Breaking News:

Warga Bukit Duri Kini Iri dengan Warga Kampung Pulo

Normalisasi Kali Ciliwung di Kampung Pulo, Jatinegara, Jakarta Timur, terbukti membuat warga yang tinggal di bantaran kali terbebas dari banjir.

Penulis: Gopis Simatupang
Editor: Max Agung Pribadi
Kondisi kontras antara pemukiman di Kampung Pulo, Jatinegara, yang telah aman dari banjir (kanan) dengan pemukiman di Bukit Duri, Tebet, yang masih terus diancam banjir, Rabu (10/2/2016). 

WARTA KOTA, TEBET-Setelah sempat mengalami penolakan, normalisasi Kali Ciliwung di Kampung Pulo, Jatinegara, Jakarta Timur, terbukti membuat warga yang tinggal di bantaran kali terbebas dari banjir. Kini tetangganya, warga Bukit Duri, Tebet, Jakarta Selatan, merasa iri.

Rencananya Pemprov DKI Jakarta akan melakukan normalisasi Kali Ciliwung di sisi bantaran Bukit Duri, melanjutkan program serupa di sisi Kampung Pulo pada 2014 lalu. Namun, warga yang tinggal di bantaran kali berkali-kali menolak karena tak mau dipindahkan dari bantaran kali.

Namun hal itu sepertinya telah berubah. Setelah Kali Ciliwung meluap pada Minggu (7/2) lalu, sejumlah warga merasa iri dengan warga Kampung Pulo. Di saat warga Kampung Pulo terlindungi oleh dinding beton yang tinggi, mereka justru kebanjiran.

"Kalau dilihat-lihat sekarang sih iri juga sama tetangga seberang (Kampung Pulo--Red)," ujar Ratmi (60), warga RT 03/11 Bukit Duri kepada Warta Kota, Rabu (10/2).

Dikatakan Ratmi, hujan yang turun seharian pada Minggu lalu sempat membuat Kali Ciliwung meluap hingga masuk ke rumah-rumah warga yang tinggal di bantaran kali. "Airnya sampai setinggi sebetis di dalam rumah. Kalau orang seberang mah aman," katanya.

Meski belum sampai mengungsi, warga sempat khawatir air terus naik karena hujan tak kunjung reda.

Di saat warga bantaran kali Bukit Duri sibuk memindahkan barang, warga Kampung Pulo justru asyik menonton. Hal itu sampai membuat Neneng (49), warga lainnya, kesal sekaligus iri. "Saat kita lagi pada repot ngurusin banjir, tetangga malah pada nonton. Hati rasanya gimana gitu," bilangnya.

Kondisi itu membuat Neneng berpikir ulang mengenai penolakan relokasi warga. Dia mulai berpikir untuk rela pindah meski terpaksa. "Ya, kalau mau digusur, digusur aja dah," katanya.

Banjir akibat luapan Kali Ciliwung juga masih terus mengancam warga Rawajati, Pancoran, Jakarta Selatan. Kondisi tersebut terjadi karena proyek normalisasi Kali Ciliwung di sisi wilayah rawan banjir tersebut masih jauh dari kata usai.

Setiap saat Kali Ciliwung mulai meluap, warga selalu khawatir akan kebanjiran. Karena itu, warga berharap agar Pemprov DKI bisa bergerak cepat agar normalisasi kali di sisi tersebut cepat tuntas sehingga tidak mengancam warga.

"Yang namanya banjir memang sudah biasa kita rasakan, tapi sebenarnya tetap aja kita takut. Karena itu pinginnya sih cepat dipasang tembok kayak di Kampung Pulo," ujar Arman (36), salah seorang warga Rawajati.

Dia juga berharap agar musim hujan kali ini lekas berakhir supaya rumahnya tidak kebanjiran. Dia mengaku lelah memindahkan barang dan mengungsi setiap kali banjir datang. "Semoga nggak kayak banjir tahun 2007," harapnya.

Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved