resensi buku

Membongkar Interelasi Kartunis

Kartun menghadirkan sesuatu dengan lucu, kadang terkesan dungu.

Editor: Andy Pribadi
Kompas/Totok Wijayanto
Buku humor. 

WARTA KOTA, PALMERAH - Kartun menghadirkan sesuatu dengan lucu, kadang terkesan dungu.

Mengandalkan kesederhanaan dalam visual, kartun tetap fokus pada substansi yang ingin disampaikan.

Ditinjau berdasarkan tujuan, kartun dibedakan menjadi kartun editorial dan kartun humor.

Kartun editorial membentuk opini pembaca, sementara kartun humor dianggap sebagai hiburan semata.

Perkembangan industri penerbitan dan maraknya kartun humor pada koran dan majalah pada 1980-an memberikan peluang kepada kartunis untuk mengembangkan karya.

Media menjadi arena bagi kartunis untuk menampilkan karyanya. Transformasi media dari manual ke digital berdampak kurangnya ruang untuk kartun.

Kondisi ini mengharuskan kartunis berkompetisi dalam jagat kartun media di Indonesia dengan mengandalkan kreativitas dan inovasi.

Mereka pun membentuk komunitas sebagai kendaraan sekaligus perlindungan bagi karyanya.

Perkumpulan para kartunis ini menjadi ajang introspeksi dalam perbaikan dan pembenahan teknis visual dan urusan humor.

Pasar ide yang tercipta menjadi inspirasi mereka dalam berkarya.

Pertukaran ide ini bukan menjadikan proses imitasi, melainkan lebih untuk memperkaya variasi kekaryaan para kartunis.

Mengambil Kelompok Kartunis Kaliwungu (KOKKANG) sebagai obyek penelitian, buku ini membahas dinamika kartun humor di Indonesia, interelasi kartun humor dengan media, jaringan sosial kartunis, dan proses kreatif komunal. (DRA/Litbang Kompas)

Sumber: KOMPAS
  • Ikuti kami di
    KOMENTAR

    BERITA TERKINI

    © 2022 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved