Uang Lusuh 5,9 Miliar Lembar Dimusnahkan

"Uang yang dimusnahkan BI ini nantinya akan diganti dengan uang yang baru," papar Suhaedi.

Uang Lusuh 5,9 Miliar Lembar Dimusnahkan
KOMPAS.COM / SHUTTERSTOCK
Uang rupiah 

WARTA KOTA, TANAH ABANG - Bank Indonesia (BI) sepanjang tahun 2015 memusnahkan sebanyak 5,92 miliar bilyet (lembar uang) kertas senilai Rp 160,23 triliun.

Jumlah ini meningkat sebesar 13,18 persen dibandingkan tahun 2014 sebesar 5,19 miliar bilyet.

Rinciannya, BI memusnahkan uang pecahan Rp 100.000 sebanyak 716 juta lembar dengan nilai Rp 71 triliun, pecahan Rp 50.000 sebesar 1,29 Miliar bilyet dengan nilai Rp 64 triliun, dan pecahan Rp 2.000 sebanyak 1,45 miliar bilyet senilai Rp 2,9 triliun.

Kepala Departemen Pengelolaan Uang BI, Suhaedi mengatakan uang yang dimusnahkan ini adalah uang yang tidak memenuhi standar kelusuhan uang (soil level) internasional.

"Pemusnahan ini sesuai dengan peraturan Bank Indonesia dalam rangka mendukung clean money policy," ujar Suhaedi di gedung pusat BI, Jakarta, Selasa (2/2).

"Uang yang dimusnahkan BI ini nantinya akan diganti dengan uang yang baru," papar Suhaedi.

Untuk mekanisme penarikan uang tidak layak ini, Suhaedi mengatakan akan disetorkan oleh bank umum ke BI yang nantinya akan diproses lebih lanjut.

Perihal meningkatnya jumlah uang di tahun 2015 yang dimusnahkan, Suhaedi mengatakan hal ini disebabkan setiap tahunnya pemerintah meningkatkan standar kelayakan uang.

Menurut Suhardi, standar kelusuhan uang yang digunakan tahun 2015 lalu mencapai skala 8 dari 10. Sedangkan di tahun 2014 lalu, pemerintah menggunakan skala 6 dari 10.

"Sederhananya, untuk level (skala) 8, kertas dipegang masih licin dan kalau diterawang masih kelihatan jelas gambarnya," ujar dia.

"Untuk tahun 2016 standar kualitas uang yang beredar di masyarakat akan meningkat," lanjut Suhaedi.

Di samping itu, suhaedi mengatakan, kelayakan uang sangat penting dalam proses transaksi sehari-hari.

Selain itu, uang yang lusuh bisa membawa berbagai penyakit.

"Uang yang sudah rusak dan tidak layar edar itu akan susah menghitungnya dan bisa menimbulkan penyakit sehingga harus diganti dengan uang yang baru. Sehingga masyarakat nyaman," pungkas Suhaedi.

Editor: Andy Pribadi
Sumber: Kompas.com
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved