Bom Sarinah

Terduga Teroris Itu Hanya Pedagang Laptop

Terduga teroris yang ditangkap di Depok merupakan pedagang laptop.

Terduga Teroris Itu Hanya Pedagang Laptop
Warta Kota/Angga Bhagya Nugraha
Upaya polisi tumpas teroris. 

WARTA KOTA, DEPOK -- Amelia (26) istri Isro (35) salah seorang dari tiga pria yang diamankan polisi karena diduga terkait aksi terorisme, Jumat (15/1/2016) pagi, memastikan bahwa mereka bukanlah pelaku teror seperti yang dituduhkan polisi.

"Suami saya cuma pedagang laptop. Di kantor polisi, suami saya sudah bilang kalau ini semua salah paham. Polisi salah tangkap," kata Amelia, Jumat (15/1/2016).

Penampilan Amelia pun tidak seperti kebanyakan para istri terorisme yang biasanya mengenakan jilbab dan cadar.

Menurut Amelia, mereka dianggap sebagai pelaku teror karena ia dan suaminya serta dua saudara suaminya yang ditangkap polisi itu, aktif dan kadang rutin mengikuti pengajian terbuka pimpinan KH Luqman di Beji Depok.

"Kami memang aktif ikut pengajian di Beji, sebulan dua kali. Tapi saya sering bolos," kata Amelia. 

Biasanya, kata dia, pengajian digelar setiap pukul 19.00 sampai tengah malam, di malam Rabu. 

"Karena itu polisi juga ambil buku pengajian kita. Cuma buku pengajian terbuka biasa, seperti catatan infaq. Saya ikut, tapi sering bolos," kata Amelia.

Pengajian milik KH Luqman katanya juga mempunyai pondok pesantren di Tulungagung, Jawa Timur. 

"Akibat Amelia kejadian ini, kami semua shock," katanya.

Seperti diketahui tiga pria kakak beradik diamankan Tim Detasemen Khusus (Densus) 88 Anti Teror Mabes Polri bersama Satreskrim Polresta Depok dan Direktorat Kriminal Umum (Dirkrimum) Polda Metro Jaya, dari rumah di Jalan H Dul, Kelurahan Bojong, Pondok Terong, Kecamatan Cipayung, Kota Depok, Jumat (15/1/2016) dini hari.

Ketiga orang kakak beradik itu adalah Saiful (40), Isro (35), dan Sudirman (30).

Dari tangan mereka diamankan satu buah laptop.

Menurut Amelia,  saat kejadian ia bersama suami Isro, dan anaknya A yang berusia tujuh tahun sedang menginap di rumah itu.

Rumah itu katanya sebenarnya ditinggali oleh ayah dari kakak beradik Saiful, Isro dan Sudirman, yakni Ahmad (75).

"Saiful dan Sudirman, anak pertama dan ketiga memang tinggal sama orangtuanya," kata Amelia, Jumat (15/1/2016).

Sementara suaminya Isro adalah anak kedua dari Ahmad. Mereka sebenarnya tinggal di Bogor.

Menurut Amelia, mereka sama sekali tak menyangka Densus 88 menyergap suaminya dan dua iparnya.
"Anak saya yang berusia tujuh tahun liat polisi main sergap ayahnya begitu saja," kata Amelia.

Amelia memastikan suaminya dan dua iparnya sama sekali tidak terkait terorisme apalagi bom Sarinah.

Ia menjelaskan polisi berseragam Densus 88 datang sekitar pukul 04.15, dan langsung mendobrak pintu rumah, hingga rusak. 

"Mereka langsung meminta kami yang di dalam rumah, tiarap," kata Amelia.

Menurutnya polisi langsung menggeledah seisi rumah dan mengambil barang milik ketiga bersaudara Saiful, Isro, dan Sudirman. 

Saat kejadian kata dia, Sudirman tidur di ruang tamu. Ia yang pertama dibekuk polisi dan langsung diborgol menggunakan kabel tis. 

Sementara Syaiful tidur di ruang tengah dilumpuhkan berikutnya. Lalu Amelia dan suaminya Isro serta anaknya, yang tidur di dalam kamar, juga langsung disergap polisi. 

"Kami ditodongi senjata saat masih terlelap tidur. Saya kaget sekali," katanya.

Kapolresta Depok Kombes Dwiyono, yang ikut serta mendampingi Tim Densus 88 membekuk ketiga bersaudara itu menuturkan, diamankannya mereka karena polisi menerima laporan bahwa ketiganya mengancam seorang perempuan untuk masuk ke dalam kelompoknya.

Menurut Dwiyono penggerebekan dipimpin langsung Ditreskrimum Polda Metro Jaya, Kombes Khrisna Mukti.

"Mereka kita amankan karena sempat mengancam seorang perempuan warga Cimanggis untuk masuk dalam kelompok mereka.

Mereka dianggap menebar teror," kata Dwiyono.

Menurutnya ketiga pelaku masih diinterogasi di Polsek Cimanggis. "Masih kami dalami kronologis pengancaman dan keterkaitan aksi terorisme lainnya. Kita masih periksa semua data di dalam laptop mereka," kata Dwiyono.

Dwiyono mengakui awalnya ada kemungkinan ketiganya terlibat peledakan bom Sarinah, Jakarta.

Namun untuk sementara ini, pihaknya belum menemukan keterkaitan ketiganya dengan peledakan dan aksi teror di Sarinah tersebut.

"Sampai kini, untuk sementara, belum ada kaitan atau keterlibatan mereka dengan aksi teror di Sarinah, Thamrin," kata Dwiyono.‎

Penulis: Budi Sam Law Malau
Editor: Gede Moenanto
Sumber: Warta Kota
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved