30.000 per kemasan.

Dini mengaku sampai saat ini, ia mengolah sendiri pesanan-pesanan dari konsumen.

Semua dia kerjakan di kediamannya sekaligus tempat usahanya di Perumahan Villa Pabuaran Indah, Bojong Gede, Kabupaten Bogor, Jawa Barat. 

Perempuan yang sempat kerja kantoran di salah satu perusahaan perbankan itu,  mulai merintis usaha Rumah Jambu pada awal tahun 2013.

Jatuh bangun pun sempat dialami Dini. Bahkan, ia sempat menutup usaha selama satu setengah tahun.

"Waktu awal merintis usaha ini langsung direspon Pemda Kabupaten Bogor karena dianggap produk baru,  apalagi daerah sini Bojong Gede, Citayam dikenal luas penghasil buah jambu merah. Produk saya (oleh Pemda Kabupaten Bogor) disertakan dalam pameran UKM hingga dibantu didaftarkan ke HAKI," kata  Dini kepada Warta Kota baru-baru ini.

Di saat usahanya mendapat 'angin segar', plus meraup keuntungan dari hasil pameran,  Dini pun membuka outlet di kawasan Cibinong, Bogor.
 
"Mungkin karena lokasinya kurang strategis jadi sepi pembeli. Uang habis banyak untuk bayar kontrakan pemasukan nggak ada. Saya sempat stres juga. Makanya sempat vakum sampai satu setengah tahun. Oktober 2015 saya coba bangkit lagi, dan saya pasarkan lewat media sosial dan rajin ikut pameran. Alhamdulillah bisa bertahan sampai sekarang," katanya.

"Sekarang saja Alhamdulillah  pesanan (konsumen) dari facebook (FB), instagram,  dan dari mulut ke mulut sudah lumayan banyak," kata Dini.

Perempuan yang memiliki ketrampilan memasak secara ototidak mengaku dalam satu minggu, dia bisa meraup omzet Rp 4.000.000 sampai dengan  Rp 5.000.000. 

Omzet yang didapat Dina ini belum termasuk bila dia membuka stan dalam ajang  pameran.

"Kalau pameran saya  senang karena cepat habis. Karena banyak yang penasaran jambu merah bisa diolah jadi kue. Jadi banyak yang borong," katanya. 

Lalu apa istimewanya produk olahan jambu biji merah dari Rumah Jambu ini?

"Yang pasti saya tidak memanipulasi rasa. Rasa kuenya benar-benar dari  jambu merah. Kalau dimakan terasa krese-krese jambu. Jadi kita makan jambu dalam bentuk kue," katanya.

Selain itu, jambu yang digunakan adalah jambu yang sudah matang. "Kalau jambu yang matang aroma wangi jambunya sangat terasa dan harum," kata istri dari  Agus Setia Wahyudi itu.

Sementara, di balik langkah Dini bisnis kuliner dari bahan jambu biji merah, ia juga memiliki misi ingin melestarikan tanaman jambu.

"Di sini banyak jambu sampai terbuang-buang,  padahal jambu merah banyak manfaatnya dan bila diolah hasilnya pun lumayan," katanya.

Dini pun merasa yakin suatu saat pohon jambu biji merah akan menjadi pohon langka dan cari banyak orang, mengingat buah yang  sarat vitaman itu justru diabaikan. 

Apalagi buah jambu biji merah kerap dicari untuk dikonsumsi bagi penderita demam berdarah (DBD).

Penulis: Ign Agung Nugroho
Editor: Gede Moenanto
Sumber: Warta Kota
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved