Rabu, 29 April 2026

resensi buku

Narasi Pergulatan Tradisi Lokal dan Budaya Global

Eksistensi nilai-nilai dan tradisi lokal di tengah gempuran kebudayaan global tergambar dalam buku kumpulan cerpen Anak-Anak Masa Lalu

KOMPAS/WISNU WIDIANTORO
Cover buku kumpulan cerpen Anak-Anak Masa Lalu karya Damhuri Muhammad. 

Oleh Yusri Fajar

Dalam jagat sastra, warna lokal menarik diperbincangkan bukan hanya karena keunikannya, melainkan juga karena warna lokal dapat membangun ciri khas dan identitas sebuah karya sastra.

Pengetahuan dan pengalaman pengarang ketika bersinggungan dengan nilai-nilai tradisi dari khazanah budaya Indonesia yang multikultur memengaruhi narasi-narasi yang dituturkannya.

Eksistensi nilai-nilai dan tradisi lokal di tengah gempuran kebudayaan global tergambar dalam buku kumpulan cerpen Anak-Anak Masa Lalu karya Damhuri Muhammad. Mitos, peristiwa supranatural, lanskap masyarakat rural (pedesaan) berdialektika dengan modernisasi, kepentingan global, dan perubahan cara pandang serta gaya hidup masyarakat.

Untuk menyibak dialektika nilai-nilai tradisional dengan ekspansi budaya global, Damhuri mengeksplorasi latar desa dan wilayah pinggiran dengan kearifan lokal yang mengakar.

Kota sebagai pusat hegemoni kekuasaan dan ekonomi ditampilkan sepintas untuk menunjukkan perbedaan dan menciptakan relasi dengan daerah-daerah di mana kearifan-kearifan lokal diamalkan.

Meskipun Damhuri menyimpan fakta latar ruang sesungguhnya, pembaca bisa mengaitkannya dengan wilayah di Indonesia yang mengalami dinamika serupa.

Perhatian Damhuri pada tradisi lokal bisa dilihat dari strategi racikan penceritaan yang memadukan alur maju dan mundur.

Alur mundur digunakan untuk menyingkap latar historis dan eksistensi tradisi lokal yang dioposisikan dengan kondisi kekinian yang dinarasikan melalui alur maju.

Benturan tradisi dan globalisasi
Dalam cerpen ”Orang-Orang Larenjang”, Damhuri bercerita tentang perkawinan sesama anggota suku yang menjadi pantangan bagi suku Larenjang.

Akibatnya, mereka dihapus dari silsilah dan ahli waris suku. Warga Larenjang juga dikucilkan dari pergaulan antarsuku. Di luar logika akal dan pembuktian ilmiah, para pelanggar perkawinan terlarang akan tertimpa musibah.

Para pelanggar aturan tradisi merepresentasikan kelompok terdidik, yang mengenyam pendidikan tinggi sebagai hasil budaya global, dengan kultur berpikir logis dan ilmiah.

Namun, akhirnya, musibah menimpa pelanggar. Istri dan anak-anak tokoh yang memberontak meninggal.

Sementara itu, konflik antara orang yang ingin menjaga kesakralan kawasan lokal dan orang-orang yang ingin menggunakannya sebagai sumber peruntungan tampak dalam cerpen ”Kepala Air”.

Penggunaan Lubuk yang sakral sebagai destinasi wisata dipandang para pemuka menguntungkan warga dan anak cucu. Sementara seorang sesepuh yang biasa dipanggil ”Ku Imam” menilai alih fungsi dan komersialisasi lubuk itu akan mendatangkan maksiat, petaka, dan menodai kesakralannya.

Sebelumnya, banyak korban yang telah mati misterius di Lubuk penuh kekuatan supernatural tersebut. Ironisnya, Ku Imam dianggap menghalangi pembangunan. Dia dikriminalisasi dan dipenjarakan.

Kekuatan konflik-konflik dalam cerpen Damhuri memang dikonstruksi melalui benturan antara nilai-nilai kearifan lokal, perilaku, dan pemikiran yang terpengaruh budaya global.

Dalam cerpen bertajuk ”Banun”, tokoh perempuan bernama Banun meyakini nilai-nilai lokal bertani. Tanah garapan harus dijaga dan digunakan sebagai basis swadaya.

Namun, tokoh-tokoh antagonis di desanya justru memandang Banun pelit, kolot, dan tidak terbuka dengan spirit globalisasi.

Bagi mereka, sawah bisa dijual untuk bekal mencari laba dengan cepat, atau modal menjadi TKI di negeri-negeri yang lebih menjanjikan secara ekonomi.

Politik, pembangunan, dan kekuasaan
Tema politik di dalam buku ini juga dibalut dengan narasi mistis yang banyak dipercayai oleh masyarakat di daerah rural. Cerpen ”Luka Kecil di Jari Kelingking” mengisahkan pemuda kampung yang oleh penguasa dituduh PKI karena dia membaca buku-buku kiri yang dikoleksi ibunya.

Ketika pemuda ini menjadi buronan, sang ibu mengalami luka kecil di jari kelingking.

Banyak orang dulu percaya bahwa musibah atau bencana ditandai dengan peristiwa tertentu yang korelasinya kadang tak bisa dicerna oleh akal. Isu kekerasan 1965 diracik Damhuri secara semiotik sebagai peristiwa yang melukai tidak hanya fisik, tapi juga psikis.

Sementara isu pembangunan yang penuh dengan rumus dan kalkulasi matematis didekonstruksi oleh Damhuri melalui unsur mistis.

Cerpen ”Anak-Anak Masa Lalu” menuturkan pembangunan jembatan oleh seorang insinyur yang logikanya akan bertumpu pada hitungan-hitungan mekanistik untuk menghasilkan jembatan tangguh dan awet melalui bahan dan konstruksinya harus tepat.

Ternyata sang insinyur memiliki kepercayaan mistis bahwa untuk membangun jembatan kuat, kepala-kepala bocah harus dimasukkan dalam adonan bahan material sebagai tumbal.

Perilaku ini menjungkirbalikkan rasionalitas dan logika eksakta yang selama ini dijunjung tinggi oleh para peneliti dunia teknik dan ilmu alam. Ketika malam arwah-arwah anak-anak yang dikorbankan itu menjerit dan merintih kesakitan.

Sementara itu, narasi kekuasaan lokal yang didapatkan melalui kekuatan mistis tecermin dalam cerpen ”Badar Besi”. Cerita ini menjadi relevan dan menarik di era yang penuh dengan pasar akik. Badar besi merupakan batu yang dianggap memiliki kekuatan mistis.

Siapa pun yang mengenakannya akan kebal. Perebutan badar besi yang ditaksir sangat mahal itu berujung konflik serius bagi para pemburunya.

Seorang tukang cukur yang mendapatkan badar besi tanpa disengaja telah berubah nasib menjadi centeng los daging yang disegani para pemalak karena ia memiliki kesaktian berkat batu keramat itu.

Damhuri dengan demikian menghadirkan khazanah mistis dan nilai-nilai kearifan lokal dalam dua sisi berbeda. Di satu sisi, praktik-praktik mistik bisa destruktif dan merugikan seperti dalam cerpen ”Anak-Anak Masa Lalu”.

Di sisi lain, tradisi lokal memberikan dampak positif bagi kehidupan masyarakat di era global yang mekanikal dan komersial.

DATA BUKU

Judul: Anak-Anak Masa Lalu
Penulis: Damhuri Muhammad
Penerbit: Marjin Kiri
Cetakan: I, 2015
Tebal: v + 121 halaman
ISBN: 978-979126046-6

YUSRI FAJAR, Cerpenis, Komite Sastra Dewan Kesenian Jawa Timur.

Sumber: KOMPAS
Ikuti kami di

Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved