Breaking News:

Mahasiswa Tewas di Danau UI

Polisi dan Ayah Akseyna Ditantang Sumpah Pocong oleh Penjaga Rumah Kos

Edi Sukardi (43) penjaga kos Wisma Widya di Gang Usman, Kukusan, Beji, Depok, menantang polisi dan ayah Akseyna Ahad Dori (18) melakukan sumpah pocong

Penulis: Budi Sam Law Malau | Editor: Suprapto
Wartakotalive/Budi Sam Law Malau
Kolonel Sus Mardoto bersama istri (Orangtua Akseyna) dan anggota TNI AU di Mapolresta Depok, Jumat (17/4/2015) 

WARTA KOTA, DEPOK— Edi Sukardi (43) penjaga kos Wisma Widya di Gang Usman, Kukusan, Beji, Depok, menantang polisi dan ayah Akseyna Ahad Dori (18) melakukan sumpah pocong.

"Saya tantang mereka supaya sumpah pocong saja. Kalau saya bohong maka saya yang kena, tapi kalau saya benar, maka yang menuduh sayalah yang kena," kata Edi saat ditemui Wartakotalive.com, Rabu (2/3/2016).

Edi mengakui bahwa secara terbuka penyidik dan keluarga Akseyna Ahad Dori (18) mencurigai dirinya sebagai pembunuh Akseyna alias Ace.

Akseyna adalah mahasiswa Biologi Fakultas MIPA Universitas Indonesia yang ditemukan tewas mengambang di Danau Kenanga UI, Kamis (26/3/2015), setahun lalu.

Jenazahnya teridentifikasi beberapa hari kemudian. Awalnya Akseyna diduga bunuh diri. Namun hasil otopsi dan penyelidikan membuat polisi yakin bahwa Akseyna dibunuh.

Sebelum ditemukan tewas, Akseyna menyewa rumah kos Wisma Widya yang dikelola Edi bersama istrinya, Maryamah.

Menurut Edi tudingan secara terbuka bahwa dirinya pelaku pembunuhan Akseyna dilakukan penyidik saat ia dipertemukan dengan ayah Akseyna, Kolonel (Sus) Mardoto, dalam sebuah pemeriksaan polisi belum lama ini.

"Katanya keterangan saya dikonfrontir dengan keterangan ayah Akseyna. Dari sana saya dituduh oleh ayah Akseyna dan penyidik sebagai pelaku pembunuh Akseyna," kata Edi saat kembali dikonfirmasi Warta Kota, Rabu (2/3/2016).

Sumpah pocong

Edi mengaku langsung membantahnya. Bahkan ia mengaku menantang penyidik dan ayah Akseyna untuk melakukan sumpah pocong guna membuktikan bahwa bukan dirinyalah pembunuh Akseyna.

"Saya tantang mereka supaya sumpah pocong saja. Kalau saya bohong maka saya yang kena, tapi kalau saya benar, maka yang menuduh sayalah yang kena," kata Edi.

Menurut Edi, saat itu penyidik kepolisian tetap mencurigainya dan bahkan mengatakan sikap orang yang salah adalah seperti yang dilakukannya.

"Penyidik bilang, semua orang yang salah selalu membantah dan ngajak sumpah pocong seperti yang saya katakan. Lalu saya bilang, saya nggak mau sekedar sumpah di atas Al-quran. Tapi sumpah pocong saja, kalau saya yang berbuat, besok atau seminggu kemudian pasti mati. Tapi kalau enggak, yang nuduh yang mati," kata Edi.

Namun kata Edi, penyidik dan ayah Akseyna enggan memenuhi tantangannya. Sehingga sumpah pocong tak jadi dilakukan.

Edi menjelaskan setelah ia menanyakan alasan penyidik dan ayah Akseyna menuduhnya sebagai pembunuh Akseyna, ternyata karena keterangan dirinya dianggap berubah-ubah dan tidak tepat.

"Dulukan katanya Akseyna bunuh diri, ya saya ngikutin, saya bilang dia bunuh diri, sampai kemarin juga. Lalu bapaknya nuntut saya, kenapa saya yakin Akseyna bunuh diri. Padahal saya cuma ngikutin statement polisi saja. Saya orang awam yang nggak tahu apa-apa," kata Edi.

Karenanya, menurut Edi, alasan ayah Akseyna dan penyidik menuduh dan menduga dirinya pembunuh Akseyna sangat tidak masuk akal.

"Lalu alasan lain ayah Akseyna menuduh saya begini, katanya karena saya dititipin anak, jadi saya harusnya tanggung jawab. Saya balas, Pak kalau saya dititipin, apakah saya harus jaga dia selama 24 jam. Sebab kalau di luar kos, saya nggak tahu kegiatannya. Bahkan, kuliah apa nggak saja, saya nggak tahu," kata Edi.

Apalagi kata Edi, Akseyna adalah sosok yang pendiam. "Yang penting bayar lancar. Dan Akseyna itu anaknya gak rese atau gaduh. Jadi gak pernah saya tegur. Kecuali kalau rese, baru saya tegur," kata Edi.

Menurut Edi, atas misteri kasus tewasnya Akseyna ini, ia berharap polisi bisa mengungkapnya.

Ia juga berharap keluarga Akseyna bisa menerima semuanya dengan ikhlas. "Keadaan sudah menuliskan begini, jadi ayah Akseyna ya harus terima. Jangan jadinya saya yang didesak-desak terus. Capek juga saya, kalau diperiksa terus," kata Edi.

Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved