Kuota Terbatas, Lowongan PHL Monas Diperjualbelikan

Lowongan pekerjaan PHL Monas terbatas, praktek jual beli lowongan pekerjaan mulai ditemukan.

Kuota Terbatas, Lowongan PHL Monas Diperjualbelikan
Warta Kota/Bintang Pradewo
Ilustrasi. Para Pekerja Harian Lepas 

WARTA KOTA, GAMBIR -- Jelang penutupan tahun 2015, rupanya rasa galau menghantui seluruh Pekerja Harian Lepas (PHL) yang bekerja di lingkungan Pemprov DKI Jakarta.

Tidak terkecuali, para PHL di Kawasan Monumen Nasional, lantaran kuota lowongan pekerjaan PHL Monas terbatas, praktek jual beli lowongan pekerjaan mulai ditemukan.

Kekhawatiran tersebut seperti yang disampaikan oleh salah seorang petugas kebersihan Monas yang enggan disebutkan identitasnya.

Dirinya menuturkan, praktek jual beli lowongan pekerjaan tidak hanya dilakukan saat perekrutan PHL berlangsung, praktek tersebut justru diketahui telah dilakukan oleh kordinator PHL yang disebut mandor sejak lama.

Sejak beralih kewenangan pengelolaan dari Pemerintah Provinsi DKI Jakarta menjadi Unit Pengelola (UP) Monumen Nasional, para mandor dikatakannya, melakukan pemutusan hubungan kerja sepihak kepada sejumlah PHL tanpa ada alasan yang tepat.

Padahal, para PHL tersebut belum habis masa kontrak.

"Banyak yang baru beberapa bulan kerja, sama mandornya dipecat. Giliran ditanya alasannya kenapa, katanya cuma karena kerjanya malas-susah diatur. Jadinya kita pada khawatir sewaktu-waktu kena pecat. Beda kalau PHL luar (Monas), mereka aman. Karena terus dipantau Pemprov (DKI Jakarta)," ungkapnya kepada Warta Kota di silang Selatan Monas, Kamis (3/12).

Langkah pemecatan tersebut pun berlanjut kepada perekrutan PHL baru. Kepada calon pekerja, mandor pun menawarkan lowongan pekerjaan dan menjamin akan meloloskan seleksi perekrutan apabila yang bersangkutan mau memberikan uang pelicin dengan jumlah tertentu.

"Biasanya pada ditawarin masuk kalau mau bayar satu sampai dua juta. Nah karena itu banyak juga yang mau bayar, soalnya mikir yang penting bisa kerja. Istilahnya balik modal bang, kita kan digaji sehari Rp 100.000 sehari, itungannya di bulan pertama gaji dibayar setengah aja," ungkapnya.

"Tapi yang bikin saya bingung, banyak temen-temen yang baru absennya pakai nama (PHL-red) yang lama, padahal kan semuanya udah dipecat," tutupnya menambahkan.

Sementara itu, Kepala Unit Pengelola Kawasan (UPK) Monumen Nasional (Monas), Rini Hariani mengaku, jika dirinya tidak mengetahui adanya praktik tersebut. Walaupun diakuinya pelaksanaan perekrutan Pegawai Harian Lepas (PHL) Monas merupakan tanggung jawab pihaknya sejak peralihan pengelola kawasan Monas dari Pemprov DKI Jakarta pada akhir tahun 2014 lalu.

"Saya belum pernah terima adanya informasi itu, memang perekrutan pegawai sampai pengelolaan Monas saat ini sudah dijalankan oleh kita (UPK Monas)," ungkapnya.

Sehingga, memasuki bulan Desember 2015 atau menjelang berakhirnya masa kontrak para PHL tahun 2015 yang jatuh pada tanggal 31 Desember 2015 mendatang, pihaknya kini tengah melakukan proses pendataan sekaligus perekrutan ulang kepada para PHL untuk masa kontrak PHL tahun 2016.

Tercatat, ada sebanyak 525 orang PHL yang aktif bekerja di kawasan Monas. Seluruhnya terbagi dalam empat satuan tugas, antara lain sebanyak 328 orang perawat taman, 141 orang pengamanan dalam, 4 orang operator kereta dan 52 orang tenaga kebersihan tugu.

"Perekrutan dilakukan dengan seleksi terbatas terhadap para PHL yang bertugas pada tahun 2015. Tapi kita yakinkan kalau perekrutan tetap utamakan PHL yang lama, baru jika ada yang gugur, kita seleksi calon tenaga kerja baru," ungkapnya.

Menanggapi adanya dugaan aksi jual-beli dalam perekrutan PHL pun dibantahnya lewat sistem pembayaran gaji setiap bulan. Dirinya memaparkan jika sistem pembayaran gaji telah dilakukan melalui rekening masing-masing Bank DKI milik PHL, sehingga kecil kemungkinan jika terjadi pemalsuan data PHL ataupun pemotongan gaji yang dilakukan kordinator.

"Jadi sepertinya kalau memang ada PHL yang pakai nama orang lain justru bisa rugi. Karena nanti gajinya pasti tidak sampai ke tangannya (PHL-red)," katanya.

Penulis: Dwi Rizki
Editor: Gede Moenanto
Sumber: Warta Kota
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved