Breaking News:

Dibutuhkan Budaya Kerja dan Peningkatan Etos Kerja untuk Memenangkan Persaingan

Tujuh prinsip yang dipegang teguh Jack Welch itu mengubah budaya lama.

Editor: Gede Moenanto
Indonesia-tourism.com
Ilustrasi. Kepulauan Raja Ampat. 

WARTA KOTA, PALMERAH -- Upaya menjadikan Indonesia sebagai destinasi wisata dunia terus dilakukan dengan berbagai upaya peningkatan sarana dan prasarana pariwisata.

Menteri Pariwisata (Menpar) Arief Yahya terus melakukan upaya dan konsolidasi, introspeksi internal, dan menginspeksi kesiapan pasukan pariwisata sebelum memasuki medan pertarungan yang sesungguhnya.

“Ibaratnya, jangan sampai, sudah mengundang banyak tamu, tetapi situasi di rumah masih berantakan. Terjadi pertengkaran di sana sini, saling jegal, saling serang, saling serobot,” katanya di hadapan forum, yang dihadiri sekitar 400 orang itu di Jakarta, Jumat (29/1/2016).

Tekad itu menjadi salah satu alasan Marketeer of The Year 2013 versi MarkPlus itu menggelar Rakornas Pariwisata per tiga bulan sekali.

Rakornas itu merupakan ajang bertemunya seluruh petinggi Kemenpar hingga eselon 4, industri pariwisata atau communities, PHRI, ASITA, GIPI, para Kadispar Provinsi se-Indonesia, dan media di Hotel Kempinski di Bundaran HI.

“Kami sedang membangun corporate culture, yang dinamai Win Way, yang merupakan singkatan Wonderful Indonesia,” kata dia.

Korporasi raksasa dunia, kata dia, General Electric (GE) ditangan John Francis Welch Jr melahirkan the GE Way.

"Tujuh prinsip yang dipegang teguh Jack Welch itu mengubah budaya lama dan membangun budaya kerja baru. Lalu, perusahaan perangkat keras kompeter terbesar di News York, AS, International Business Machines (IBM) melahirkan IBM Way," katanya.

Karena itu, Arief Yahya meluncurkan corporate culture dengan nama Win Way.

"Singkatan dari Wonderful Indonesia Way,” katanya Arief Yahya, yang juga bisa dimaknai sebagai Win Way, jurus menang," katanya.

Rumusnya 3S: Solid, Speed dan Smart! Pertama, solid, kompak, bersatu menuju Indonesia Incorporated.

Ada kisah menarik dari ahli strategi perang Tiongkok, Sun Tzu, yang hidup di abad V sebelum masehi.

Dia ditunjuk Raja Wu memimpin pasukan elit kerajaan, yang semuanya perempuan cantik, istri selir raja, dengan jumlah 180 orang.

Sun Tzu menghukum dua prajurit, perempuan itu dengan memenggal lehernya, gara-gara keduanya tidak solid.

"Lobi raja pun tidak digubris, kalau sudah mempengaruhi soliditas, hukumannya tegas, penggal kepala. Seserius itulah menjaga soliditas itu,” kata Arief Yahya terkait tokoh dunia yang terkenal dengan strategi bernama the Art of War itu.

Agar solid, kata dia, harus pintar bersinergi, berkolaborasi, berkoordisasi.

"Dulu, ketika di Telkom, saya tegaskan bahwa sinergi itu bukan pilihan, tapi suatu keharusan. Kalau tidak bersatu, tidak akan menang, kalau tidak menang, kapan mau bersatu?" katanya.

Kedua, speed, atau kecepatan.

"Ingat, tahun 2016 ini sudah ditetapkan oleh Presiden RI sebagai tahun percepatan, tahun akselerasi. Dalam persaingan masa kini dan masa depan, speed itu penting. Yang cepat, mengalahkan yang lambat, bukan yang besar memakan yang kecil,” katanya.

Menpar menyatakan, pasukannya masih harus bergerak lebih cepat, anti lelet.

"Tidak ada pilihan lain, jika ingin memenangkan pertarungan, harus bergerak lebih ngebut," katanya.

Dia meyakini, Michael Porter, Sekolah Bisnis Universitas Harvard dengan keahlian utama di bidang manajemen strategis dan keunggulan kompetitif perusahaan.

Porter menyebutkan empat poin yang harus dimiliki oleh calon pemenang: Differentiation, Competitive, Focus, dan Speed.

"Poin terakhir adalah speed, kecepatan. Kita paling lemah di sini. Karena itu, akselerasi atau percepatan juga akan dilakukan segera," kata dia.

Dalam strategi bisnis ada 3C yang harus dilakukan oleh pariwisata, setelah ditetapkan sebagai sektor unggulan, selain pangan, energi, maritim dan infrastruktur, keunggulan comparative, keunggulan competitive, dan cooperative.

"Comparative, itu memetakan keunggulan dan kehebatan kita ada di mana? Competitive, posisi kita sudah berada dimana? Dibandingkan dengan rival yang sama? Cooperative, strategi bermitra ketika dua C di atas tidak cukup untuk modal bersaing di pasar," katanya.

Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved