resensi buku

Perburuan Buah Emas Banda

Pelaut Portugis merupakan pelaut perintis yang datang ke Banda pada awal tahun 1512-an, disusul Spanyol, Belanda, dan Inggris.

Editor: Andy Pribadi
Kompas/Heru Sri Kumoro
Cover buku Kepulauan Banda: Kolonialisme dan Akibatnya di Kepulauan Pala. 

WARTA KOTA, PALMERAH - Buku karya Willard A Hanna Kepulauan Banda: Kolonialisme dan Akibatnya di Kepulauan Pala (Yayasan Obor Indonesia-Gramedia, 1983) menjadi salah satu referensi Giles Milton dalam menulis buku Pulau Run (Alvabet, 2015).

Pulau Run merupakan salah satu gugusan pulau dari enam Kepulauan Banda yang penting dan paling diburu bangsa Eropa.

Pulau Run adalah penghasil utama pala yang sangat berharga hingga dinamakan ”buah emas dari Banda”.

Pelaut Portugis merupakan pelaut perintis yang datang ke Banda pada awal tahun 1512-an, disusul Spanyol, Belanda, dan Inggris.

Bangsa-bangsa ini berebut dan bersaing untuk mendapatkan pala dan rempah-rempah lainnya.

Belanda berhasil melumpuhkan hegemoni Portugis di kawasan Maluku.

Tahun-tahun berikutnya pertempuran Belanda dan Inggris tak terelakkan. Tahun 1621 Inggris mengakui kekalahannya atas Pulau Run dan menyerahkannya kepada Belanda.

Berpuluh tahun setelah pengakuan penyerahan Pulau Run, Inggris berkali-kali mengajukan tuntutan formal atas Pulau Run.

Pulau ini sempat diserahkan Belanda kepada Inggris, tetapi sebelumnya Belanda memusnahkan seluruh pohon pala agar Inggris tidak dapat mengambil keuntungan dari pala.

Pala sebagai komoditas utama Kepulauan Banda bukannya membawa berkah bagi penduduknya, justru membawa penderitaan yang tak berkesudahan.

Halaman
12
Sumber: KOMPAS
  • Ikuti kami di
    KOMENTAR

    BERITA TERKINI

    © 2022 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved