Kuliner
Wisata Kuliner Pecenongan Tetap Lestari
Lama sejak diresmikan oleh Gubernur DKI Jakarta, Ali Sadikin pada tahun 1971 kala itu, Pusat Kuliner Pecenongan kini kian kehilangan kepopulerannya.
WARTA KOTA, GAMBIR - Lama sejak diresmikan oleh Gubernur DKI Jakarta, Ali Sadikin pada tahun 1971 kala itu, Pusat Kuliner Pecenongan kini kian kehilangan kepopulerannya.
Isu penggusuran pun kian ramai dibicarakan, padahal sejak lama pusat kuliner yang berada di Jalan Pecenongan itu telah menjadi ikon Ibu Kota DKI Jakarta.
Satu dari dua orang pelopor Pusat Kuliner Pecenongan, Hartono (62) pemilik warung seafood Happy 17 bercerita jika pada awalnya Pusat Kuliner Pecenongan merupakan jalan kawasan pertokoan biasa seperti pada umumnya.
Namun, karena berada di antara kawasan strategis seperti Pasar Baru, Hayam Wuruk, Mangga Besar serta Monumen Nasional dan pusat pemerintahan Republik Indonesia, Jalan Pecenongan kian ramai dipenuhi Pedagang Kaki Lima (PKL).
Seiring dengan pesatnya pembangunan, sejumlah pertokoan di sepanjang Jalan Pecenongan pun berubah menjadi pusat jual beli mobil bekas yang diakuinya menjadi yang terbesar se-Asia pada tahun 1970an.
Kehidupan di Jalan Pecenongan pun semakin ramai dengan dibangunnya pusat perjudian dan kasino di kawasan Hayam Wuruk, Mangga Besar, Jakarta Barat.
"Siang-malam, 24 jam setiap hari, Jalan Pecenongan nggak ada matinya, PKL rame pada dateng, mereka jualan di pinggir jalan mulai dari Jalan Pecenongan, Jalan Djuanda, Jalan Hayam Wuruk sama Jalan di sekitar Tamansari.
"Karena itu, Gubernur kita waktu itu, Almarhum Ali Sadikin langsung masukin semua PKL ke Jalan Pecenongan dan ngeresmiin Pusat Kuliner Pecenongan tahun 1971," cerita pria kelahiran Pontianak, 3 Maret 1953 itu mengenang.
Tercatat, ada lebih dari sebanyak 70 orang PKL yang berjejer rapat berjualan di sepanjang Jalan Pecenongan.
Namun, sesuai dengan arahan Ali Sadikin, para PKL hanya diperbolehkan berjualan pada malam hari, yakni mulai dari pukul 19.00 WIB hingga pukul 04.00 WIB.
Permintaan Gubernur DKI Jakarta yang menjabat sejak tahun 1966 hingga tahun 1977 itu pun dipenuhi pedagang. Kawasan pertokoan di sebelah utara Kantor Sekretariat Negara RI yang sebelumnya semrawut penuh PKL itu pun kian rapih dan tertata.
"Pak Ali Sadikin itu orangnya tegas, kalo bilang nggak boleh jualan-ya nggak boleh, kalo nggak-pasti diangkut semua. Makanya PKL waktu itu nurut semua, ya walaupun cuma jualan malem, kita tetep kebanjiran rejeki, soalnya bukan cuma orang kantor aja yang makan, orang mabok pulang dari kasino juga makan di sini," ungkap pria keturunan tionghoa itu menunjuk gapura di ujung jalan bertuliskan Pusat Kuliner Pecenongan.
Walau Jalan Pecenongan kian ramai dan terkenal menjadi pusat wisata kuliner malam di Jakarta, sejumlah aksi kriminalitas diungkapkannya, marak terjadi hampir setiap pekan, mulai dari penjambretan, pencurian, hingga penemuan korban Petrus (penembakan misterius) di pelataran gedung percetakan negara yang kini berdiri Hotel Redtop pada tahun 1979.
"Karena itu, kita (pedagang) sama warga di sekitar Kebon Kelapa ini kompak dari dulu sampai sekarang. Kita gantian jaga, khususnya waktu jam tutup warung, sekitar jam tiga-empat pagi, soalnya jam itu-jam rawan kriminal, orang pulang dari kasino atau tempat hiburan malem," ungkapnya.
Hal tersebut pun dibenarkan oleh Yohanes Kurniawan (61) pemilik Sate Babi Krekot yang berada di depan Hotel Alila.
Namun, lewat kekompakkan warga dan pedagang, aksi kriminalitas tidak dapat dikurangi, bahkan terhitung selama sekitar 18 tahun, sejak tahun 1971 hingga tahun 1999, Pusat Kuliner Pecenongan kian ramai kebanjiran pengunjung.
"Kalau dibilang masa keemasan kita kapan, ya mulai Pecenongan ini diresmiin sampai pas reformasi, tahun 1998-1999. Kalau dulu itu, satu warung bisa punya 30 karyawan untuk ngelayanin pembeli, tapi karena pas jaman reformasi itu ekonomi sulit ditambah lagi kerusuhan, Pecenongan tutup lama," ceritanya.
Masa reformasi tersebut diungkapkannya, menjadi masa kelam yang dialami pedagang Pusat Kuliner Pecenongan, karena dari sebanyak 70 orang pedagang yang berjualan, jumlahnya kian menyusut hingga sebanyak 42 orang pedagang tersisa.
Hal tersebut dikarenakan, banyak pedagang yang menjadi korban penjarahan, perkosaan ataupun pembunuhan, sementara beberapa pedagang lainnya diketahui pergi ke kampung halaman.
"Untung saya sama orangtua, Yusuf Gunawan (almarhum) deket sama warga sini, jadi ditolongin. Karena itu juga sekarang kebanyakan pedagang sini yang kesisa itu keturunan kedua, warisan dari orangtua. Mereka yang bisa bertahan dari jaman reformasi," ungkapnya.
Cobaan demi cobaan pun kembali dialami para pedagang, selepas pergantian rezim Orde Baru, pedagang pun dihadapi dengan masuknya narkotika jenis ekstasi dan putau pada sekira tahun 2000.
Karena maraknya penyalahgunaan narkotika, jumlah pengunjung dikatakannya, kian menurun, para pengunjung hiburan malam tidak lagi makan di kawasan Pecenongan.
"Kita berasa banget waktu ekstasi sama putau itu mulai masuk ke Jakarta, bisa keitung yang makan. Soalnya memang efeknya parah, orang yang pake narkoba itu jadi males makan, beda halnya waktu sebelum ada narkoba, orang yang pulang dari kasino cuma mabok bir sama vodka, efeknya bagus-malah bikin nafsu makan," jelasnya.
Penggusuran
Ditemui bersamaan, Koordinator Pusat Kuliner Pecenongan, Linda menambahkan, seiring dengan perkembangan zaman dan pesatnya pembangunan, kawasan Pecenongan pun kian dilirik pengembang dan kian didera isu penggusuran.
Kondisi tersebut seperti halnya yang terjadi pada akhir bulan Oktober 2015 lalu. Pihak Pemkot Jakarta Pusat berencana untuk melakukan penggusuran pedagang Pusat Kuliner Pecenongan yang juga dikenal sebagai JP 13.
Rasa gusar dan resah pun disampaikan pedagang maupun warga yang bermukim di sekitar Jalan Pecenongan, Kebon Kelapa, Gambir, Jakarta Pusat. Karena seperti yang diketahui, sejumlah warga mulai dari anak-anak hingga dewasa pun turut menggantungkan hidupnya di Jalan Pecenongan untuk bekerja menjadi penyemir sepatu, juru parkir, pedagang buah keliling hingga penjual buku.
"Karena mau dihapus, warga jadi resah, tapi kita sampaikan ke mereka kalau kita harus kompak. Kenapa bisa begitu, karena Pecenongan ini punya kita, tempat kita cari nafkah," ungkapnya dihadapan warga dan pedagang di warung makannya, Sabtu (7/11/2015).
Menanggapi keterangan Linda, seorang pengamen, Ryan (20) pemuda RT 05/04 Kebon Kelapa, Gambir, Jakarta Pusat pun menyampaikan rasa keberatannya.
Dirinya menilai jika upaya penggusuran yang dilakukan oleh Pemkot Jakarta Pusat tidak beralasan, sebab menurutnya, warga sama sekali tidak merasa keberatan dengan adanya pedagang Pecenongan.
"Kita justru seneng ada pedagang di sini, kita semua bisa juga cari duit. Jadi kalau ada omongan kalau warga yang nolak ada pedagang itu semua salah, kayaknya kebalik, udah dari jaman bapak saya dulu kali kalo warga dukung pedagang," ungkap pemuda yang tergabung dalam Komunitas Seniman Pecenongan itu bersemangat.
Menjawab keresahan warga dan pedagang, Kepala Dinas Koperasi Usaha Mikro Kecil dan Menengah Perdagangan (KUMKMP) DKI Jakarta, Irwandi mengatakan jika rencana penggusuran yang hendak dilakukan Pemkot Jakarta Pusat seluruhnya dibatalkan.
Kawasan Pecenongan diungkapkannya, justru akan ditata dan dipercantik.
"Pecenongan sudah kita evaluasi dan dilaporkan kepada Gubernur, karena itu juga ikon wilayah Jakarta Pusat, jadi kemungkinan tidak kita hapuskan. Pecenongan justru akan kita tata agar lebih cantik," jelasnya kepada Warta Kota, Jumat (6/11/2015).
Guna menghindari praktik jual-beli lapak seperti dalam laporan diterimanya, kawasan Pecenongan nantinya akan dibawah pengawasan langsung Sudin KUKMP Jakarta Pusat.
"Nanti koordinator langsung ada di bawah Sudin UMKM Jakarta Pusat, dan tidak boleh ada penambahan pedagang lagi," tegasnya.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/wartakota/foto/bank/originals/kuliner-pecenongan_20151109_032236.jpg)