Pilkada Depok

Kalah di Quick Count, Babai Kambinghitamkan KPU Depok

Calon Wakil Walikota Babai Suhaimi justru menuding bahwa KPU Depok lah yang menjadi sumber utama penyebab kekalahannya

Penulis: Budi Sam Law Malau | Editor: Andy Pribadi
Warta Kota/Budi Sam Law Malau
Pasangan Dimas Oky Nugroho-Babai Suhaimi yang didukung 6 parpol saat mendeklarasikan diri, di Graha Mas Depok, di Jalan Arif Rahman Hakim, Senin (27/7/2015), sesaat sebelum mendaftar ke KPU Kota Depok. 

WARTA KOTA, DEPOK - Hasil hitung cepat Pilkada Depok 2015 oleh sejumlah lembaga menyatakan pasangan Dimas Oky Nugroho-Babai Suhaimi tertinggal jauh dalam perolehan suara dari pasangan Mohammad Idris Abdul Shomad-Pradi Supriatna.

Menanggapi hal ini, Calon Wakil Walikota Babai Suhaimi justru menuding bahwa KPU Depok lah yang menjadi sumber utama penyebab kekalahannya.

Babai beranggapan dalam pelaksanaan Pilkada Depok ini, ia banyak dirugikan oleh KPU Depok.

"Banyak kegiatan yang dilakukan KPU Depok, justru lebih menguntungkan lawan. Ada banyak kecurangan yang ditemukan oleh tim sehingga pasangan incumbent lebih banyak diuntungkan," kata Babai, Kamis (10/12).

Menurutnya saat ini timnya tengah mengumpulkan bukti-bukti adanya kecurangan dalam Pilkada Depok ini.

"Kami akan sikapi setelah mengumpulkan bukti-bukti," katanya.

Babai mengaku sejak awal kecewa dengan pelaksanaan Pilkada Depok ini.

Ia mencontohkan dalam pemasangan dan penyebaran alat peraga kampanye (APK) oleh KPU Depok, dalam beberapa hal merugikan pihaknya dan menguntungkan pihak Idris-Pradi.

Sebab di beberapa lokasi, kata Babai alat peraga miliknya dipasang tidak lengkap.

"Alat peraga lawan lengkap, sementara kami tidak. Ini tidak adil," katanya.

"Selain itu ada isu SARA soal spanduk pembangunan gereja yang sangat merugikan dan memukul kami. Isu ini lalu disebarkan melalui media sosial," katanya.

Bukan itu saja, kata Babai, banyak warga di wilayah yang merupakan basis massa pendukungnya tidak menerima formulir C-6 atau surat pemberitahuan memilih.

"Ini seperti ada kesengajaan yang dilakukan KPU Depok," kata Babai.

Menurut Babai, selain banyak warga tak menerima formulir C-6, justru nanyak juga warga yang meninggal mendapatkan formulir C-6.

"Ini berarti warga yang hidup gak didata, tapi warga yang meninggal justru didata," katanya.

Ia memastikan hal ini menandakan ada kesalahan pencacahan yang cenderung sengaja dilakukan KPU Depok.

"Ini harus diperbaiki terutama adalah mengenai masalah kejujuran," kata Babai.

Seperti diketahui, hasil quick count Pilkada Depok, sejumlah lembaga survey menunjukkan pasangan Idris-Pradi meraih suara disekitaran 61 persen sementara Dimas-Babai 39 persen.(bum)

Sumber: Warta Kota
  • Ikuti kami di
    KOMENTAR

    BERITA TERKINI

    berita POPULER

    © 2023 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved