Kecelakaan Lalu Lintas

Ironi Jakarta, Kota yang Tak Ramah Bagi Pejalan Kaki

Koalisi Pejalan Kaki Indonesia menggelar aksi simpatik mengenang tragedi Tugu Tani.

KOMPAS/PRIYOMBODO
Warga yang tergabung dalam Koalisi Pejalan Kaki menghalau pengendara sepeda motor yang melintas di trotoar. 

WARTA KOTA, PALMERAH -- Puluhan orang yang tergabung dalam Koalisi Pejalan Kaki Indonesia menggelar aksi simpatik mengenang tragedi Tugu Tani, empat tahun silam.

Seperti diketahui, pada tragedi berdarah kecelakaan lalu lintas itu, beberapa orang pejalan kaki meninggal setelah sebuah mobil kehilangan kendali dan menabrak orang-orang di Halte Tugu Tani, Jalan Abdul Muis, Jakarta Pusat.

Aksi dilakukan dengan mengheningkan cipta selama 22 detik untuk mendoakan para korban.

Selebihnya, mereka membentangkan spanduk dan tulisan-tulisan yang menolak diskriminasi terhadap pejalan kaki.

"Selama ini nasib pejalan kaki masih kurang diperhatikan. Di Jakarta saja kita pejalan kaki setiap hari harus bertaruh nyawa akibat tingkat keamanan yang minim," kata Alfred Sitorus, Koordinator Koalisi Pejalan Kaki Indonesia kepada Warta Kota saat menggelar aksi, Jumat (22/1).

Belum lagi okupasi trotoar yang dilakukan oleh pedagang kaki lima maupun sebagai tempat parkir liar. Hal tersebut menurut Albred menjadi fakta memprihatinkan yang sepatutnya segera diatasi.

"Jakarta sebagai ibukota belum menjadi kota yang ramah bagi pejalan kaki. Okupasi di hampir semua trotoar. Hak pejalan kaki dirampas. Di sisi lain, pejalan kaki semakin tidak dihargai dengan banyaknya pembangunan jembatan penyeberangan yang tentu mempersulit pejalan kaki. Buatlah pejalan kaki lebih dihargai dengan memperbanyak zebra cross," protesnya.

Dinda (26) seorang pejalan kaki masih belum bisa menemukan rasa nyaman ketika berjalan di trotoar di Jakarta.

"Bayangkan, kita jalan di trotoar saja kadang masih harus mengalah dengan pesepeda motor yang juga naik ka trotoar ketika macet. Di trotoar lain, banyak pedagang dengan bebas jualan," jelas Dinda, karyawati swasta.

Jika pulang bekerja pada malam hari, Dinda juga masih merasa was-was dihantui rasa cemas. "Pejalan kaki rentan menjadi korban kejahatan. Dari penjembretan, penodongan sampai pelecehan seksual yang belakangan sering terjadi," katanya.

Regulasi

Dalam aksi tersebut, massa meminta agar pemerintah secara serius memikirkan nasib para pejalan kaki.

Menurut Alberd, kecelakaan lalu lintas juga masih menjadi catatan hitam di Indonesia, kata Alfred. Sepanjang 2015, setidaknya setiap hari rata-rata 70 orang meninggal di jalanan. Belum lagi jumlah orang yang mengalami luka.

"Melalui aksi ini kami meminta negara lebih serius menangani masalah keselamatan transportasi khususnya pejalan kaki. Diperlukan revolusi, bukan hanya transportasinya namun juga revolusi bertransportasi," jelas Alfred.

Selain itu, pemerintah hendaknya lebih tegas dalam menjalankan regulasi yang sebelumnya sudah dibuat. "Contohnya soal aturan pembatasan kecepatan kendaraan bermotor sesuai Peraturan Menteri Perhubungan no.111 tahun 2015. Di sana disebutkan batas kecepatan kendaraan di jalan kota 50 km/jam dan di pemukiman 30km/jam. Tapi sampai sekarang itu belum ditegakkan," ungkapnya.

Penulis: Feryanto Hadi
Editor: Gede Moenanto
Sumber: Warta Kota
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2020 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved