Ketimbang Ikut Mogok, Pengemudi Ojek Online ini Pilih Narik

Bukan mogok mbak, mungkin pengemudi-pengemudi itu protes karena ada penurunan tarif per kilometernya.

Ketimbang Ikut Mogok, Pengemudi Ojek Online ini Pilih Narik
Warta Kota
Ilustrasi 

WARTA KOTA, SENAYAN - Beredar kabar bahwa pekan depan, pengemudi salah satu operator ojek online bakal menggelar aksi mogok lantaran santernya isu pemotongan honor sebesar Rp 40.000.

Pemotongan honor tersebut, diduga dilakukan manajemen karena dananya akan digunakan untuk membeli helm, seragam, serta atribut lainnya.

Menanggapi isu mogok yang beredar ini, salah satu pengemudi ojek online, Gia Apriyandi, mengaku tidak mengetahui bahwa ribuan pengemudi ojek online yang berkantor di Kemang itu akan melakukan aksi mogok.

"Bukan mogok mbak, mungkin pengemudi-pengemudi itu protes karena ada penurunan tarif per kilometernya. Yang semula Rp 4000 per kilometer jadi Rp 3000 per kilometer," ucap Gia, Minggu (15/11) di Kawasan Jalan Jenderal Sudirman, Senayan, Jakarta Pusat.

Pria yang belum berkeluarga ini mengatakan, pengemudi memang mengeluhkan hal ini tetapi mereka tidak bisa berbuat banyak. Hal ini, kata Gia, karena keputusan dari manajemen sudah bulat.

"Saya lupa, beberapa waktu lalu banyak pengemudi yang demo di kantor mempertanyakan kenapa tarifnya dikurangi, tetapi manajemen nggak mau tarik keputusannya lagi. Ya mungkin juga karena banyak saingan ya mbak. Jadi strategi bisnis," tuturnya.

Dia pun tidak tahu pasti alasan perusahaan ojek online tersebut menurunkan tarif per kilometernya. Yang pasti, kata Gia, dirinya mengalami penurunan pendapatan dibandingkan dengan sebelum penurunan tarif per kilometer tersebut.

Semula, penghasilannya per minggu bisa mencapai Rp 1 juta jika dia rajin narik dari pagi hingga malam hari. Tetapi, akibat penurunan tarif per kilometer, penghasilannya menurun drastis. "Ya, lumayan mbak, sekarang paling seminggu Rp 700 ribu itu aja udah kerja berat banget," terangnya.

Pria yang sudah bergabung dengan perusahaan penyedia jasa ojek online selama tiga bulan itu mengaku, dirinya tidak tahu apakah nanti tarif akan dikembalikan seperti semula atau tidak. Dirimya pasrah mengenai hal tersebut.

"Saya juga nggak tahu, apakah nanti bakal dinaikkan lagi atau nggak. Kami ini kan saling membutuhkan. Kalau nanti pengemudinya demo terus mogok kerja, perusahaan kayaknya nggak masalah karena masih ada ribuan ojek lain. Terus, sampai sekarang kan juga masih banyak yang pengen ngojek kayak gini," terangnya.

Ia mencontohkan, saat ini saking banyaknya pengemudi ojek online yang satu perusahaan maupun dari perusahaan pesaing membuat para pengemudi ojek online jadi sulit mendapatkan penumpang.

"Jakarta aja udah ribuan, belum lagi pesaing ribuan juga, cari penumpang sekarang makin susah. Harus berebutan, cepet-cepatan kliknya, makanya kalau tarif per kilometernya diturunin jadi sangat berasa," paparnya.

Meski keberatan, seperti pada waktu sebelumnya, dirinya mengaku tak akan ikut aksi demo maupun mogok. "Daripada demo mbak, nggak dapat uang, mendingan saya narik. Itu nggak diharuskan kok, terserah aja siapa yang mau ya demo yang enggak mau ya kerja. Masih banyak juga kok yang tetap narik," katanya.

Ia pun tidak menampik, kecewa karena penghasilannya menurun, tetapi menurutnya penghasilannya sebagai pengemudi ojek online masih lebih baik ketimbang sewaktu masih menjadi timer taksi.

"Dulu saya timer taksi di mall. Jadi kerjanya menghitung taksi yang masuk dan keluar dari mall. Ya kalau dipikir-pikir walaupun penghasilan ojek sekarang menurun lebih baik lah daripada pas jadi timer dulu," kata pria yang mengaku gajinya sebagai timer taksi hampir sebesar UMR DKI itu. (Agustin Setyo Wardani)

Editor: Adi Kurniawan
Sumber: Warta Kota
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved