resensi buku

Rezim Kebudayaan dan Manusia Baru

Buku ini mencatat perkembangan rekayasa kebudayaan oleh rezim era kolonial sampai ke era Reformasi.

Editor: Andy Pribadi
Wawan H Prabowo
Buku Kebudayaan dan Kekuasaan di Indonesia: Kebijakan Budaya Selama Abad Ke-20 hingga Era Reformasi. 

Untuk itu, depolitisasi kebudayaan menjadi penting untuk menciptakan stabilitas bagi pembangunan sehingga semangat revolusi dalam kebudayaan lenyap.

Meskipun setiap era menjalankan budaya komando dalam merekayasa kebudayaan, hanya rezim Orde Baru yang menyempurnakan budaya komando itu karena bertekad untuk memaksakan satu tujuan dari kebudayaan, yaitu pembangunan dan bernafsu menyeragamkan ekspresi budaya dalam satu ukuran.

Sementara rezim era Reformasi masih kebingungan dengan kebudayaan, serta dirongrong oleh bangkitnya etnisitas dan belum bisa lepas dari watak komando Orde Baru itu. Alhasil, kebudayaan di era Reformasi jatuh ke dalam lubang pariwisata dan festival.

Karena Indonesia saat ini sedang membahas RUU Kebudayaan, dari itu buku ini begitu relevan.

Paling tidak buku ini bisa memberikan bekal agar tidak terjebak ulang ke dalam watak rezim budaya komando dalam memandang dan mengarahkan perkembangan kebudayaan Indonesia sekarang dan ke depan.

Selain itu, slogan Revolusi Mental yang didengungkan sekarang ini juga harus betul-betul dicermati agar tidak mematikan ekspresi kebudayaan yang membebaskan manusia Indonesia.

Kritik untuk buku ini adalah isinya sesungguhnya bukan tentang kegiatan kebudayaan, melainkan bicara tentang kontrol politik atas pembentukan kebudayaan.

Perlu dicatat bahwa kebudayaan tidak pernah bisa monolit.

Jika kebudayaan nasional disebut sebagai puncak-puncak dari kebudayaan daerah, perlu dikenali pula lereng dan lembah dari kebudayaan itu.

Perlawanan biasanya tumbuh di lembah dan lereng itu karena rezim tidak mudah menjangkau dan mengendalikan aktor kebudayaan yang bermain di sana.

Bisa dikatakan Jones abai dengan kelenturan aktor-aktor kebudayaan dalam melakukan perlawanan terhadap setiap rezim.

Hampir setiap rezim di Indonesia memunculkan aktor-aktor kebudayaan yang jadi penentang. Mereka adalah anak kandung dari rekayasa kebudayaan itu sendiri dan sekaligus menjadi penggerak yang membuat kebudayaan itu matang.

Amiruddin al-Rahab,
Ketua Papua Resource Center-YLBHI

Sumber: KOMPAS
  • Ikuti kami di
    KOMENTAR

    BERITA TERKINI

    © 2023 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved