Breaking News:

Pemerintahan Jokowi

Inilah 7 Catatan Buruk Rizal Ramli untuk Pelindo II

Banyak hal yang merugikan negara dalam pengelolaan PT Pelabuhan Indonesia (Pelindo) II atas konsensi Jakarta International Center Terminal (JICT).

Editor: Suprapto
Panji Baskhara Ramadhan
Menteri Koordinator Bidang Kemaritiman, Rizal Ramli, menyambangi Pelabuhan Tanjung Priok, Jakarta Utara, Kamis (10/9/2015). Kedatangan Rizal untuk meninjau rel Kereta Api (KA) yang tidak beroperasi selama bertahun-tahun. Rel yang akan dihidupkan kembali tersebut mampu mengatasi Dwelling Time di pelabuhan. 

WARTA KOTA, PALMERAH— Menteri Koordinator Bidang Kemaritiman dan Sumber Daya, Rizal Ramli, mengungkap banyak hal yang merugikan negara dalam pengelolaan PT Pelabuhan Indonesia (Pelindo) II atas konsensi Jakarta International Center Terminal (JICT).

Setidaknya, ada tujuh poin utama yang dibeberkan oleh Rizal terkait dengan kasus yang menggelayuti di Pelindo II tersebut.

"Esensi Menko kalau di masa lalu tugasnya hanya koordinasi. Tetapi dalam kabinet ini (Kabinet Kerja) tugasnya sesuai Perpres melakukan koordinasi dan sinkronisasi kementerian atau lembaga di bawahnya," kata Rizal, saat menghadiri rapat dengan Panitia Khusus (Pansus) Pelindo II, Kamis (29/10/2015).

Lebih lanjut Rizal mengatakan, beberapa poin yang menjadi permasalahan di Pelindo II di era kepemimpinan RJ Lino dan harus dibenahi tersebut antara lain:

Pertama, memperpanjang perjanjian sebelum jangka waktu berakhir. Hal tersebut melanggar pasal 27 peraturan Menteri BUMN.

Kedua, memperpanjang perjanjian tanpa melakukan perjanjian konsesi lebih dahulu dengan otoritas pelabuhan utama tanjung Priok sebagai regulator. Kebijakan itu dinilai melanggar UU No 17/2008 tentang Pelayaran.

Ketiga, tidak mematuhi surat kepala kantor otoritas pelabuhan utama tanjung Priok tentang konsesi.

Keempat, tidak mematuhi surat dewan komisaris PT Pelindo II.

Kelima, melanggar prinsip transparansi dengan tidak melalalui tender.

Keenam, melanggar keputusan komisaris PT Pelindo II mengenai perlunya konsesi dan pendapat Jamdatun yang tidak tepat.

Ketujuh, perpanjangan kontrak yang merugikan negara. Harga jual lebih murah dari tahun 1999, di mana up front payment US$ 215 juta plus US$ US$ 2 juta. Sedangkan tahun 2015 hanya US$ 215 juta.

Rieke Diah Pitaloka, Ketua Panitia Khusus Pelindo II mengatakan, untuk mengurai persoalan di Pelindo II ini pihaknya akan segera memanggil Komisi Pemberantasan Korupsi. (Handoyo)

Sumber: Kontan
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved