resensi buku

Potret Kelas Menengah Semu

Membicarakan perilaku konsumsi di Indonesia tidak dapat lepas dari fenomena kelas menengahnya yang unik.

Editor: Andy Pribadi
Kompas/Agus Susanto
Cover buku Consuming Indonesia: Consumption in Indonesia in the Early 21st Century. 

WARTA KOTA, PALMERAH - Membicarakan perilaku konsumsi di Indonesia tidak dapat lepas dari fenomena kelas menengahnya yang unik.

Berdasarkan kriteria Bank Dunia, berbasis pengeluaran 2 dolar hingga 20 dolar AS per hari, sebanyak 56,5 persen penduduk Indonesia adalah kelas menengah.

Jika ditelaah lebih jauh, 50,2 persen di antaranya menghabiskan 2 dolar hingga 6 dolar AS per hari, kelompok terendah dalam kelas menengah.

Mayoritas ini disebut kelas menengah ”semu”, orang yang berusaha mengikuti gaya konsumsi kelas menengah, tetapi sesungguhnya tidak memiliki daya beli layaknya kelas menengah.

Kelas menengah di tepian ini menikmati status sebagai kelas menengah karena pasar menyediakan berbagai produk seperti yang dikonsumsi kelas menengah sejati.

Mulai dari makanan, fasilitas kebugaran, maupun tempat nongkrong.

Dengan rentang harga dan kualitas yang lebar, apalagi tawaran pembayaran melalui kredit, orang leluasa memilih sesuai dengan anggarannya.

Pendidikan menjadi pos yang mendapat prioritas dana. Lima eksekutif, dari orangtua yang mewakili kelas menengah ”semu”, berbagi pengalaman pendidikan dan perjuangan menempati kelas menengah.

Mereka mengadopsi sebagian pola kelas menengah, tetapi di sisi lain mempertahankan gaya hidup lamanya dengan selalu mempertimbangkan asas manfaat, pola pikir yang bukan menjadi ciri kelas menengah sejati. (THA/Litbang Kompas)

DATA BUKU
Consuming Indonesia: Consumption in Indonesia in the Early 21st Century
Penyunting: Kurasawa Aiko & William Bradley Horton
Penerbit: PT Gramedia Pustaka Utama, 2015
Tebal: xix+235 halaman
ISBN: 978-602-03-2147-9

Sumber: KOMPAS
  • Ikuti kami di
    KOMENTAR

    BERITA TERKINI

    © 2022 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved