Breaking News:

Warga Kampung Kramat Minta Perlindungan Komnas HAM dan Ombudsman

Warga Kampung Kramat di Jalan Pinang Dua Ujung, RT 01/05, Limo, Depok, akhirnya meminta permohonan perlindungan sekaligus mengadukan ke Komnas HAM.

Budi Sam Law Malau
Tembok beton yang menutup Jalan Pinang Dua Ujung, di Kampung Kramat, Limo, Depok. Akibat hal ini puluhan warga di kampung itu terisolasi, sejak sebulan lalu. 

WARTA KOTA, DEPOK - Warga Kampung Kramat di Jalan Pinang Dua Ujung, RT 01/05, Kelurahan Limo, Kecamatan Limo, Depok, akhirnya meminta permohonan perlindungan sekaligus mengadukan apa yang mereka alami ke Komisi Nasional Hak Asasi Manusia (Komnas HAM) RI dan Ombudsman RI.

Hal itu mereka tempuh karena wilayah mereka terisolasi sejak September lalu akibat  jalan masuk ke permukiman warga di Jalan Pinang Dua Ujung, Limo, Depok ditutup dengan tembok beton oleh perusahaan properti PT Megapolitan Developments, ditutupnya

Surat pengaduan sekaligus permohonan perlindungan diserahkan langsung oleh beberapa perwakilan warga ke Kantor Komnas HAM RI dan Kantor Ombudsman RI di Jakarta pada 26 Oktober 2015 lalu.

Dodo Raliga, warga Kampung Kramat yang mewakili puluhan warga lainnya mengatakan pengaduan sekaligus permohonan perlindungan ke Ombudsman dan Komnas HAM, karena selain terisolir, warga juga merasa mengalami intimidasi dari pihak perusahaan properti yang membangun tembok hingga menutup akses jalan warga.

"Akses jalan kami ditutup begitu saja oleh perusahaan properti itu dan mereka asal main klaim saja, kalau lahan kami adalah milik mereka. Jelas mereka sudah melanggar hak asasi kami karena main tutup jalan yang merupakan satu-satunya akses keluar masuk warga," kata Dodo, Senin (2/11/2015).

Karenanya kata Dodo, warga sepakat mengadukan hal itu ke Komnas HAM sekaligus meminta perlindungan.

"Sebab intimidasi dari mereka terus kami terima. Bahkan jauh sebelum penembokan dilakukan September lalu," kata Dodo.

Sementara, tambah Dodo, aduan dan permohonan perlindungan yang sama juga dilayangkan ke Ombudsman RI.

Sebab kata dia pihak terkait dalam hal ini dirasa oleh warga lambat dalam menuntaskannya.

"Sehingga warga tetap merasa terancam, dan wilayah di mana tembok itu berada kini jadi rawan konflik," kata Dodo.

Halaman
123
Penulis: Budi Sam Law Malau
Editor: Hertanto Soebijoto
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2020 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved