Rabu, 22 April 2026

Peran Penting Pers untuk Memberikan Rasa Aman dan Ketentraman Sangat Diperlukan

Peran pers untuk memberikan rasa aman dan kondusif dinilai sangat berpengaruh.

Kompas.com
Babinkamtibmas Pariwisata sedang membantu wisatawan asing menyeberang jalan di Kuta, Kabupaten Badung, Bali, Jumat (22/1/2016). 

WARTA KOTA, PALMERAH -- Peran pers untuk memberikan rasa aman dan kondusif dinilai sangat berpengaruh.

Soalnya, pemberitaan pers yang berlebihan dan tidak sesuai dengan fakta misalnya terkait ancaman surat kaleng bisa menimbulkan kekhawatiran.

Karena itu, sebaiknya pers tidak hanya mengejar target pembaca, tapi benar-benar bisa melakukan verifikasi terhadap pemberitaan yang dilaksanakan.

Segenap kalangan pewarta, wartawan media cetak, elektronik, maupun online di Bali menyadari, betapa pentingnya pariwisata bagi kehidupan masyarakat Pulau Dewata.

Makanya, mereka tidak ingin membesarkan berita-berita yang dapat merugikan pariwisata yang menjadi penggerak roda perekonomian.

"Seluruh wartawan di Bali ini sangat paham bahwa masyarakat Bali itu sangat menggantungkan hidup dari pariwisata. Makanya, kami tidak mau  membesar-besarkan berita surat kaleng ancaman bom di Buleleng yang jelas bisa mempengaruhi kunjungan wisatawan ke Bali," kata Sekretaris Persatuan Wartawan Indonesia (PWI) Bali, Emannuel Dewata Oja dalam acara diskusi wartawan dengan Tim Crisis Centre Pariwisata di Denpasar Bali, Jumat (22/1/2016) malam.

Diskusi yang berlangsung akrab itu dihadiri sekitar 20 wartawan media cetak, elektronik dan online. Ikut hadir dalam acara itu Ketua Asosiasi Tour and Travel  Agency (Asita) Bali, I Ketut Ardana dan Humas Kemenpar.

"Pemberitaan media di Bali cukup bagus dalam menyikapi surat kaleng ancaman bom di Buleleng. Dan, Pak Menteri Pariwisata Arief Yahya menyampaikan ucapan terima kasih atas dukungan dari media cetak, elektronik dan online di Bali yang menyajikan berita-berita cukup menyejukkan," kata Ervik A Susanto yang memimpin rombongan Tim Crisis Centre Pariwisata.

Dijelaskan Emmanuel Dewata Oja yang akrab dipanggil Edo, masalah ancaman bom sudah biasa terjadi di Bali.

"Kita sudah biasa dengan ancaman itu, dan itu hanya niat mengganggu atau iseng," ujar pria yang hampir sudah 20 tahun di Bali itu.

Kejadian surat kaleng yang terjadi di Buleleng, Bali juga sudah semestinya tidak perlu terekspos, bahkan menjadi besar.

"Itu sebenarnya surat datang ke Kecamatan. Kami sudah sepaham, bahwa Pariwisata dan Bali adalah hal yang sangat penting, maka dari itu kami tidak akan menghebohkan hal ini. Sebab, bisa saja surat kaleng itu dikirim agar wisatawan tidak datang ke Bali," ujar pria berkacamata itu.

I Ketut Ardane mengungkapkan bom di Sarinah Jakarta dan ancaman surat kaleng di Buleleng itu tidak berpengaruh dengan kunjungan wisatawan.

"Saya bisa pastikan tidak ada pengaruhnya karena setelah kejadian itu saya langsung koodinasi dengan agen-agen biro perjalanan di China, Hongkong, Thailand dan Australia. Dari hasil koordinasi itu saya dapat kepastian tidak ada pembatalan kunjungan ke Bali," katanya.  

"Asita yang beranggotakan 300 lebih akan terus berupaya meningkatkan kunjungan wisata dan kami juga yakin 4 juta wisatawan sudah berkunjung di Bali sepanjang 2015," katanya.

Selain melakukan diskusi, pada hari yg sama Tim Crisis Centre Pariwisata juga melakukan kunjungan ke kantor redaksi Bali Pos Group, Radar Bali, dan Wakapolda Bali. ‎

Sementara itu, sebagaimana dilaporkan Kompas.com, suasana Bali tampak ramah dan bersahabat untuk wisatawan.



Hal itu di antaranya terjadi karena sejumlah personel polisi yang berkaos cokelat, mengenakan sepatu boot, bercelana pendek dan membawa ransel hitam bertuliskan "Babinkamtibmas Pariwisata Polresta Denpasar" cukup menyita perhatian wisatawan yang berkunjung di Pantai Kuta, Kabupaten Badung, Bali.

Dengan ramah mereka melayani wisatawan jika mengalami kesulitan seperti kesulitan menemukan jalan yang dituju, arah hotel, maupun alamat tujuan lainnya, bahkan membantu wisatawan yang ingin menyeberang.

"Sebenarnya kami bertugas di kawasan Sanur tapi diperbantukan di Kuta. Sama saja di mana bertugas, sebagai polisi pariwisata tetap memberikan keamanan dan kenyamanan bagi wisatawan," kata Ketut Sukardi, Polisi Pariwisata di Kuta, Jumat (22/1/2016).

Ketut Sukardi menyampaikan bahwa setiap jam tugas dilakukan oleh 15 orang. Sementara tas ransel yang dibawa di antaranya berisi buku panduan, borgol, alat komunikasi, pentungan, senter dan perlengkapan keamaan lainnya.

"Tas ini isinya perlengkapan pendukung keamanan dan pelayanan wisatawan," kata Sukardi.

Selama bertugas menjadi petugas Babinkamtibmas Pariwisata, banyak hal yang dialami seperti pernyataan dari salah satu polisi bernama Ketut Wipatmita, bahwa kejahatan yang sering ditangani lebih banyak penjambretan.

Mereka harus ekstra hati-hati dan tetap meningkatkan kewaspadaan, jika tidak akan berimbas pada pemberitaan bahwa Bali tidak aman karena banyak penjambret.

Wipatmita menambahkan, jika kejahatan itu dialami orang asing semakin runyam jadinya. Karena itulah wisatawan harus dijamin keamanan dan kenyamanannya saat mereka mengunjungi Bali.

Sumber: WartaKota
Ikuti kami di

Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved