Selasa, 21 April 2026

Hujan Sebentar, Empat RW Kebon Melati Kebanjiran

Empat RW yang tergenang di wilayah Kebon Melati.

Warta Kota/dwi rizki
Ilustrasi. Dangkal, dipenuhi lumpur dan sampah, buruknya pemandangan tersebut seperti yang terlihat pada Kali Cideng di kawasan Kebon Melati, Tanah Abang, Jakarta Pusat. 

WARTA KOTA, TANAH ABANG -- Dangkal, dipenuhi lumpur dan sampah, buruknya pemandangan tersebut seperti yang terlihat pada Kali Cideng di kawasan Kebon Melati, Tanah Abang, Jakarta Pusat.

Bukan hanya tidak sedap dipandang mata, kali yang senyatanya berfungsi sebagai penghubung antara permukiman warga dengan Banjir Kanal Barat (BKB) itu pun kerap luber, sehingga menggenangi permukiman yang dilintasinya.

Pendangkalan kali yang hanya berjarak sekitar 10 meter dari Kelurahan Kebon Melati itu diketahui sudah berlangsung sejak lama atau sekira lebih dari 15 tahun lamanya.

Endapan lumpur dan sampah yang berasal dari limbah rumah tangga dari warga yang bermukim di sepanjang aliran kali kian bertumpuk dan semakin padat, hingga saat ini.

Terpantau, permukaan kali selebar empat enam meter itu hanya terlihat 40 cm dari bibir turap.

Sementara, kondisi jalan permukiman warga Kebon Melati seperti Jalan Lontar Atas dan Jalan Lontar Bawah serta Jalan Lontar Raya sudah terlihat sejajar dengan permukaan kali.

Kondisi tersebut pun semakin dikeluhkan warga, karena kala hujan tiba, sebanyak empat RW di Kelurahan Kebon Melati dipastikan tergenang akibat limpasan air kali yang meluap.

Empat RW yang tergenang di wilayah Kebon Melati di antaranya RW 13 di Jalan Kebon Pala III, RW 14 dan RW 15 di Jalan Jati Bunder serta RW 16 di Jalan Tenaga Listrik.

Sementara, lokasi tergenang di wilayah Kebon Kacang meliputi RT 01, 02 dan 03 RW 09 Jalan Jati Bunder Timur atau dikenal sebagai Gang Tike serta wilayah RT 10 dan 11 RW 09 Jalan Jati Bunder III dan IV.

"Kalau hujan sedikit pasti banjir, karena Kali Cideng ini dangkal bang penuh endapan. Jangan jauh-jauh, kayak semalem aja (Minggu, 3/1/2016), padahal hujan deres cuma sejam aja, air sudah di atas mata kaki," ungkap Aris (40), warga RW 09 Kebon Kacang, Tanah Abang, Jakarta Pusat, Senin (4/1/2016).

Walaupun banjir yang menggenangi permukiman warga akan surut seiring dengan meredanya hujan, tetapi menurutnya, Pemkot Jakarta Pusat harus cepat bertindak karena kondisi tersebut sangat menyulitkan warga.

Apalagi, lanjutnya, ketinggian air kala banjir kian tinggi, setiap tahun.

"Memang kondisi rumah warga di sini itu bentuknya cekungan, banjir karena air luber nggak ketampung terus masuk ke permukiman lewat saluran. Tapi, logikanya kalau kali dikeruk, kan kali pasti bisa nampung air banyak, jadi banjir bisa diminimalisir," katanya.

Dihubungi terpisah, Kasudin Tata Air Jakarta Pusat, Herning Wahyuningsih mengatakan, pihaknya telah melakukan pengerukan rutin pada Kali tersebut.

Namun, lantaran tidak adanya akses jalan, pengerukan kali hanya dilakukan secara manual.

"Kali dikeruk rutin, tidak ada yang dibedakan. Cuma karena alat berat nggak bisa masuk, pengurasan (pengerukan-red) kita lakukan secara manual. Sedangkan kalau untuk banjir, lokasi itu (permukiman-red) memang posisinya di bawah kali, jadi wajar," katanya.

Walau begitu, dirinya mengaku akan melakukan peninjauan lokasi.

Sebab, penyebab banjir pada suatu wilayah disebutkannya tidak hanya dikarenakan pendangkalan sungai, tetapi masih banyak faktor lainnya seperti tersumbatnya saluran air, curah hujan tinggi hingga air kiriman yang berasal dari BKB.

Sumber: WartaKota
Ikuti kami di

Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved