Ngeri, Sebanyak 6.231 Kecelakaan Terjadi, Sepanjang Tahun 2015

Ngeri, sebanyak 6.231 kecelakaan terjadi sepanjang tahun 2015.

Ngeri, Sebanyak 6.231 Kecelakaan Terjadi, Sepanjang Tahun 2015
Istimewa/Dokumentasi Kabid Humas Polda Jawa Barat, Sulistyo Pudjo Hartono
Kondisi kendaraan elf hitam setelah mengalami kecelakaan di Tol Cipali km 137, Kamis (3/12/2015). Sebanyak 11 orang tewas dan tiga orang mengalami luka berat akibat kecelakaan itu. 

WARTA KOTA, PANCORAN -- Lalai serta tidak tertib berlalulintas menjadi faktor utama terjadinya kecelakaan yang terjadi di Ibukota.

Berdasarkan data yang berhasil dihimpun Ditlantas Polda Metro Jaya, sebanyak 6.231 kecelakaan terjadi sepanjang tahun 2015.

Tingginya jumlah kecelakaan tersebut diungkapkan Kasubdit Pembinaan dan Penegakan Hukum Ditlantas Polda Metro Jaya, AKBP Budiyanto menjadi cermin masih kurangnya kesadaran pengguna jalan untuk mematuhi rambu lalulintas.

Padahal, lanjutnya, ancaman yang dilantangkan pihaknya sangat jelas, yakni cacat fisik hingga kematian.

"Kebanyakan kecelakaan dikarenakan kurang disiplinnya pengendara, hal ini jelas sangat kami sesalkan, karena data kecelakaan yang tercatat sepanjang tahun 2015 lebih besar tujuh persen dibandingkan dengan tahun 2014, dari sebanyak 5.797 naik menjadi 6.231 kecelakaan," ungkapnya.

Walau kecelakaan diungkapkannya meningkat, jumlah korban tewas mengalami penurunan sebesar sembilan persen dibandingkan dengan tahun 2014.

Karena, paparnya, pada sebanyak 6.231 kecelakaan yang terjadi pada tahun 2015, jumlah korban tewas hanya sebanyak 566 orang dari sebanyak 7.298 orang korban, sedangkan sebanyak 2.604 orang luka berat dan 4.128 luka ringan.

"Sebenarnya kami belum puas, karena masih terjadi kecelakaan. Tapi peningkatan hanya jumlah kecelakaan, untuk kualitas justru mengalami penurunan. Hal ini bisa dilihat dari data tahun 2014, dari 5.797 kejadian dengan jumlah korban 7.116  orang, korban tewas ada 621 orang, luka berat 2.643 orang dan luka ringan ada 3.852 orang," tambahnya.

Ditemui bersamaan, Ketua Forum Warga Kota Jakarta, Azas Tigor Nainggolan mengatakan, kecelakaan yang terjadi di Ibukota ataupun wilayah lainnya memang terbilang klasik, yakni belum adanya kesadaran masyarakat berlalulintas.

Tidak hanya itu, perilaku tersebut pun kerap menyebabkan kemacetan rutin yang terjadi hampir sepanjang hari.

Hal tersebut ditunjukkannya dari hal kecil seperti rambu larangan parkir yang berada di lokasi strategis.

Walau rambu tersebut telah terpasang dan terbaca jelas, median jalan tetap dijadikan area parkir yang berujung pada kemacetan.

"Mungkin semua orang yang pernah berkendara di Jakarta pernah mengalami hal yang nggak enak, misal pengendara lain asal potong, macet karena terobos lampu merah dan lainnya. Tapi sayangnya mereka (pelanggar-red) tidak sadar kesalahan, justru kalau sudah tidak bisa jalan atau macet mereka langsung menyalahkan polisi atau pemerintah," jelasnya.

Karena itu, lanjutnya, pencegahan kecelakaan maupun kemacetan buka  hanya menjadi tanggung jawab pihak Kepolisian, Dinas Perhubungan ataupun lembaga lainnya, tetapi juga merupakan tanggung jawab masyarakat yang harus tertib berlalulintas.

"Guna membentuk pola pikir dan kesadaran masyarakat untuk tertib berlalulintas, pihak Kepolisian pun harus tegas menindak pelanggaran, jangan hanya memberikan teguran. Karena, tindakan tegas itu untuk memberikan efek jera kepada para pelanggar," katanya.

Penulis: Dwi Rizki
Editor: Gede Moenanto
Sumber: Warta Kota
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2020 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved