Sopir Metromini Dukung Penggabungan dengan Transjakarta

Sejumlah sopir Metromini menyambut baik rencana Gubernur DKI Jakarta Basuki Thahaja Purnama menawarkan gaji sebesar 3,5 kali UMP.

Sopir Metromini Dukung Penggabungan dengan Transjakarta
Warta Kota/Angga Bhagya Nugraha
Penampakan bus metromini yang menabrak dan menewaskan seorang bocah. 

WARTA KOTA, DURENSAWIT-Sejumlah sopir Metromini menyambut baik rencana Gubernur DKI Jakarta Basuki Thahaja Purnama yang menawarkan gaji sebesar 3,5 kali UMP (upah minimum provinsi) asalkan bergabung dengan Transjakarta. Hanya saja ada beberapa hal yang mengganjal mereka terkait syarat rekrutmen awak bus nantinya.

Salah seorang sopir Metromini, Anton (45) mengaku tidak ada masalah dengan tawaran tersebut. Pasalnya ia tidak lagi harus memikirkan setoran sebesar Rp 330 ribu setiap harinya. Dengan sistem gaji per bulan, ia mengaku bisa lebih tenang saat bekerja.

"Kalau memang sistemnya gajian dan enggak pakai setoran, ya mau-mau aja lah. Enggak pusing lagi mikirin setoran. Tapi itu janjinya benar enggak, nanti pas pelaksanaannya beda lagi," ungkap sopir Metromini T47 jurusan Pondok Kopi-Senen tersebut, Senin (21/12).

Pasalnya Anton harus menghidupi istri dan kedua anaknya. Maklum saja, selama ini Anton yang mengaku mendapatkan uang bersih rata-rata Rp 150 ribu per hari, juga harus memikirkan biaya kontrakan Rp 600 ribu per bulan.

"Namanya program pemerintah, saya sih setuju saja asalkan gajinya di atas Rp 3,1 juta per bulan dan ditambah uang makan. Waktunya juga delapan jam kerja biar tenang, enggak seperti sekarang," ungkap pria yang sudah bekerja sebagai sopir sejak tahun 1990an tersebut.

Pengakuan berbeda disampaikan sopir Metromini lainnya, D. Sihombing (46) dimana dirinya merasa tidak yakin seluruh awak bus sedang tersebut mampu diakomodir oleh pihak Transjakarta.

"Itu cuma lagu lama (diajak bergabung), mungkin enggak sekarang dari sekian banyak sopir yang ada, dipakai semua? Apalagi citra sopir Metro Mini sudah bobrok begini, pasti mereka merekrut dari yang lain," ujar sopir Metromini T47 tersebut.

Selain itu, masalah lainnya terkait usia para sopir yang tidak lagi muda hingga persoalan pendidikan sekolah. "Kalau umurnya kayak saya sekarang, mereka masih mau pakai enggak? Nantinya kita malah enggak diterima karena alasan umur, belum lagi persoalan ijasah," keluhnya.

Sihombing berharap permasalahan ini bisa segera selesai karena dirinya sudah beberapa hari tidak bekerja. Selama tidak bekerja tersebut, dirinya mengandalkan simpanan yang dimiliki. "Tapi kalau terus-terusan dipakai, ya habis juga. Mau narik, takut ditangkap cuma karena alasan sepele," keluh ayah dua orang anak tersebut.

Ia menilai untuk mengatasi persoalan ini, sebaiknya Pemprov DKI mengambil langkah peremajan sehingga tidak ada yang dirugikan. Sihombing pun yakin hal itu akan disambut baik asalkan diberikan bantuan. "Pemprov DKI juga harus membantu dengan memberikan subsidi dan jaminan. Saat ini bank tidak mau memberikan dana kalau jaminannya Metromini," ujarnya.

Sebelumnya Gubernur DKI Jakarta Basuki Thahaja Purnama menawarkan pemberian gaji fantastis kepada sopir Metromini. Besaran gaji tersebut adalah dua hingga 3,5 kali UMP DKI Jakarta tahun 2016. Pada tahun depan, UMP DKI Jakarta sebesar Rp 3,1 juta sehingga dengan tawaran tersebut, para sopir Metromini bisa mendapatkan Rp 6,2 juta-10,85 juta per bulan.

Penulis: Junianto Hamonangan
Editor: Max Agung Pribadi
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved