Penembakan

Tentara dan Polisi Harus Dilatih Kendalikan Emosi

Sersan Satu YH, anggota Kostrad TNI AD yang menembak mati seorang pemotor bernama Japra mestinya bisa mengendalikan emosi.

Tentara dan Polisi Harus Dilatih Kendalikan Emosi
Tribunnews.com
Ilustrasi 

WARTA KOTA, PALMERAH— Sersan Satu YH, anggota Kostrad TNI AD yang menembak mati seorang pemotor bernama Japra di Bogor lantaran urusan sepele, sebenarnya punya 2 pilihan ketika mobil Honda CRV-nya disenggol motor Japra.

Pertama mengambil senjata, menodongkannya ke lawan, lalu menarik pelatuknya. Kedua, mengendalikan emosinya, menahan amarah dan berusaha melupakan bahwa Ia punya senjata yang bisa membuat siapa saja tunduk dan kalah.

Mana yang lebih mudah? Jawabannya mengendalikan emosi saat seseorang memiliki senjata adalah hal yang sulit. Apa yang dialami Sertu YH jelas memperlihatkan hal itu. Makanya pelatihan pengendalian emosi amat penting bagi tentara maupun para aparat, terutama tentara dan polisi.

Peneliti Bidang Psikologi dan Kriminal, Ihshan Gumilar, menuliskan soal pentingnya pengendalian emosi kepada Wartakotalive.com, Selasa (10/11/2015).

Ihshan merupakan dosen di Universitas Bina Nusantara yang tengah melakukan penelitian di Institute for Neuroscience, Department of Experimental Psychology, Ghent University, Belgium.

Dalam tulisannya, menurut Ihshan, menembak adalah sebuah tindakan yang lebih mudah dibandingkan menahan diri untuk tidak menembak.

"Menarik pelatuk tidak membutuhkan energi yang lebih besar dibandingkan dengan menahan diri untuk tidak menarik pelatuk," tulis Ihshan.

Menarik pelatuk senjata, tulis Ihshan, tak ubahnya seperti melepaskan sesuatu yang mendesak. Jika sudah ada desakan emosi di dalam jiwa, sebagai contoh karena merasa tersinggung, meluapkan emosi tersebut jauh lebih mudah karena hanya melepaskan agar tidak ada beban.

"Akan tetapi menahan diri agar emosi itu tidak membuncah pada saat itu, membutuhkan kekuatan yang luar biasa lebih besar," tulis Ihshan.

Oleh karena itu, tulis Ihshan, baik pejabat yang bersenjata maupun yang mempunyai peranan penting dalam menentukan kebijakan sebaiknya menjalani sebuah proses training pengolahan emosi secara berkala. Hal ini demi menjaga rasa aman dan tidak melukai warga sipil yang tidak berdosa.

"Sebagai seseorang yang diberikan kepercayaan melindungi warga sipil, sudah barang tentu sebaiknya punya kemampuan menahan diri yang lebih baik dibandingkan warga biasa yang tentu merasa kecut ketika melihat moncong senjata," tulisnya.

Orang yang kuat, menurut Ihshan adalah orang yang mampu untuk melawan desakan emosinya, bukan melepaskannya. Karena melepaskan dengan seketika ketika desakan itu membuncah, dapat berakibat fatal. Namun, itu perlu dilatih.

Oleh karena itu, tulis Ihshan, seorang tentara ataupun aparat keamanan negara, bukan hanya dilatih dari segi kekuatan fisik, tapi juga dari segi ketahanan mengolah emosi dalam kondisi-kondisi sulit, termasuk pada saat marah.

Kemampuan untuk mengolah emosi, tulis Ihshan, sebaiknya dilakukan secara berkala, sebab masalah yang ada dalam kehidupan sehari-hari sangatlah variatif. Emosi manusia perlu di charge secara berkala jika telah digunakan dalam kurun beberapa waktu.

Penulis: Theo Yonathan Simon Laturiuw
Editor: Suprapto
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2020 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved