Citizen Journalism

Teroris, Siapa Dirimu?

Teroris adalah teroris, mereka adalah kelompok kepentingan yang secara keji menggunakan Islam sebagai tameng untuk mewujudkan kepentingan duniawinya.

WARTA KOTA, PALMERAH - Serangkaian peristiwa penyerangan dan peledakan di sejumlah kota di dunia yang menimbulkan korban jiwa sangat membuat warga dunia prihatin dan kecewa.

Sebagai warga yang awam tentu kita tidak dapat mengetahui dengan pasti apa motif sesungguhnya dari perbuatan tersebut.

Secara umum mungkin kita bisa menyebut beberapa faktor yang menjadi latar belakangnya.

Misal saja alasan Ideologis dan perebutan kekuasaan. Tetapi dalam dua dekade belakangan ini sentimen agama disebut-sebut sebagai biang keladinya.

Aksi teror yang didasari ideologi sudah ada sejak dahulu. Sebut saja Ku Klux Klan yang menjadi teror menyeramkan bagi komunitas kulit hitam di Amerika Serikat sejak 1865.

Begitu pula dengan gerakan Neo Nazi sejak lima belas tahun belakangan ini.

Bahkan, perebutan kekuasaan antarkelompok di suatu negara juga dikategorikan sebagai tindakan teror.

Beberapa diantaranya terjadi di Irlandia, Kolombia, Venezuela, Srilanka, Meksiko, dan India.

Para milisi bersenjata yang bertentangan dengan rezim suatu pemerintahan ini dianggap sebagai teroris yang mengancam keselamatan warga sipil dan negara.

Biasanya rezim yang didukung oleh Amerika dan sekutunya lah yang berhak menyebut saingannya itu sebagai teroris.

Kedua motif dari aksi teror seperti tersebut telah menimbulkan korban warga sipil.

Perbuatan teror seperti itu layak untuk disebut sebagai sebuah tindakan terorisme.

Lalu bagaimana dengan Islam yang dikaitkan dengan sejumlah aksi terorisme?

Sejak peristiwa hancurnya menara kembar WTC di New York tahun 2001, militan Islam langsung ramai-ramai dituding sebagai pelakunya.

Amerika dan sekutunya langsung mendeklarasikan perang melawan teroris.

Sejak saat itu setiap peristiwa pemboman dan penyerangan yang menimbulkan korban rakyat sipil selalu dilekatkan kepada komunitas muslim.

Sebenarnya, seperti halnya aksi teror yang dilakukan Ku Klux Klan, Amerika dan sekutunya harus berkaca kepada peristiwa klasik di negerinya masing-masing.

Gerakan separatis IRA di Irlandia dalam aksinya kerap melakukan serangkaian teror terhadap warga sipil di Inggris dan Irlandia.

Aksi teror para militan IRA maupun simpatisannya berlangsung sejak tahun 1960.

Pada tahun 1997 markas FBI di Oklahoma diledakkan oleh pria asal Amerika sendiri Timothy mc veigh, namun pemerintah Amerika tidak menyebutnya sebagai aksi teroris, melainkan sekadar aksi kriminal.

Begitu pula dengan kasus pembunuhan JFK.

Amerika dan sekutunya akan lantang menyebut aksi terorisme kepada sejumlah kelompok militan yang kebetulan berasal dari Timur Tengah.

Kelompok-kelompok radikal ini sesungguhnya sangat jauh dari ajaran Islam.

Bahkan Islam memiliki fakta sejarah tentang bagaimana sifat dan sikap kafir quraisy yang sangat membenci ajaran Islam yang dibawa oleh Muhammad.

Bahkan saat ini negara-negara Arab atau Timur Tengah mulai identik dengan budaya/kebiasaan barat. Negara kaya di jazirah Arab yang memiliki tambang minyak mulai memiliki kepentingan politis dan bisnis yang tidak langsung terkait dengan Islam dan ajarannya.

Sementera negara-negara Arab yang kecil dan miskin telah menjadi komoditas politik negara arab lainnya yang besar. Salah satu kepentingannya jelas adalah soal kekayaan tambang minyak.

Sedangkan apa yang terjadi di Indonesia sendiri masih merupakan studi yang panjang jika harus menyimpulkan bahwa pesantren adalah basis dari ajaran terorisme.

Peristiwa teror bom yang beberapa kali sempat mengemuka belum dapat dibuktikan terkait secara langsung dengan ajaran Islam yang diselenggarakan di pesantren.

Faktanya lebih kepada pemahaman dan kepentingan yang keliru dari individu atau kelompok tertentu terhadap suatu pandangan menyangkut aspek pemerintahan dan atau kekuasaaan.

Fakta bahwa teroris itu ada adalah sebuah keniscayaan yang harus dterima. Perihal asal-usul pelaku teror yang kebetulan berbau Arab dan beragama Islam tidak serta merta harus menjustifikasi Islam sebagai agama yang mengajarkan kebencian terhadap umat atau bangsa lainnya.

Siapa pun pelaku teror harus dapat diperlakukan dan diproses secara hukum sesuai yang berlaku di masing-masing negara.

Dan pemerintahan barat harus mampu menghapus opini yang terlanjur berkembang luas di masyarakat dunia bahwa Islam adalah alasan dari adanya aksi terorisme. Karena kampanye antiterorisme dengan cara menghujat Islam justru akan menimbulkan konflik.

Negara Arab, keturunan Arab, kebangsaan dan kewarganegaraan Arab sama sekali tidak ada kaitannya dengan Islam.

Teroris adalah teroris, mereka adalah kelompok kepentingan yang secara keji menggunakan Islam sebagai tameng untuk mewujudkan kepentingan duniawinya.

Taufiq Sandjaya,
Karyawan swasta.

Sumber: WartaKota
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved