Koran Warta Kota

Panglima TNI Pastikan Pecat Sertu YH

Panglima TNI Jenderal Gatot Nurmantyo meminta maaf atas kasus penembakan yang dilakukan anggota Kostrad Sersan Satu YH.

Editor: Suprapto
Tribunnews.com
Ilustrasi 

WARTA KOTA, PALMERAH— Panglima TNI Jenderal Gatot Nurmantyo meminta maaf atas kasus penembakan yang dilakukan  anggota Kostrad Sersan Satu YH, hingga menewaskan seorang warga di Cibinong, Bogor, Selasa (3/11). Gatot memastikan bakal menjatuhkan sanksi pemecatan terhadap pelaku.

"Saya selaku Panglima TNI mohon maaf atas kejadian tersebut yang dilakukan oleh anggota saya dan ini harusnya tidak boleh terjadi," kata Gatot di Istana Negara Jakarta, Rabu (4/11).

Gatot menyatakan sudah memerintahkan proses hukum dijalankan di Pusat Polisi Militer (Puspom) dan sidangnya bakal digelar terbuka. "Saya akan membuat surat telegram atau ST bahwa sekarang kejadian-kejadian TNI yang berkaitan dengan masyarakat, sidang militernya terbuka," tegasnya.

Sidang militer digelar terbuka untuk umum agar masyarakat bisa melihat proses hukum dalam kasus pelanggaran yang dilakukan oleh anggota TNI. "Di situ nanti masyarakat bisa menilai bahwa persidangan terbuka, akan ada hukuman tambahan, pemecatan dan sebagainya," katanya.

Ketika ditanya sanksi apa yang akan diberikan kepada pelaku dalam kasus Cibinong, Gatot mengatakan, ia tidak pernah bicara sanksi tapi akan memastikan ada hukuman tambahan berupa pemecatan. "Sanksi hukum hanya bisa ditentukan setelah ada penyidikan dan penyidangan," katanya.

Namun Gatot memastikan, anggota TNI yang melakukan penembakan di Cibinong bakal dipecat. "Pasti (dipecat), apapun kalau menghilangkan nyawa orang lain, baik sengaja atau tidak sengaja, apalagi oleh aparat dengan menggunakan senjata," katanya. Ia menyebutkan senjata hanya bisa digunakan untuk melumpuhkan musuh.

Senggolan

Kejadian mengerikan ini berawal ketika sepeda motor yang dikendarai Marsin Jasmani ­alias Japra (40) menyerempet mobil yang dikemudikan Sersan Satu YH. Saat itu YH berada di mobil CR-V bersama seorang wanita.

Tidak terima mobilnya disenggol, YH mengejar Japra dan baru bisa dicegat di depan SPBU Nomor 34-16803. Keributan pada pukul 17.00 WIB Selasa (3/11) itu terjadi dan disaksikan banyak orang.

Tiba-tiba YH mengeluarkan senjata api dan menembak Japra sampai tumbang bersimbah darah. YH kemudian kabur dari lokasi, masuk ke jalur menuju jalan Tol Jagorawi, dan di sana dia ditangkap polisi.

"YH ditahan di Sub Detase­men Polisi Militer Kodam III/Siliwangi Cibinong," kata Kepala Dinas Penerangan TNI AD, Brigjen Kepala Dinas Penerangan TNI AD, Brigjen MS Fadhilah.

"Dalam berkas pemeriksaan yang kami peroleh, dia mengaku mengeluarkan tembakan peringatan, namun kemudian terdesak dan terjadilan penembakan mematikan itu. Betul dia menembak korban," kata Fadhilah, secara terpisah, di Jakarta, Rabu.

Mahmil

Komandan Baintel Kostrad Cilodong, Depok, Mayor (Inf) Deni Eka mengatakan, Serda YH pelaku penembakan Marsin Sarmani alias Japra terancam dipecat sebagai anggota TNI. "Sanksinya bisa pemecatan, dia juga akan diproses melalui Mahkamah Militer," ujar Deni Eka usai menghadiri pemakaman korban kemarin.

Deni Eka menjelaskan, YH sudah ditahan dan menjalani proses pemeriksaan di Sub Denpom III Bogor untuk mempertanggungjawabkan perbuatannya. "Selama ini Serda YH lebih banyak pendiam, mungkin saat itu dia lagi emosi," katanya.

Dimakamkan

Korban Japra adalah karyawan CV Bahir Electrik, perusahaan alat-alat listrik yang berkantor di Cibinong. Sore itu, Marsin hendak pulang ke rumahnya di Jalan Lingkungan Harumanis, Kelurahan Ciri­mekar, Kecamatan Cibinong, Kabupaten Bogor.

Jenazah Japra telah di­ma­kamkan, Rabu (4/11), di TPU Cirimekar, Kelurahan Ci­rimekar, Kecamatan Cibi­nong. Prosesi pemakaman dihadiri kerabat dan keluarga juga puluhan anggota TNI.

Informasi yang didapat Istri korban tidak bisa mengikuti proses memakamkan suaminya lantaran masih trauma. (Ant/wid)

Sumber: Warta Kota
  • Ikuti kami di
    KOMENTAR

    BERITA TERKINI

    © 2023 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved