Hanoman Meriahkan Karnaval Cap Go Meh
Perayaan Cap Go Meh berlangsung meriah dengan dihadiri Menko PMK Puan Maharani.
WARTA KOTA, GAMBIR -- Sejumlah kawasan larut dalam kemeriahan perayaan Cap Go Meh.
Dua pekan selepas Tahun Baru Imlek yang jatuh pada Senin (8/2/2016) telah berlalu, Cap Go Meh yang merupakan puncak perayaan Tahun Monyet Api sesuai dengan shio tahun 2016 pun digelar.
Namun, berbeda dengan perayaan Cap Go Meh sebelumnya, akulturasi budaya terlihat kentara, iring-iringan Hanoman justru terlihat menjadi pusat perayaan.
Teriknya matahari pada Minggu (21/2/2016) siang rupanya tidak menyurutkan minat ratusan ribu masyarakat Ibukota untuk tumpah ruah di sepanjang Jalan Gajahmada dan Jalan Hayam Wuruk, Gambir, Jakarta Pusat. Seluruh masyarakat dari berbagai kalangan berkumpul untuk menyaksikan karnaval Cap Go Meh 2016.
Lama menunggu, tiba akhirnya iring-iringan karnaval dimulai, samar-samar dari kejauhan, suara khas alat musik pengiring barongsai terdengar dari jauh. Warna warni seragam peserta karnaval maupun patung dewa yang terlihat dari kejauhan pun memancing warga untuk berhamburan ke tengah jalan.
Tidak menunggu lama, sepasang Singa Barongsai terlihat menari di tengah kerumunan, disusul Barongsai Naga yang terus meliuk-liuk menunjukkan atraksinya. Kemeriahan karnaval tidak berhenti pada kedua simbol kekuatan masyarakat Tionghoa puluhan dewa-dewa yang dipanggul oleh empat orang pada setiap arakan terlihat memancing para penonton untuk berfoto ria.
Hingga tiba saatnya, Hanoman, Dewa Kera, kepercayaan umat Hindu tiba. Layaknya hidup, para pengarak terlihat mengangkat patung Hanoman naik dan turun serta berputar-putar. Teriakan khas para pengarak pun membawa suasana terlihat hidup, belum lagi gerakan kepala dan tangan Hanoman yang bergoyang-goyang.
Berbeda pada pagelaran perayaan Cap Go Meh dari tahun sebelumnya, akulturasi budaya yang mengalir cukup kental. Tidak hanya diisi oleh kesenian maupun budaya Tiongkok, karnaval juga diramaikan oleh sejumlah kelompok budaya dari nusantara.
Di antaranya, terlihat suara perangkat tanjidor yang mengiringi ondel-ondel, Sisingaan dari Jawa Barat, Reog Ponorogo juga tak kalah menyita perhatian warga di lokasi.
Tidak hanya itu, puluhan pria dan wanita lengkap dengan kostum dan senjata khas Dayak, Kalimantan pun mengisi barisan akhir karnaval yang disusul dengan rombongan kendaraan hias yang ditumpangi Abang None Jakarta dan Koko Cici menutup barisan.
Karnaval tersebut diungkapkan, Ketua Karnaval Cap Go Meh 2016, Charles Honoris sesuai dengan shio tahun ini, Kera Hanoman menjadi ikon utamanya. Dimana, di Tahun Monyet Api, Hanoman merupakan simbol akulturasi budaya nusantara. Untuk itu, nasionalisme menjadi tema pada karnaval Cap Go Meh kali ini.
"Kawasan Glodok salah satu pusat keturunan Tionghoa di Jabodetabek. Kita juga ingin menghidupkan kembali budaya yang ada. Belakangan, Cap Go Meh juga menjadi salah satu budaya nusantara," terang Charles.
Terakhir kali, perayaan Cap Go Meh Glodok berlangsung pada tahun 1962. Tahun ini, antusiasme peserta karnaval cukup tinggi. Tercatat ada 2.418 peserta dari berbagai kelompok budaya Tionghoa dan budaya lokal di nusantara.
Di dalamnya turut diarak sebanyak 70 Joli dewa-dewa dari berbagai Vihara.
"Yang ditampilkan disini tidak hanya kesenian pertunjukan serta adat istiadat hasil peranakan Tionghoa dan Nusantara saja. Turut kita kenalkan kuliner-kuliner khas dari berbagai budaya," katanya.
Menteri Koordidnator Bidang Pembangunan Manusia dan Kebudayaan (Menko PMK) Puan Maharani mengaku bangga dan sangat antusias bisa hadir dan membuka kegiatan Karnaval Cap Go Meh. Menurut Puan, Karnaval Cap Go Meh bukan sekadar budaya Tionghoa yang dimilikinya secara turun temurun, tetapi juga terdapat pesan penting kebhinekaan dan persaudaraan.
"Kehadiran masyarakat Tionghoa beserta budayanya sejak berabad-abad lalu telah memperkaya khasanah budaya Nusantara. Hingga kini, Perayaan Imlek maupun Karnaval Cap Go Meh bukan hanya tertutup bagi masyarakat Tionghoa saja tapi juga telah melibatkan berbagai etnis lain yang eksis di Nusantara," kata Puan Maharani, dalam sambutan acara Karnawal Cap Go Meh, Minggu (21/2/2016).
Dalam kesempatan yang sama, Puan mengingatkan kembali bahwa bangsa Indonesia memiliki potensi yang luar biasa, baik dari segi sumber daya manusia maupun alamnya. Potensi tersebut haruslah dimaksimalkan agar kita menjadi bangsa yang mampu bersaing dan menjadi bangsa yang unggul. Di samping itu, lanjut Puan, Indonesia juga memiliki keragaman yang sangat luar biasa.
"Maka keragaman yang dimiliki oleh bangsa Indonesia sudah seharusnya dikelola menjadi energi yang positif. Untuk menuju tata kehidupan yang maju dan modern," ujarnya
Untuk itulah, Puan mengajak semua komponen bangsa untuk selalu memelihara dan menjaga keberagaman sebagai modal untuk membangun generasi muda yang berkualitas dan kompetitif dalam menghadapi bangsa-bangsa lain di dunia. Terlebih, pada tahun 2016 ini, Indonesia dihadapkan pada berlakunya Masyarakat Ekonomi ASEAN.
"Tidak ada pilihan lain, kecuali kita berbenah diri, melalui pembangunan sumber daya manusia yang berkualitas dan profesional, menjadi bangsa yang toleran, ramah dan santun, dengan alamnya yang harus tetap terpelihara. Marilah kita berubah untuk lebih maju, namun dengan menjaga martabat dan jati diri bangsa," tandasnya.
Dalam menghadapi situasi persaingan global, Puan mengajak umat Tionghoa dan seluruh umat beragama untuk terus meningkatkan pembinaan internal umat masing-masing, meningkatkan silaturahmi, merajut kebhinnekaan dan menjalin persaudaraan. Sehingga dengan berbagai pengalaman dan tantangan yang telah dialami selama ini bisa berusaha dengan sekuat tenaga untuk meningkatkan kesejahteraan rakyat.
Dengan makna Karnaval cap Go Meh ini sebagai implementasi kebhinekaan dan persaudaraan, lanjut Puan, maka pesan ini juga sejalan dengan dengan nilai-nilai dalam Gerakan Nasional Revolusi Mental yang menjadi program pemerintah.
"Perayaan Cap Go Meh merupakan contoh implementasi nilai-nilai integritas, etos kerja dan gotong royong sehingga mampu mempersatukan berbagai lapisan masyarakat maupun budaya yang ada," kata Puan
Menurut Puan, sikap mental yang penuh rasa optimis terlihat dari simbol dan ornamen dalam bentuk Barongsai, Lampion, Naga dan petasan yang meramaikan perayaan ini.
Rasa optimisme ini perlu terus ditularkan untuk meningkatkan kualitas hidup masyarakat Indonesia.
"Sikap mental yang bersih, tanggap dan tertib adalah langkah awal perubahan diri menuju bangsa yang maju dan modern," ujarnya.
Tidak lupa, dalam kesempatan itu Puan mengucapkan selamat Tahun Baru Imlek 2567 Kongzili yang ditujukan kepada seluruh umat Tionghoa di mana saja berada. Dan kepada Pengurus MATAKIN, Para Tokoh Tionghoa dan seluruh umat Tionghoa di mana saja berada, Puan mengajak untuk bersyukur. Sebab, berdasarkan fakta dan sejarah, berpuluh-puluh tahun Umat Khonghucu tidak dapat menjalankan ritual ibadah dengan tenang di Indonesia. Namun pada masa reformasi, Presiden K.H. Abdurrahman Wahid mengeluarkan Keputusan Presiden No 6/2000 tentang Pencabutan Instruksi Presiden Nomor 14 Tahun 1967 Tentang Agama, Kepercayaan, dan Adat Istiadat Tionghoa.
"Dengan Keppres tersebut, umat Khonghucu dapat menjalankan ritual agamanya dengan tenang dan tanpa rasa takut. Umat Khonghucu mendapat jaminan dari pemerintah untuk menjalankan ibadah ritual sesuai keyakinannya dengan lebih tenang dan khusuk, serta diperbolehkan menampilkan berbagai budaya Tionghoa yang dimilikinya secara turun temurun. Salah satunya barongsai, Liong, Kie Lin, Sisingaan dan karnaval Cap Go Meh seperti yang akan dilangsungkan saat ini. Ini bukti Negara dan pemerintah betul-betul memperhatikan hak-hak sipil dan berpolitik, serta ekonomi sosial dan budaya yang pada masa sebelumnya tidak didapatkan oleh etnis Tionghoa," katanya.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/wartakota/foto/bank/originals/cap-go-meh_20160221_104429.jpg)