Ini yang Bikin Pengrajin Tahu Putih Pilih Pakai Formalin

Pedagang di pasar lebih suka menjual tahu putih berformalin diklaim menjadi sebab utama pengrajin tahu putih memakai pengawet formalin.

Ini yang Bikin Pengrajin Tahu Putih Pilih Pakai Formalin
Warta Kota/Theo Yonathan Simon Laturiuw
Ini tahu putih produksi Siti Maidah yang memakai formalin. 

WARTA KOTA, SEMANGGI - Pedagang di pasar lebih suka menjual tahu putih berformalin diklaim menjadi sebab utama pengrajin tahu putih memakai pengawet formalin.

Siti Maidah (30), pengrajin tahu yang kini jadi tersangka, membeberkan efek domino maraknya pemakaian formalin di pengrajin tahu saat kasusnya dirilis di Polda Metro Jaya, Jumat (4/12).

Menurut Siti, kondisi di pasar cenderung menyulitkan pengusaha tahu putih untuk tak pakai formalin.

"Jualan tahu itu tidak bisa langsung, nggak bisa sehari dua hari selesai," kata Siti kepada wartawan, termasuk Wartakotalive.com.

"Sehari produksi baru pada malaam harinya dikirim ke pasar. Di pasar itu jualnya baru besok pagi. Sementara tukang sayur keliling baru keesokan harinya lagi menjual tahu. Sedangkan pedagang di pasar mereka itu nggak mau tau yang penting kondisi tahu bagus mereka bisa jual dapat untung. Kalau tahunya nggak layak jual mereka nggak dapet untung. Yg dimarahin siapa? Saya. Setelah kita di komplain nggak ngikutin mereka, mereka akan pindah ke produsen lain yang masih pada pakai formalin," kata Siti.

Celakanya, kata Siti, hampir 90 persen pengrajin tahu putih memilih memakai pengawet formalin ketimbang pengawet lain yang disarankan BPOM.

Makanya, apabila Siti memakai pengawet lain yang disarankan BPOM yang daya tahannya tak lama, maka pelanggannya akan kabur ke pengrajin lain yang masih memakai formalin.

Sementara itu, Kasubdit Industri dan Perdagangan, Ajun Komisaris Besar Agung Marlianto, tersenyum melihat Siti yang bicara berapi-api.

"Tak semua pengusaha tahu begitu. Bulan lalu kami juga mengecek 4 pengusaha tahu putih, 3 diantaranya tak pakai formalin, hanya 1 yang pakai formalin," kata Agung.

Menurut Agung, BPOM punya daftar pengawet yang direkomendasikan. Namun, harganya memang jauh diatas formalin.

"Makanya, Dia ini (Siti), hanya ingin mengambil untung lebih besar saja," kata Agung.

Sebelumnya, polisi menggerebek rumah pembuatan usaha tahu milik Siti di Jalan Raya Hankam, Gang Sunter RT 7/5, Kelurahan Jati Murni, Kecamatan Pondok Melati, Bekasi pada Rabu (2/12).

Tahu produksi Siti terbukti memakai formalin. Siti sendiri mengaku bahwa Ia mulai memakai formalin pada tahun 2011 lalu.

Tahu buatannya dijual di Pasar Kranji, Pasar Cikarang, Pasar Jumat, dan Pasar Cipulir.(ote)

Penulis: Theo Yonathan Simon Laturiuw
Editor: Andy Pribadi
Sumber: Warta Kota
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved