Breaking News:

Sinema

Kelahiran Sineas Muda Berbakat di Festival Film Pendek Kompas TV

Kompetisi Festival Film Pendek Indonesia 2015 yang diselenggarakan Kompas TV telah menjaring para bibit baru dalam dunia perfilman.

Penulis: Feryanto Hadi | Editor: Hertanto Soebijoto
Kompas TV menggelar Festival Film Pendek mengangkat tema "Indonesiaku, Kebanggaanku". 

WARTA KOTA, JAKARTA - Kompetisi Festival Film Pendek Indonesia 2015 yang diselenggarakan Kompas TV telah menjaring para bibit baru dalam dunia perfilman.

Ajang bertema “Indonesiaku, Kebangganku” tersebut sekaligus menjadi pemantik semangat para sineas muda yang selama ini sulit menemukan panggung eksistensi.

Tercatat, 200 film masuk ke database panitia sejak gelaran ini dibuka 1 Oktober 2015 hingga 18 Desember 2015.

“Dua kategori, baik mahasiswa/umum dan pelajar sama-sama diminati. Kami sangat mengapresiasi semangat masyarakat Indonesia khususnya kaum muda untuk berkarya melalui audio visual,” terang Deddy Risnanto, Vice Corporate Secretary Kompas TV saat pengumuman pemenang FFPI 2015 di Galeri Indonesia Kaya, Grand Indonesia, Jumat (22/1/2016) malam.

Dari semua peserta, menurut Deddy, hampir 80 persen dari luar Jakarta. Begitu pula mayoritas finalis yang terpilih.

“Mayoritas peserta justru dari luar Jakarta, ini memang di luar dugaan. Namun hal ini juga berarti bahwa perkembangan perfilman di Indonesia tidak melulu terpusat di Jakarta dan ini adalah sesuatu yang menggembirakan,” ujar Niken Larasati Putri, Project Manager FPPI 2015 dalam kesempatan sama.

Sebelum pembacaan pemenang, panitia melakukan pemutaran film di tempat yang sama sekaligus melakukan diskusi dan tanya jawab dengan para finalis.

Proses seleksi ketat dilakukan para dewan juri, hingga terpilih sepuluh film dari dua kategori untuk kembali diadu. Penilaian dilihat dari teknik pengambilan gambar, penyuntingan, ide cerita dan kesesuaian tema.

Salah seorang dewan juri, Angga Sasongko mengakui sempat mengalami kesulitan dalam proses penjurian mengingat kualitas film dari sepuluh finalis umumnya bagus.

“Penilaian tentu menggabungkan aspek-aspek yang telah ditentukan sebelumnya. Tapi terpenting menurut saya, bagaimana filmaker tidak hanya terfokus kepada teknik produksi atau konten saja, namun bagaimana bisa menempatkan film sebagai cerita, bukan sekadar ceramah," ucapnya.

Halaman
12
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2022 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved