Preman Kebayoran Lama Ditangkap

Pemkot Jakarta Selatan kembali menertibkan Pasar Kebayoran Lama. Seorang provokator yang mengutip uang preman ke pedagang ditangkap polisi.

Preman Kebayoran Lama Ditangkap
Warta Kota/Bintang Pradewo
Pasar Kebayoran Lama, Jakarta Selatan, Selasa (25/8/2015) 

WARTA KOTA, KEBAYORAN LAMA-Pemerintah Kota Administrasi Jakarta Selatan kembali menertibkan pedagang kaki lima (PKL) yang kerap berjualan di sekitar Pasar Kebayoran Lama, Jakarta Selatan, Senin (30/11) pagi. Ratusan petugas gabungan dari Satuan Polisi Pamong Praja (Satpol PP), Suku Dinas Perhubungan dan Transportasi Jakarta Selatan, Polsek Kebayoran Lama dan TNI dikerahkan untuk penertiban yang dilaksanakan sekitar pukul 09.00 WIB itu.

Dipimpin langsung oleh Wali Kota Jakarta Selatan Tri Kurniadi dan Kepala Dinas Koperasi Usaha Mikro Kecil Menengah dan Perdagangan (KUMKMP) DKI Jakarta, Irwandi. Para petugas terlihat fokus melakukan penertiban PKL di Jalan Stasiun Kebayoran Lama.

Sejak tahun 1998 lalu, PKL sudah mengokupasi jalan tersebut untuk berdagang sehingga jalan selebar delapan meter dengan panjang sekitar 500 meter tidak bisa dilalui kendaraan. Saluran air di sekitar tempat itu juga tertutup sampah.

Kepala Satpol PP Jakarta Selatan, Sulistiarto langsung memimpin para Satpol PP untuk segera mengangkut lapak-lapak pedagang yang berjualan di jalan itu. Dengan persuasif, Sulis meminta para pedagang untuk tidak berjualan kembali disana.

"Ayo bapak dan ibu tidak boleh berdagang di jalanan ini. Emang belum sampai surat peringatannya agar tidak berjualan disini ?" tanya Sulis kepada pedagang yang berjualanan di Jalan Stasiun Kebayoran Lama. Mereka hanya bisa berpasrah dan buru-buru mengangkut barang-barang dagangan mereka.

"Sudah tahu sih akan ada penertiban. Tapi, kita tadi pagi sudah bayar kupon sebesar Rp 2.000. Dikirain aman," celetuk seorang PKL yang tidak ingin disebutkan namanya.

Tiba-tiba situasi memanas saat Firman Muntako (57), seorang yang mengaku sebagai pengelola pedagang meminta pertanggung jawaban terhadap Pemerintah Provinsi DKI. Karena pedagang binggung akan dipindahkan kemana. Dia mendekati beberapa pejabat Pemkot Jakarta Selatan agar para pedagang masih diizinkan untuk berdagang.

"Sebenarnya kalau rapi kami setuju. Tapi, pedagang mau ditempatin dimana pak," ujar pria yang akrab disapa Akok itu.

Karena dianggap sebagai provokator, Petugas Babinkamtibmas Polsek Kebayoran Lama, Iptu Kasim langsung memarahi provokator itu. Dia menanyakan kemana para pedagang membayarkan retruibusi.

"Kamu ngelola atas perintah siapa ? Kan harusnya itu retribusi masuk ke Pemda DKI," ucap Kasim.

Akok langsung mengatakan para pedagang harus membayar retribusi sebesar Rp 8.000. Kebanyakan uang itu untuk keamanan, kebersihan dan listrik. Namun, retribusi liar itu tidak masuk ke dalam Pemda DKI.

"Yang nyuruh ngutip itu pak Satria. Pak Maman yang nyuplai dari retribusi pedagang," ucapnya.

Pedagang yang tidak suka dengan keberadaan Akok langsung berteriak-teriak. Petugas kepolisian pun langsung membawanya ke Polsek Kebayoran Lama.

"Sudah diamankan saja ini ke polsek biar diproses karena memprovokasi pedagang.

Penulis:
Editor: Max Agung Pribadi
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved